Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Askep. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Askep. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Juli 2012

Asuhan Keperawatan TBc Paru pada Anak

Asuhan Keperawatan TBc Paru pada Anak
Oleh : Jubaedah (C.I. RSHS)

I.                   Pengertian
Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh mycobakterium tuberculosis tipe Humanus dan tipe Bovis pada jaringan paru

II.                Sifat Basil TBc
Basil gram positif, batang tahan asam, dapat hidup dalam keadaan kering, mati pada suhu 60° C dalam waktu 15 – 20 menit dan mati oleh cahaya matahari.
Protein basil TBc menyebabkan nekrosis jaringan sedangkan lemaknya menyebabkan sifat tahan asam mengakibatkan terjadi fibrosis dan terbentuknya sel epiteloid dan tuberkel.

III.             Penularan :
-          melalui udara , sebagian besar fokus primer TBc terdapat dalam paru
-          melalui per orang sakit (minum susu yang mengandung m.. Bovis)
-          kontak langsung lewat luka atau lecet pada kulit

IV.             Patofisiologi
Basil TBc ® paru melalui udara ® kuman akan bermultiplikasi ® merangsang eksudasi poli morfonuklear dan proliferasi sel epitel ® terbentuk fokus primer ® basil TBc menyebar dengan cepat ® melalui saluran getah bening ® menuju kelenjar regional ® reaksi eksudasi ® membentuk kompleks primer (terjadi 2 – 10 minggu) setelah terkena infeksi ® bersamaan dengan terbentuknya kompleks primer terjadi hipersensitifikasi terhadap tuberkulo protein ® terlihat dari tes tuberkulin ® terjadi daerah subpleura dan banyak terjadi dilapangan bawah paru dari pada di lapangan atas.

V.                Gambaran Klinik
Pada anak ® tidak khas dan sukar diketahui ® karena penyakit mulainya perlahan-lahan ® TBc pada anak kadang tanpa keluhan.

Adapun yang sering timbul gejala pada TBc paru adalah :
1.      Panas badan, sering dijumpai pada awal penyakit. Panas tidak begitu tini, terjadi selama ± 2 – 3 minggu.
2.      Pada keadaan berat disertai batuk-batuk, sesak napas, sianosis.
3.      Nafsu makan anak berkurang
4.      Berat badan anak menurun atau tidak naik
5.      Berkeringat malam hari
6.      Kelainan kelenjar etah bening di leher
7.      Adanya konjungtivitis phlyctaenularis
 Pendekatan yang dilakukan untuk menegakkan diagnosa TBc paru pada anak :
1.      Anamnesa ® ditanyakan gejala dan kontak dengan penderita TBc orang dewasa.
2.      Pemeriksaan fisik ® diperhatikan adanya kelainan yang dapat menyertai infeksi TBc :
·        gizi buruk
·        pembesaran kelenjar getah bening ® leher
·        kelainan pada mata ® konjungtivitis phlyctaenularis
·        kelainan pada kulit ® eritema nodosum
·        kelainan pada tulang ® spondilitis, dll.
3.      Tes Tuberkulin (PPD)
PPD 5 TU ® 0,1 ml (I.C) ® daerah volair lengan, dibaca hasilnya 48 – 72 jam. Apabila indurasi :
* 0 – 5 mm             ® negatif
* 5 – 9 mm             ® meragukan
* 10 - > 10 mm       ® positif
Bila PPD (+) dapat diartikan :
·        pernah mendapat infeksi basil TBc ® tetapi tidak menjadi sakit
·        sedang sakit TBc
·        TBc yang telah sembuh
·        Pernah TBc
Bila PPD (-) dapat diartikan :
·        anak belum pernah kena infeksi ® tidak adanya sensitifitas
·        ada vaskularisasi lokal yang berlebihan ® waktu demam
·        dosis yang diberikan kurang
·        kekuatan PPD kurang ® karena cahaya atau panas
·        anak KEP atau TBc berat, morbili, varicella, pertusis, difteri, tifoid, obat kortikosteroid, vaksin polio.
4.      Toraks photo didapatkan antara lain :
·        adanya pembesaran kelenjar di daerah mediastinum
·        tampak cairan di ronga pleura
·        tampak fokus primer berupa lesi yang bulat
·        tampak paru-paru kolaps / emfisema
·        tampak gambaran milier
·        tampak gambaran pneumonia
5.      Pemeriksaan laboratorium
·        didapatkan BTA (+)
·        periksakan bilas lambung untuk bayi dan anak
·        periksakan sputum untuk anak yang lebih besar
·        periksakan LED
VI.             Klasifikasi TBc Paru (Kenzig, 1990) :
0 ® tidak TBc : tidak ada infeksi, tidak ada kontak, PPD (-)
I ® kontak Tbc : tidak ada tanda infeksi, kontak (+), PPD (-)
II ® infeksi TBc tanpa penyakit : PPD (+), tidak ada gejala, bakteriologis (-), rontgen foto normal
III ® TBc aktif bila kontak (+) : PPD (+), foto paru ada gambaran TBc, anamnesis pemeriksaan fisik mencurigakan TBc / tanpa BTA dan kultur positif.
IV ® TBc tidak aktif bila kontak (-), PPD (+)
V ® suspek TBc.
VII.          Terapi TBc Paru
1.      Diberikan triple drug yaitu : INH, PAS, Streptomycin ® 15 – 18 bulan ® sangat efektif
2.      Rifampisin dan Pyrazinamid INH
3.      Sistem DOTS (Directly Observed Treatment, Short – Course)
VIII.       Komplikasi
1.      Radang selaput otak
2.      TBc tulang, Tbc kulit, Pleuritis exudativa ® 6 – 12 bulan setelah sakit
IX.             Perbedaan TBc anak dengan TBc dewasa
TBc anak :
TBc orang dewasa :
1. Lokalisasi tidap pada satu tempat
1. lokalisasi pada satu tempat
2. Penyebaran limphogen
2. tidak ada penyebaran limphogen
3. ada pembesaran kelenjar getah bening
3. tidak ada pembesaran kelenjar getah
    bening
4. bisa terjadi TBc milier
4. tidak terjadi TBc milier



