Tampilkan postingan dengan label Keperawatan Medikal Bedah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keperawatan Medikal Bedah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Juli 2012

Perbedaan otak kanan dan otak kiri

Perbedaan otak kanan dan otak kiri sebagai berikut :
Otak Kiri :
1.    merupakan otak logika/ berfikir logis seperti matematika, fisika, hukum, serta alam.
2.    berfikir rasional serta melacak seperti eksperimental dan accounting.
3.    otak yang berfikir secara teratur seperti dalam hal manajemen.
4.    puntuation, yaitu sebagai pengendali bahasa.
5.    menulus dan membaca merupakan kegiatan yang digerakkan oleh otak kiri.
6.    otak yang berhubungan dengan auditory, yaitu otak yang berkaitan dengan mendengarkan seperti khutbah atau melihat seperti menonton.
7.    berpikir pada hal-hal yang detail seperti pada hal kausalitas/ sebab-akibat.
8.    berfikir pada kenyataan-kenyataan.
9.    phoenetics simbol yang mendeteksi nada-nada.
10.    grammar yang berfikir pada ranah linguistic
11.    captain sebagai otak yang menginstrukdikan.

Otak Kanan
1.    otak yang berfikir acak
2.    tidak teratur
3.    indrawi seperti perasaan ibu dan anak
4.    khayalan
5.    agama yang di wujudkan dalam do’a
6.    otak spontan
7.    non verbal
8.    pengendali emosi
9.    merupakan pengatur kesadaran
10.    ekspression
11.    pengatur pola musik
12.    seni suara
13.    visual
14.    kreativitas
15.    crew yang merampungkan tugas-tugas captain.

Dari perbedaan tersebut kita bisa membedakan kita termasuk dominan yang kanan atau yang kiri. Orang yang cenderung domonan otak kiri akan berperilaku disiplin, berfikir logis serta serius, sedangkan orang yang cenderung dominan otak kanan dai berperilaku acak seenaknya sendiri, sulit diatur.
Selama ini guru-guru indonesia khususnya menganggap bahwa orang yang dominan otak kiri yang disebut anak cerdas, karena tingkah lakunya sopan dan rapi. Sedangkan anak yang cenderung ke otak kiri biasanya disebut sebagai anak nakal.
Orang yang bisa menyeimbangkan antara otak kanan dan kiri akan menjadi orang yang sempurna karena bisa berpikir logis serta bisa mememory jangka panjang.
Otak merupakan pusat kecerdasan kita, oleh karena itu kita harus bisa mengusahakan keamanan otak sejak kecil. Sebab dimasa-masa itulah otak berkembang, yaitu masa prenatal hingga anak berumur 12 tahun.

TAHAP PERKEMBANGAN OTAK

Proses tumbuh kembang otak sangat kompleks dan melalui beberapa tahapan, yaitu penambahan sel-sel saraf (poliferasi), perpindahan sel saraf (migrasi), perubahan sel saraf (diferensiasi), pembentukan jalinan saraf satu dengan yang lainnya (si- naps), dan pembentukan selubung saraf (mielinasi).

1.    Poliferasi
Pada awalnya, bentuk sel saraf (neuron) masih sederhana. Kemudian, mengalami pembelahan sehingga menjadi banyak. Inilah yang disebut proses penambahan (poliferasi) sel saraf. Proses proliferasi ini berlangsung pada usia kehamilan sekitar 4-24 minggu. Proses poliferasi sel saraf selesai/berhenti pada waktu bayi lahir.

2.    Migrasi
Setelah proses poliferasi, sel saraf akan mengalami migrasi atau berpindah ke tempatnya masing-masing. Ada yang menempati wilayah depan, belakang, samping, dan bagian atas otak. Waktu terjadi perpindahannya berbeda-beda sesuai program yang sudah dibentuk secara genetik dan alamiah.Setelah sampai di “rumahnya” masing-masing, sel-sel saraf lalu berkembang. Setiap “rumah” memiliki kurva pertumbuhan sendiri-sendiri. Percepatan pertumbuhannya juga berbeda-beda. Tak heran kalau kemampuan otak setiap anak juga berbeda. Proses migrasi sebenarnya berlangsung sejak kehamilan 16 minggu sampai akhir bulan ke-6. Proses migrasi ini terjadi secara bergelombang. Artinya, sel saraf yang bermigrasi lebih awal akan menempati lapisan dalam dan yang bermigrasi berikutnya menempati lapisan luar (korteks serebri).
 