X.                Proses Keperawatan
Pengkajian :
1.      Identitas klien dan identitas orang tua
2.      Tanda-tanda vital : respirasi, nadi, tekanan darah, suhu tubuh
3.      Faktor-faktor yang mempengaruhi fungsi respirasi dan sirkulasi. Fungsi respirasi  dipengaruhi : emosi, exercise, kesehatan, lingkungan.
Fungsi sirkulasi dipengaruhi : emosi, exercise, lingkungan, posisi tubuh
4.      Kondisi thoraks, paru
5.      Tes diagnostik : pemeriksaan kultur, sputum, darah, Rontgen foto
6.      Riwayat penyakit dahulu / riwayat kesehatan keluarga

XI.             Diagnosa Keperawatan
1.      Tidak efekif bersihan jalan nafas berhubungan dengan :
·        penumpukan sekret / sekret kental
·        penyakit paru / infeksi paru
2.      Tidak efektif pola nafas b. d. :
·        obstruksi jalan nafas akibat suatu kondisi paru
·        ekspansi dada yang tidak adekuat akibat nyeri
3.      Nutrisi kurang dari kebutuhan b.d. anoreksia / tidak ada nafsu makan
4.      Resiko terjadi penularan b.d. :
·        kontak dengan pasien yang lain
·        droplet infection

Tujuan diagnosa ke-1 dan 2 : jalan nafas efektif
Intervensi diagnosa 1 dan 2 :
1.      Berikan posisi yang ekstensi
2.      Latihan nafas dalam
3.      Latihan batuk efektif
4.      Latihan meniup (Pursedlif breathing)
5.      Latih pasien untuk bernafas melalui hidung dan mengembangkan perut ® tahan ® hembuskan melalui perut dan mengempiskan perut

Tujuan Diagnosa ke 3 : nutrisi terpenuhi
Intervensi :
1.      Bujuk anak agar mau makan
2.      Beri makan porsi kecil tapi sering
3.      Timbang BB pasien setiap hari
4.      Berikan menu yang hangat dan menarik

Tujuan diagnosa ke-4 : penularan tidak terjadi
Intervensi :
1.      Lakukan penyuluhan kesehatan terhadap keluarga untuk mencegah penularan
2.      Lakukan desinfeksi alat-alat makan pasien
3.      Lakukan tehnik aseptik sebelum / sesudah perawatan pasien.

Sabtu, 21 Juli 2012

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. TA DENGAN DIAGNOSA DIABETES MELITUS DI RUANG MELATI RUMAH SAKIT PUSAT DR.HASAN SADIKIN BANDUNG

Diabetes Melitus (DM) merupakan sekelompk kelaianan heterogen yang ditandai oleh kelainan kadar glukosa dalam darah /hiperglikemi (Suzzane C. Smeltzer, 1996 : 1220)

Diabetes Melitus (DM) adalah keadaan hiperglikemi kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, neurologis dan pembuluh darah disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron. (Arif Mansjoer, 1999 : 580), Untuk Selengkapnya Klik Disini

CONTOH ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

Pengkajian tanggal                  : 24 September 2011
I. Data Umum
1.      Nama KK                       : Tn. D
2.      Usia                                : 49 tahun
3.      Pendidikan                     :  Perguruan Tinggi
4.      Pekerjaan                        :  PNS
5.      Alamat                           :  Jl. Kopo Gg. Pabrik Kulit Selatan RT 05/01 Kel.
                                       SukaAsih Kec. Bojongloa Kaler – Bandung 

Untuk Selengkapnya, Klik Disini

Sabtu, 30 Juni 2012

Konsep Dasar Penyakit Ensefalitis


 
1. Konsep Dasar Penyakit Ensefalitis
a.      Pengertian
          Ensefalitis menurut Mansjoer dkk,(2000) adalah radang jaringan otak yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, protozoa. Sedangakan meurut Soedarmo dkk,(2008) Ensefalitis adalah suatu penyakit yang menyerang susunan syaraf pusat di medula spinalis dan meningen yang di sebabkan oleh japanese ensefalitis virus yang ditularkan oleh nyamuk.
          Dari dua pengertian di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa ensefalit adalah suatu penyakit yang di sebabkan oleh virus dan menularkan penyakit tersebut melalui vektor nyamuk, sehingga akan tejadi gangguan di susunan syaraf pusat.
b.      Klasifikasi
Klasifikasi menurut Soedarmo dkk, (2008) adalah:
1)   Ensefalitis fatal yang biasanya didahului oleh viremia dan perkembang biakan virus ekstraneural yang hebat
2)   Ensefalitis subklinis yang biasanya didahului viremia ringan, infeksi otak lambat dan kerusakan otak ringan
3)   Infeksi asimptomatik yang ditandai oleh hmpir tidak adanya viremia, sangat terbatasnya replikasi ekstraneural
4)   Infeksi persisten.
Meskipun Indonesia secara klinis dikenal banyak kasus encephalitis tetapi baru     Japanese B encepalitis yang ditemukan (Soedarmo dkk,2008).

c.       Anatomi dan Fisiologi Sistem Persyarafan
a) Pengertian
Menurut Setiadi, (2007) sistem syaraf adalah salah satu organ yang berfungsi untuk menyelenggarakan kerja sama yang rapih dalam organisasi dan koordinasi kegiatan tubuh. Dengan pertolongan syaraf kita dapat mengisap suatu rangsangan dari luar pengndalian pekerja otot.

b) Sel sel pada sistem syaraf
1)    Neuron
Unit fungsional sistem syaraf yang terdiri dari : Badan Sel, yaitu bagian yang mengendalikan metabolisme keseluruhan neuron. Sedangakan Akson adalah suatu prosesus tunggal, yang lebih tipis dan lebih panjang dari dendrit. Bagian ini mengahantarkan impuls menjauhi badan sel ke neuron lain, ke sel lain atau ke ke badan sel neuron yang menjadi asal akson ( arah menuju ke luar sel ). Maka, Semua akson dalam sistem syaraf perifer di bungkus oleh lapisan schwann ( neurolema ) yang di hasilkan oleh sel – sel schwann. Kemudian mielin berfungsi sebagai insulator listrik dan mempercepat hantaran impuls syaraf. Sedangkan Dendrit adalah Perpanjang sitoplasma yang biasanya berganda dan pendek yang berfungsi sebagai penghantar impuls ke sel tubuh.
2)    Neuroglial
                 Sel penunjang tambahan pada susunan syaraf pusat yang berfungsi sebagai jaringan ikat yang mensuport sel dan nervous sistem.