3.     Diferensiasi
Pada akhir bulan ke-6 kehamilan, lempeng korteks sudah memiliki komponen sel saraf yang lengkap. Seiring dengan itu juga sudah tampak adanya diferensiasi. Yaitu perubahan bentuk, komposisi dan fungsi sel saraf menjadi enam lapis seperti pada orang dewasa. Sel saraf kemudian berubah menjadi sel neuron yang bercabang-cabang dan juga berubah menjadi sel penunjang (sel glia). Sel penunjang ini tumbuh banyak setelah sel saraf menjadi matang dan besar. Fungsi sel glia juga mengatur kehidupan individu sehari-hari.
 
4.    Sinaps
Selanjutnya terjadi pembentukan jalinan saraf satu dengan yang lainnya (sinaps). Setelah menjalani mielinisasi (proses pematangan selubung saraf), sinaps makin bertambah banyak.
 
5.     Mielinisasi
Proses pematangan selubung saraf (myelin) yang disebut mielinisasi masih terus berkembang. Proses ini terjadi terutama beberapa saat sebelum terjadi kehamilan. Pematangan selubung saraf mencapai puncaknya ketika bayi berumur satu tahun. Setelah bayi lahir terjadi pertumbuhan serabut saraf. Lalu, terjadi peningkatan jumlah sel glia yang luar biasa serta proses mielinisasi.Semua proses tersebut, selain berlangsung alamiah, juga dipengaruhi oleh stimulasi dan nutrisi. Nah, di sinilah pentingnya peranan orang tua pada masa prenatal (kehamilan) dan pascanatal (setelah kelahiran) dalam perkembangan otak anak. Karena itu, jika ibu atau ayah menghendaki si kecil mempunyai otak yang berkualitas, maka perlu memahami tahapan perkembangan otak anak meskipun secara garis besar saja. Persiapan agar anak memiliki otak yang berkualitas harus dimulai sebelum kehamilan,selama masa hamil, dan setelah bayi lahir sampai proses perkembangan otak itu selesai.

Fraktur Tengkorak

a.      Definisi
Fraktur tengkorak adalah rusaknya kontinuitas tulang tengkorak disebabkan oleh trauma. Hal ini dapat terjadi dengan atau tanpa kerusakan otak. Adanya fraktur tengkorak biasanya dapat menimbulkan dampak tekanan yang kuat. Fraktur tengkorak diklasifikasikan terbuka atau tertutup. Bila fraktur terbuka maka dura rusak, dan fraktur tertutup keadaan dura tidak rusak  (Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, vol. 3, 1996 : 2210)

b.      Etiologi
Salahsatu penyebab fraktur tengkorak bisa  disebabkan oleh trauma.

c.       Klasifikasi
Menurut Iskandar Japardi (1999:6), Klasifikasi fraktur tulang tengkorak dapat dilakukan berdasarkan :
1)      Gambaran  fraktur, dibedakan atas :
a)      Linier
Fraktur linier merupakan garis fraktur tunggal pada tengkorak yang meliputi seluruh ketebalan tulang. Pada pemeriksaan radiologi akan terlihat sebagai garis radiolusen.
b)      Diastase
Fraktur yang terjadi pada sutura, sehingga terjadi pemisahan sutura cranial. Fraktur ini sering terjadi pada anak dibawah usia 3 tahun.
c)      Comminuted
Fraktur dengan dua atau lebih fragmen fraktur.

d)     Depressed
            Fraktur depressed diartikan sebagai fraktur dengan tabula eksterna pada satu atau lebih tepi fraktur terletak dibawah level anatomic normal dari tabula interna tulang tengkorak sekitarnya yang masih utuh.
            Jenis fraktur ini terjadi jika energy benturan relative besar terhadap area benturan yang relative kecil. Misalnya benturan oleh martil, kayu, batu, pipa besi, dll. Pada gambaran radiologis akan terlihat suatu area ‘ double density’ (lebih radio opaque) karena adanya bagian-bagian tulang yang tumpang tindih. Menurut Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, vol. 3, 1996 : 2358 fraktur depresi adalah fraktur dengan fragmen patahan terdorong kedalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan wajah).
2)      Lokasi Anatomis, dibedakan atas :
a)      Konveksitas (kubah tengkorak)
yaitu fraktur yang terjadi pada tulang-tulang yang membentuk konveksitas (kubah) tengkorak seperti os.Frontalis, os. Temporalis, os. Parietalis, dan os. Occipitalis.


b)      Basis crania (dasar tengkorak)
yaitu fraktur yang terjadi pada tulang yang membentuk dasar tengkorak. Dasar tengkorak terbagi atas tiga bagian yaitu :
(1)   fossa Anterior
(2)   fosa Media
(3)   fosa Posterior
fraktur pada masing-masing fosa akan memberikan manifestasi yang berbeda.
3)      keadaan luka, dibedakan atas :
a)      terbuka
b)      tertutup
Luas lapisan tipe fraktur ditentukan  oleh beberapa hal, pertama ditentukan oleh besarnya energy yang membentur kepala (energy kinetic objek), kedua ditentukan oleh Arah benturan, ketiga ditentukan oleh bentuk tiga dimensi (geometris) objek yang membentur, keempat ditentukan oleh lokasi anatomis tulang tengkorak tempat benturan terjadi, dan kelima ditentukan oleh perbandingan antara besar energi dan luasnya daerah benturan, semakin besar nilai perbandingan ini akan cenderung menyebabkan fraktur depressed.
Pendapat ini didukung oleh beberapa hal antara lain :
a.       Fraktur pada tabula interna biasanya lebih luas dari pada fraktur tabula eksterna diatasnya
b.      Sering ditemukan adanya fraktur tabula interna walaupun tabula eksterna utuh
c.       Kemungkinan hal ini juga didukung oleh pengamatan banyaknya kasus epidural hematoma akibat laserasi arteri meningea media, walaupun pada pemeriksaan awal dengan radiologi dan gambaran intra operatif tidak tampak adanya fraktur pada tabula eksterna, tetapi tampak garis fraktur pada tabula interna.

d.      Tanda dan gejala
Menurut Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare (KMB vol. 3, 1996 : 2210) gejala-gejala yang muncul pada cedera local bergantung pada jumlah dan distribusi cedera otak. Nyeri yang menetap atau setempat, biasanya menunjukan adanya fraktur.
Patomekanisme terjadinya gejala nyeri diatas antara lain: nyeri adalah sensasi subjektif rasa tidak nyaman yang biasanya berkaitan dengan kerusakan jaringan actual atau potensial. Nyeri dapat bersifat protektif, yaitu dengan menyebabkan individu menjauhi suatu rangsangan yang berbahaya, atau tidak memiliki fungsi, seperti pada nyeri kronik. Nyeri dirasakan apabila reseptor-reseptor nyeri spesifik teraktivasi. Nyeri dijelaskan secara subjektif dan objektif berdasarkan lama (durasi), kecepatan sensasi, dan letak.
Fraktur kubah cranial menyebabkan bengkak pada sekitar fraktur, dan karena ini diagnosis yang akurat tidak dapat ditetapkan tanpa pemeriksaan dengan sinar x.
Fraktur dasar tengkorak cenderung melintas sinus paranasal pada tulang frontal atau lokasi tengah telinga tulang temporal, juga sering menimbulkan hemoragi dari hidung, faring, atau telinga dan darah terlihat dibawah konjungtiva. Suatu area ekimosis, atau memar mungkin terlihat diatas mastoid (tanda battle). Fraktur dasar tengkorak dicurigai ketika CSS keuar dari telinga (othorea cairan serebrospinal) dan hidung (rhinorea serebrospinal). Keluarnya cairan CSS merupakan masalah yang serius karena dapat menyebabkan infeksi seperti meningitis, jika organisme masuk kedalam isi cranial melalui hidung, telinga atau sinus melalui robekan pada dura.
Laserasi atau kontusio ditunjukan oleh cairan spinal berdarah.