3)    Sistam komunikasi sel
                 Rangsangan ini di sebut stimulus, sedangkan yang di hasilkan dinamakan respon. Alat penghantar stimulus yang berfungsi menerima rangsangan disebut reseptor,sedangkan yang menjawab stimulus di sebut efektor seperti otot,sel , kelenjar atau sebagainya.

c) Sistem Syaraf Pusat
1)    Perkembangan Otak
Otak terletak dalam rongga kranium (tengkorak) berkembang dari sebuah tabung yang mulanya memperlihatkan tiga gejala pembesaran otak awal,yaitu:
a)    Otak depan menjadi hamisfer serebri, korpus striatum, talamus, serta hipotalamus. Fungsinya menerima dan mengintegrasikan informasi mengenai kesadaran dan emosi.
b)   Otak tengah,mengkoordinir otot yang berhubungan dengan penglihatan dan pendengaran. Otak ini menjadi tegmentum, krus serebrium, korpus kuadriigeminus.
c)    Otak belakang ( pons ), bagian otak yang menonjol kebnyakan tersusun dari lapisan fiber ( berserat ) dan termasuk sel yang terlibat dalam pengontrolan pernafasan. Otak belakang ini menjadi :
Pons vorali, membantu meneruskan informasi. Medula oblongata, mengendalikan fungsi otomatis organ dalam( internal ). Serebelum, mengkoordinasikan pergerakan dasar.
2)    Pelindung Otak
(a) Kulit kepala dan rambut
(b) Tulang tengkorak dan columna vetebral
(c) Meningen ( selaput otak )
3)    Bagian – bagian Otak
a)    Hemifer cerebral ( otak besar )di bagi menjadi 4     lobus, yaitu :
(1) Lobus frontalis, menstimuli pergerakan otot, yang bertanggung jawab untuk proses berfikir
(2) Lobus parietalis, merupakan area sensoris dari otak yang merupakan sensasi perabaan, tekanan, dan sedkit menerima perubahan temperatur.
(3) Lobus occipitallis, mengandung area visual yang menerima sensasi dari mata.
(4) Lobus temporalis, mengandung area auditory yang menerima sensasi dari telinga.
Area khusus otak besar (cerebrum ) adalah :
Somatic sensory area yang menerima impuls dari reseptor sensory tubuh. Primary motor area yang mengirim impuls ke otot skeletal broca’s area yang terliabat dalam kemampuan bicara.
b)   Cerebelum ( otak kecil )
Fungsi cerebelum mengmbalikan tonus otot di luar kesadaran yang merupakan suatu mekanisme syaraf yang berpengaruh dalam pengaturan dan pengendalian terhadap :
(1)Perubahan ketegangan dalam otot untuk mempertahankan keseimbangan dan sikap tubuh,
(2)Terjadinya kontraksi dengan lancar dan teratur pada pergerakan di bawah pengendalian kemauan dan mempunyai aspek keterampilan.
Ada tiga jens kelompok syaraf yang di bentuk oleh syaraf cerebrospinalis yaitu:
(a)Syaraf sensorik, ( syaraf afferen ), yaitu membawa impuls dari otak dan medulla spinalis ke perifer.
(b) Syaraf motorik ( syaraf efferen ), menghantarkan impuls dari otak dan medulla spinalis ke perifer.
(c)Syaraf campuran, yang mengandung serabut motorik dan sensorik, sehingga dapat mengantar impuls dalam dua jurusan.
4)    Medulla Spinallis
Disebut juga sumsum tulang belakang. Yang terlindung di dalam tulang belakang dan berfungsi untuk mengadakan komunikasi anatara otak dan semua bagian tubuh serta berperan dalam : gerak reflek, berisi pusat pengontrolan yang penting, heart rate contol atau denyut jantung, pengaturan tekanan darah, pernafasan, menelan, muntah.

d) Susunan Syaraf Perifer
Sistem syaraf perifer menyampaikan informasi antara jaringan dan saraf pusat ( CNS ) dengan cara membawa signals dari syaraf pusat ke CNS. Susunan syaraf terbagi menjadi 2, yaitu :
1)    Susunan syaraf somatic
Susunan syaraf yang memiliki peranan yang spesifik untuk mengatur aktivitas otot sadar atau serat lintang, jadi syraf ini melakuakan sistem pergerakan otot yang di sengaja atau tanpa sengaja
2)    Susunan syaraf otonom
Susunan syaraf yang mempunyai peranan penting mempengaruhi pekerjaan otot sadar atau serat lntang, dengan membawa informasi ke otot halus atau otot jantung yang dilakuakan otomatis.Menurut fungsinya susunan syaraf otonom terdiri dari dua bagian yaitu:
(a) Susunan syaraf simpatis
(b) Susunan syaraf para simpatis( Setiadi,2007).

d.      Etiologi
Berbagai macam organisme dapat menimbulkan Encephalitis, misalnya ozoa, cacing, jamur, spirokaeta, dan virus. Penyebab yang tersering adalah virus. Infeksi dapat terjadi karena virus langsung menyerang otak atau reaksi radang akut karena infeksi sistemik atau vaksinasi terdahulu. Encephalitis juga dapat diakibatkan oleh invasi langsung cairan serebrospinal selama pungsi lumbal.
Berbagai jenis virus dapat menimbulkan Encephalitis, meskipun gejala klinisnya sama. Sesuai dengan jenis virus serta epidemiologinya, diketahui berbagai macam Encephalitis virus. Menurut Soedarmo dkk,(2008) bahwa virus Ensefalitis berkembang biak dari sel hidup yaitu di dalam nukleus dan sitoplasma seperti babi, kuda, gigitan nyamuk,dan lain lain.

e.       Patofisiologi
Setelah nyamuk menggigit manusia yang rentan, virus menuju sistem getah bening sekitar tempat gigitan nyamuk (kelenjar regional) dan berkembang biak, kemudian masuk ke peredaran darah dan menimbulkan viremia pertama. Melalui aliran darah virus menyebar ke organ tubuh seperti susunan syaraf pusat dan organ eksterneural. Kemudian virus di lepaskan dan masuk ke dalam peredaran darah menyebabkan virema kedua yang bersamaan dengan penyebaran infeksi di jaringan dan menimbulkan gejala penyakit sistemik.
            Bagaimana cara virus masuk menembus sawar otak tidak diketahui dengan pasti, namun diduga setelah terjadinya viremia virus menembus dan berkembng biak pada endotel vaskular dengan cara endositosis, sehingga dapat menembus sawar darah otak. Setelah mencapai susunan saraf pusat, virus berkembang biak di dalam sel dengan cepat pada retikulum endoplasma yang kasar serta badan golgi dan setelah itu menghancurkannya. Akibat infeksi virus tersebut maka permeabelitas sel neuron, glia dan endotel meningkat, mengakibatkan cairan di luar sel masuk ke dalam sel dan timbullah edema sistoksik. Adanya edema dan kerusakan susunan saraf pusat ini memeberikan memberikan manifestasi klinis berupa ensefalitis. Area otak yang terkena dapat pada thalamus, ganglia basal, batang otak, hipokampus, dan krteks selebra (Soedarmo dkk,2008).

f.       Manifestasi Klinis
Gejala klinisnya adalah :
a)    Terjadi peningkatan tekanan intarakraniaum,berupa nyeri kepala, penurunan kesadaran, dan muntah.
b)   Terjadi demam akibat infeksi
c)    Fotofobia (respon nyeri terhadap sinar) akibat iritasi saraf – saraf  kranial
d)   Ensefalitis biasanya memperlihatkan gejala awal yang dramatis berupa delirium dan penurunan progresif kesadaran. Dapat timbul kejang dan gerakan- gerakan abnormal (Corwin, 2001).