f.       Proses Penyembuhan Luka
Tahap-Tahap Penyembuhan Luka terdiri dari sebagai berikut:
1)      Fase Inflamasi
Fase inflamasi adalah adanya respons vaskuler dan seluler yang terjadi akibat jaringan terpotong atau mengalami cedera. Vasokontriksi pembuluh terjadi dan bekuan fibrinoplatelet terbentuk dalam upaya untuk mengontrol perdarahan. Reaksi ini berlangsung dari 5-10 menit dan diikuti oleh vasodilatasi venula. Mikrosirkulasi kehilangan kemampuan vasokontriksinya karena noreepinefrin dirusak oleh enzim intraseluler. Juga, histamine dilepaskan, yang meningkatkan permeabilitas kapiler.
Ketika mikrosirkulasi mengalami kerusakan, elemen darah seperti antibody, plasma protein, elektrolit, komplemen, dan air menembus spasium vascular selama 2 sampai 3 hari, menyebabkan edema, teraba hangat, kemerahan dan nyeri. Netrofil adalah leukosit pertama yang bergerak kedalam jaringan yang rusak. Monosit yang berubah menjadi makrofag menelan debris dan memindahkanya dari area tersebut. Antigen-antibodi juga timbul. Sel-sel basal pada pinggir luka mengalami mitosis, dan menghasilkan sel-sel anak yang bermigrasi.
Dengan aktivitas ini, enzim protelitik disekresikan dan menghancurkan bagian dasar bekuan darah. Celah antara kedua sisi luka secara progresif terisi, dan sisinya pada akhirnya saling bertemu dalam 24 sampai 48 jam. Pada saat ini migrasi sel ditingkatkan oleh aktivitas sumsum tulang hiperplastik.
2)      Fase proliferative
Pada fase ini, fibroblast memperbanyak diri dan membentuk jaring-jaring untuk sel-sel yang bermigrasi. Sel-sel epitel membentuk kuncup pada pinggiran luka; kuncup ini berkembang menjadi kapiler, yang merupakan sumber nutrisi bagi jaringan granulasi yang baru.
Kolagen adalah komponen utama dari jaringan ikat yang digantikan. Fibroblast melakukan sintesis kolagen dan mukopolisakarida. Dalam periode 2 sampai 4 minggu, rantai asam amino membentuk serat-serat dengan panjang dan diameter yang meningkat; serat-serat ini menjadi kumpulan bundle dengan pola yang tersusun baik. Sintesis kolagen menyebabkan kapiler menurun jumlahnya. Selain itu sintesis kolagen menurun dalam upaya untuk menyeimbangkan jumlah kolagen yang rusak. Sintesis dan lisis seperti ini mengakibatkan peningkatan kekuatan.
Setelah 2 minggu luka hanya memiliki 3% sampai 5% dari kekuatan kulit aslinya. Sampai akhir bulan, hanya 35% sampai 59% kekuatan luka tercapai. Tidak akan lebih dari 70% sampai 80% kekuatan dicapai kembali. Banyak vitamin terutama vitamin C, membantu dalam proses metabolism yang terlibat dalam penyembuhan luka.

3)      Fase maturasi
Pada fase maturasi, setelah tiga minggu setelah cedera, fibroblast mulai meninggalkan luka. Jaringan parut tampak besar, sampai fibril kolagen menyusun kedalam posisi yang lebih padat. Hal ini sejalan dengan dehidrasi, mengurangi jaringan parut tetapi meningkatkan kekuatannya. Maturasi jaringan seperti ini terus berlanjut dan mencapai kekuatan maksimun dalam 10 atau 12 minggu, tetapi tidak pernah mencapai kekuatan asalnya dari jaringan sebelum luka.

Price-Wilson, S, L. 2002. Patofisiologi volume 1. Terjemahan dr. Brahm U et al. Jakarta:EGC.
Price-Wilson, S, L. 2002. Patofisiologi volume 2. Terjemahan dr. Brahm U et al. Jakarta:EGC.
Smeltzer-Brenda, S, G. Bare. 1997. Keperawatan Medikal-Bedah volume 3. Terjemahan dr. Andry Hartono et al. Jakarta:EGC.
Smeltzer-Brenda, S, G. Bare. 1997. Keperawatan Medikal-Bedah volume 2. Terjemahan dr. Andry Hartono et al. Jakarta:EGC.
Tarwoto et. All.  2007. Keperawatan Medikal Bedah – Gangguan system Persarafan. Jakarta : CV Agung Seto.

Anatomi Jaringan Lunak Kepala & Tulang Tengkorak

a)      Anatomi Jaringan Lunak Kepala
Jaringan lunak kepala terdiri dari lima lapisan (S-C-A-L-P) yaitu : Skin (S : Kulit), Connective tissue , Aponeurosis Galea (A : fascia) lapisan ini merupakan lapisan terkuat, berupa fascia yang melekat pada tiga otot yaitu ke anterior – m. frontalis , Ke posterior – m. occipitalis, Ke lateral – m. temporoparietalis. Loose areolar tissue (L: jaringan areolar longgar), lapisan ini mengandung vena emissary yang menghubungkan SCALP, vena diploica, dan sinus vena intracranial (mis. Sinus sagitalis superior). Jika terjadi infeksi pada lapisan ini, akan dengan mudah menyebar ke intracranial. Dan Perikranium (P: periosteum), merupakan periosteum yang melapisi tulang tengkorak, melekat erat terutama pada sutura karena melalui sutura ini periosteum akan langsung berhubungan dengan endostium (yang melapisi permukaan dalam tulang tengkorak).

b)     Anatomi tulang Tengkorak
Otak tertutup oleh cranium, tulang-tulang penyusun cranium disebut tengkorak yang berfungsi melindungi organ-organ vital. Ada Sembilan tulang yang membentuk cranium yaitu tulang frontal, oksipital, sphenoid, etmoid, temporal dua buah, parietal dua buah. Tulang-tulang tengkorak dihubungkan oleh sutura. Sedangkan tulang vertebra tersusun atas 34 buah tulang yang melindungi medulla spinalis yaitu 7 vertebra servikal, 5 vertebra lumbal, 12 vertebra torakal, 5 vertebra sakral, 5 vertebra koksigeal.

Rabu, 18 Juli 2012

Konsep Penyakit Malformasi Anorektal ( MAR )

Malformasi anorektal (anus imperforata) adalah malformasi kongenital dimana rectum tidak mempunyai lubang keluar. Anus tidak ada, abnormal atau ektopik. Kelainan anorektal umum pada laki-laki dan perempuan memperlihatkan hubungan kelainan anorektal rendah dan tinggi diantara usus, muskulus levator ani, kulit, uretra dan vagina(Donna L. Wong, 520 : 2003).
Imperforata anus adalah tidak komplitnya perkembangan embrionik pada distal usus (anus) atau tertutupnya anus secara abnormal. (Suryadi 2006 )
Malformasi anorektal adalah tidak terjadinya perforasi membran yang memisahkan bagian entoderm mengakibatkan pembentukan lubang anus yang tidak semputna. Anus tampat tidak rata atau sedikit cekung ke dalam atau kadang terbentuk anus namun tidak berhubungan langsung dengan rectum (purwanto,2001 ).
Pada malformasi anorektal Anus tampat tidak rata atau sedikit cekung ke dalam atau kadang terbentuk anus namun tidak berhubungan langsung dengan rectum (purwanto,2001 RSCM).