g.      Penatalaksanaan
1.   Pemeriksaan penunjang
1)   Pemeriksaan cairan serebrospinal
Warna jernih terdapat pleocytosis berkisar antara 50- 2000 sel. Dimana sel limfosit merupakan sel yang dominan, protein agak meningkat, sedangkan glukosa dalam batas normal.
2)   Pemeriksaan EEG
Memperlihatkan proses inflamasi yang difuse “Bilateral” dengan aktivitas rendah.
3)   Pemeriksaan virus
Ditemukan virus pada CNS. Didapatkan kenaikan titer antibodi yang spesifik terhadap virus penyebab.
2.   Pengobatan pada encephalitis dilakukan dalam 2 cara, yaitu:
1)   Pengobatan penyebabnya adalah:
Diberikan apabila jenis virus diketahui.Herpes encephalitis: adenosine arabinose 15mg/kgBB/hari selama 5 hari.
2)   Pengobatan suportif adalah :
Sebagian besar pengobatan encephalitis adalah pengobatan non spesifik yang bertujuan mempertahankan fungsi organ tubuh.
Pengobatannya antara lain:
(a) ABC ( Airway, Breathing, Circulation) harus dapat dipertahankan sebaik- baiknya.
(b) Pemberian makanan secara adekuat baik secara interal maupun parenteral dengan memperhatikan jumlah kalori, protein, keseimbangan cairan elektrolit dan vitamin.
(c) Obat- obatan yang lain apabila diperlukan harus diberikan agar keadaan umum penderita tidak bertambah jelek,Misalnya:
Hiperpireksia, diberikan:  antipiretik paracetamol 10 mg/ kgBB/ X,kompres dingin. Kejang, diberikan: Diazepam 0,3- 0,5mg/kgBB/X diikuti dengan oemberian, Fenitoin 2 mg/ kgBB/ X untuk rumatan. Edema otak, diberikan: steroid: dexametasone 0,5 mg/ kgBB/ X dilanjutkan dengan dosis 0,1 mg /kg BB/ X tiap 6 jam, Monitol dosis 1-2 gr/ kgBB selama ± 15 menit diulangi 8- 12 jam apabila diperlukan.
3.   Perawatannya, yaitu :
Mata: cegah adanya exposure keratitis dengan pemberian BWC atau salep antibiotika. Cegah decubitus: dengan merubah posisi penderita tiap 2 jam. Penderita dengan gangguan menelan dan akumulasi sekret lakukan postural drainage dan aspirasi mekanis ( Soedarmo dkk,2008 ).

h.      Komplikasi
Kompikasi yang terjadi pada ensefalitis adalah : (1) pasien dapat mengalami ketidakmampuan permanen, kerusakan otak atau meninggal akibat ensefalitis, (2) dapat timbul kejang ( Corwin, 2001 ).

i.        Pemeriksaan Laboraturium dan Diagnostik
1)   Dilakukan pegambilan CSS untuk pemeriksaan sel darah putih dan sensitivitas mikro-organisme. Glukosa dan protein dalam CSS.
2)   Dapat digunakan CT scan atau MRI untuk mengevaluasi drajat pembengkakan dan tempat nekrosis ( Corwin, 2001).


DAFTAR PUSTAKA
Corwin, E. (2001). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC
Dr. Soetjiningsih, SPAK. (1995). Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC
Dongoes, E. Marilyn,(2000) Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3.ISBN
Setiadi. (2007). Anatomi Fisiologi Manusia.Yogyakarta: Graha Ilmu
Johnson ,Morrison, (2000). Nursing Outcome Classification.Mosby Year Book
Philadelphia.
Mc. Closkey, Joanne, (2004) Nursing Intervention Classification Mosby Year
Book Philadelphia.
Joyce, E. (2009). Pengkajian Pediatrik Edisi 4. Jakarta: EGC
NANDA, (2005). Nursing Diagnose:Definition and Classification. NANDA
international.
Nursalam, et al.(2007). Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak . Jakarta: EGC.
Mansjoer, et al.(2001).Kapita Selekta Kedokteran Volume 1Edisi 3. Jakarta: Media Aesculapius
Wong, D, et al.(2008).Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Edisi 6 volume
2.Jakarta:EGC
Wong, D.(2004).Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik Edisi 4.Jakarta:EGC
Soedarmo,et al.(2008).Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis Edisi 2.Jakarta:Ilmu Kesehatan Anak FKUI
Rd. Arry yulianita, D.(2007). Buku Saku Keperawatan. Bandung:
Yusi Sofiyah.(2007).Cat Kuliah Anak.  Jakarta: Fakultas Ilmu Keperawatan. Jakarta: Universitas Indonesia.
Sylvia. A Price.(1995). Patofisiologi Edisi 4. Jakarta: EGC.
Effendy, N.(1998). Dasar – dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Edisi 2. Jakarta : EGC.