Kesimpulan dari penulis tentang pengertian di atas adalah malformasi anorektal merupakan penyakit dimana rektum tidak mempunyai lubang keluar atau tertutupnya anus secara abnorma
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Malformasi Anorektal adalah suatu kelainan kongenital dimana rekrum tidak mempunyai lubang anus sehingga dapat menyebabkan kesulitan dalam BAB yang dapat menyebabkan konstipasi, ketidaknyamanan, dan  Ketika rectum tidak berhubungan dengan anus tetapi terdapat fistula, feses akan keluar melalui fistula tersebut sebagai pengganti anus sehingga akan menyebabkan infeksi.
1.      Etiologi
(Mansjoer, 2000).
a.       Secara pasti belum diketahui
b.      Merupakan anomali gastro intestinal genitourinari
c.       Malformasi Anus
Gangguan pertumbuhan dan fusi serta pembentukan anus dari tonjolan embrionik.
d.      Malformasi Rektum
Gangguan pemisahan kloaka menjadi rektum dan sinus urogenital serta gangguanperkembangan septum anorektal yang memisahkannya (terjadi fistel).
2.    Anatomi Fisiologi Sistem Pencernaan
                                    Saluran pencernaan terdiri dari mulut, eshopaghus, lambung, usus halus, usus besar dan anus. Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang letak diluar saluran pencernaan, yaitu pancreas, hati dan kandung empedu.(sylvia A.prince & lorraine M. Wilson, 2005)
a.    Mulut
              Mulut merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan. Bagian dalam dari mulut dilapisi oleh selaput lendir. Pengecapan diarasakan oleh organ perasa yang terdapat di permukaan lidah. Pengecapan terdiri dari manis, asam, asin, dan pahit. Makanan dipotong - potong oleh gigi depan (incisivus) dan dikunyah oleh gigi belakang (molar, geraham, menjadi bagian-bagian kecil dari makan tersebut dengan enzim - enzim pencernaan dan mulai mencernanya, ludah juga mengandung antibodi dan enzim, yang memecah protein dan menyerang bakteri secara langsung, Proses menelan dimulai secara sadar dan berlanjut secara otomatis.

b.    Esopaghus
Esophagus adalah organ pencernaan yang menghubungkan rongga mulut dengan lambung, yang letaknya dibelakang trakhea yang berukuran panjang  20-25 cm dan lebar 2 cm.
c.    Lambung
Lambung merupakan organ otot berongga.Makanan masuk kedalam lambung dari kerongkongan melalui otot bebentuk cincin (sfingter), yang bisa membukadan menutup. Dalam keadaan normal, sfingter mengahalangi masuknya kembali isi lambung ke dalam kerongkongan. Lapisan-lapisan lambung antara lain :
1) Selubung serosa yang terletak di luar, dibentuk oleh pritonium
2) Lapisan otot polos longitudinal dan otot polos sirkuler
3) Lapisan sub mukosa
4) Lapisan mukosa
Lambung berfungsi sebagai gudang makan, yang berkontraksi secara ritmik untuk mencampur makan dengan enzim-enzim. Sel-sel yang melapisilambung menghasilkan 3 zat penting :
1) Lendir
2) Asam klorida
3) Prekursor pepsin (enzim yang memecahkan protein)

d.      Usus Halus
              Lambung melepaskan makanan ke dalam usus dua belas jari (duodenum), yang merupakan bagian pertama usus halus. Makanan masuk ke dalam duodenum malalui sfingter pylorus dalam jumlah yang bisa dicerna oleh usus halus. Jika penuh, duodenum akan mengirimkan sinyal kepada lambung untuk berhenti mengalirkan makan. Dinding usus kaya akan pembuluh darah yang mengangkut zat-zat yang diserap ke hati melalui vena porta. Dinding usus melepaskan lendir (yang melumasi  usus) dan air (yang membantumelarutkan pecahan-pecahan makan yang dicerna). Dinding usus juga melepaskan sejumlah kecil enzim yang mencerna protein, gula dan lemak.

e.    Pankreas
              Pankreas merupakan suatu organ yang terdiri dari 2 jaringan dasar yang berfungsi :
1) Menghasilkan enzim-enzim pencernaan
2) Menghasilkan hormon
              Pankreas melapaskan enzim pencernaan kedalam duodenum dan melapaskanhormon kedalam darah. Enzim yang dilepaskan oleh pankreas akan mencerna protein, karbohidrat dan lemak. Enzim proteolitik memecah protein kedalam bentuk yang dapat digunakan oleh tubuh dan dilepaskan dalam bentuk inaktif. Enzim ini hanya akan aktif jika telah mencapai saluran pencernaan. Pankreas juga melepaskan sejumlah besar sodium bikarbonat, yang berfungsi melindingi duodenum dengan cara menetralkan asam lambung.

f.     Hati
Hati merupakan sebuah  organ yang besar dan memiliki berbagai fungsi, beberapa diantaranya berhubungan dengan pencernaan. Zat-zat gizi dari makanan diserap ke dalam dinding usus yang kaya akan pembuluh darah yang kecil-kecil (kapiler). Kapiler ini mengalirkan darah kedalam vena yang berhubungan dengan vena yang lebih besar dan pada akhirnya masuk ke dalam hati.Dimana darah yang masuk diolah. Hati melakukan proses tersebut dengan kecepatan tinggi, setelah darah diperkaya dengan zat-zat gizi, darah dialirkan ke dalam sirkulasi umum.

g.    Kantung Empedu
Empedu memilki 2 fungsi penting membantu pencernaan dan penyerapan lemak, Berperan dalam pembuangan limbah tertentu dari tubuh, terutama hemoglobin (Hb) yang berasal dari penghancuran sel darah merah dan kelebihan kolesterol.

h.    Usus Besar
Usus besar terdiri dari :
1) Kolon asenden (kanan)
2) Kolon transversum
3) Kolon desenden (kiri)
4) Kolon sigmoid (berhubungan dengan rectum)
     Banyak bakteri dalam usus besar berfungsi mencerna beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri di dalam usus besar juga membuat zat-zat penting, seperti vitamin K. Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus. Beberapa penyakit serta antibiotic bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri di dalam usus besaar. Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air, dan terjadilah diare.



i.      Rektum dan Anus (Suryadi 2006)
              Rektum adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Biasanya rektum ini kosong karena feses disimpan ditempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika kolon desendens penuh feses masuk ke dalam rectum, maka timbul keinginan untuk buang air besar (BAB). Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan limbah keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lainnya dari usus. Suatu cincin berotot (sfingter ani) menjaga anus tetap tertutup.

penyebab yang sebenarnya dari malformasi anorektal sejauh ini belum diketahui, namun ada sumber mengatakan kelainan bawaan anus disebabkan oleh gangguan pertumbuhan, fusi dan pembentukan anus dari tonjolan embriogenik

1.      Patofisiologi Malformasi Anorektal
                 Anus dan rektum berasal dari embriologi yang di sebut kloaka. Pertumbuhan ke dalam sebelah lateral bangunan ini membentuk septum urorektum yang memisahkan rektum di sebelah dorsal dari saluran kencing di sebelah vintal.Kedua sistem ( rectum dan saluran kencing ) menjadi terpisah sempurna pada umur kandungan minggu ke 7,pada saat yang sama, bagian urogenital yang berasal  dari kloaka sudah mempunyai  lubang eksternal,sedangkan bagian anus tertutup oleh membran yang baru terbuka pada kehamilan minggu ke 8. Malformasi anorektal terjadi akibat kegagalan penurunan septum anorektal pada kehidupan embrional. Kelainan dalam perkembangan proses-proses ini pada berbagai  stase menimbulkan suatu spektrum anomaly,kebanyakan mengenai saluran usus bawah  dan bangunan genitourinaria dan bagian rektum kloaka menumbulkan fistula.
                 Malformasi anorektal terjadi akibat kegagalan penurunan septum anorektal pada kehidupan embrional. Menifestasi klinis di akibatkan adanya obtruksi dan adanya fistula. Obtruksi ini mengakibatkan distensi abdomen, sekuestrasi cairan, muntah dengan segala akibatnya. Apabila urin mengalir melalui fistel menuju rektum, maka urin akan diabsorsi sehingga terjadi asidosis hipperchloremia, sebaliknya feses mengalir ke arah truktus urinarius menyebabkan infeksi berulang. Keadaan ini biasanya akan terbentuk fistula antara rektum dengan organ sekitarnya. Pada wanita 90 % dengan fistula ke vagina(revtovagina) atau perineum (rektovestibular).(Brehman, 2000)