Tampilkan postingan dengan label kesehatan anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan anak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 November 2012

Cara Mudah Mengencerkan Dahak Pada Anak

Batuk pada anak seringkali bercampur dahak, dan anak kadang sulit untuk mengeluarkan dahak tersebut karena terlalu kental. Lalu bagaimana cara mengencerkan dahak pada anak Anda?

Pengencer dahak terbaik antara lain ASI, air putih, air buah, serta kuah sup.

Pantau keadaan umumnya, seperti perhatikan apakah napas anak Anda tersengal-sengal, sehingga tidak bisa tidur, menyusu, makan, atau minum.

Perhatikan pula apakah kuku dan bibirnya biru atau tidak. Bagaimana pun, sesak napas merupakan tanda kegawatdaruratan yang patut mendapat perhatian penting.

Jika tidak sesak napas, sesekali bawalah anak bertamasya keluar kota yang padat dan polusi, tata ulang rumah dan kamar (simpan karpet atau mainan berbulu), serta sedapat mungkin hindari pemakaian AC karena AC akan membuat udara kering, sehingga dahak menjadi kental.

Minggu, 04 November 2012

Mengatasi Sariawan Pada Bayi

Keadaan tubuh bayi yang masih rentan mudah sekali terjangkit virus, bakteri, maupun jamur yang menyebabkan kesehatannya terganggu, diantaranya adalah sariawan.

Sariawan salah satunya disebabkan oleh jamur jenis Candida albicans yang dapat ditularkan melalui puting payudara ibu selama menyusui. Berikut beberapa cara alami yang dapat Anda lakukan bila bayi kesayangan Anda mengalami sariawan:

1. Cuka sari apel 
Jamur dan cuka tidak dapat hidup berdampingan, sehingga cuka mampu mencegah pertumbuhan jamur pada mulut bayi. Oleskan beberapa tetes cuka sari apel ke puting payudara Anda untuk mencegah bayi Anda terkena sariawan.

2. Bawang putih 
Bawang putih adalah antibiotik alami. Tambahkan bawang putih segar ke dalam masakan agar bayi Anda juga dapat merasakan manfaat baiknya.

3. Minyak kelapa 
Minyak kelapa murni merupakan anti jamur alami yang sangat ampuh dan aman untuk bayi. Oleskan minyak kelapa ke puting payudara Anda dan ke mulut bayi untuk membantu mencegah pertumbuhan jamur.

4. Probiotik 
Probiotik membantu menjaga keseimbangan bakteri sehat dan menciptakan lingkungan yang tidak ramah untuk jamur Candida. Tambahkan acar, yoghurt, atau kimchi ke dalam makanan Anda.

5. Hindari kelembaban 
Jamur sangat senang dengan lingkungan yang lembab, karena itu hindari menggunakan pakaian yang terlalu ketat agar jamur tidak berkembang pada payudara ibu.

6. Diet tepat 
Untuk membangun sistem kekebalan tubuh yang kuat pada ibu dan bayi, pastikan diet Anda kaya akan makanan sehat seperti biji-bijian dan menghindari makanan olahan dan gula.

Jumat, 02 November 2012

Anak mengorok atau prestasi belajar turun? Hati-hati pembengkakan Amandel!


Amandel atau bahasa medisnya tonsil atau tonsila palatina adalah merupakan kelenjar limfoid/getah bening yang terdapat dalam rongga mulut/faring. Organ ini termasuk dalam sistem imun/pertahanan tubuh. Tonsil bersama dengan adenoid/tonsila faringeal dan tonsil lingual sering disebut cincin Waldeyer. Karena terhubung satu sama lain, maka apabila salah satu tonsil mengalami infeksi atau peradangan umumnya akan diikuti peradangan tonsil yang lain. Peradangan/infeksi pada amandel disebut tonsilitis.

Berdasarkan lamanya keluhan tonsilitis dibagi tiga yaitu tonsilitis akut bila keluhan kurang dari 3 minggu, disebut tonsilitis berulang/kronik bila terdapat 7 kali infeksi dalam 1 tahun atau 5 kali episode gejala dalam 2 tahun berturut-turut atau 3 kali infeksi dalam 1 tahun selama 3 tahun berturut-turut.

Gejala umum dari tonsilitis adalah demam, nyeri tenggorok, bau mulut, sulit dan nyeri menelan, pembengkakan kelenjar getah bening leher. Selain gejala umum diatas, pada tonsilitis manifestasi sumbatan jalan nafas juga sering dikeluhkan seperti tidur mengorok, bicara sengau/bindeng, henti nafas saat tidur (Obstructive sleep apnea),  nafas lewat mulut yang semuanya berdampak pada penurunan kualitas hidup seperti lemah, letih, lesu tak bersemangat, rasa mengantuk, gampang lelah, sulit konsentrasi sampai penurunan daya ingat.

Menurut rekomendasi AAO-HNS (American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery) indikasi klinik pengangkatan amandel/tonsil dengan atau tanpa adenoid adalah :

  • Pasien dengan serangan tonsilitis 3 kali atau lebih dalam satu tahun yang tidak mendapat manfaat dengan pengobatan medikamentosa yang adekuat.
  • Pembesaran tonsil yang mengakibatkan maloklusi gigi-geligi atau adanya efek samping gangguan pertumbuhan mulut/wajah (orofacial growth) yang terdokumentasi oleh doker gigi.
  • Pembesaran tonsil yang mengakibatkan sumbatan jalan nafas atas seperti ngorok, bicara sengau, gangguan/kesulitan menelan, henti nafas saat tidur (sleep apnea syndrom), atau komplikasi penyakit kardiopulmonal (endokarditis bakterialis dsb).
  • Abses peritonsil yang tidak dapat disembuhkan dengan pengobatan medikamentosa.
  • Bau mulut atau nafas menetap akibat tonsilitis kronik yang tidak responsive dengan pengobatan.
  • Tonsilitis kronik yang diasosiasikan dengan infeksi kuman streptokokus yang tidak responsive dengan pengobatan antibiotik.
  • Pembengkakan tonsil satu sisi yang dicurigai keganasan.
  • Otitis media akut atau otitis media supurative kronik berulang yang diakibatkan oleh tonsilitis.

Dengan demikian, apabila keluhan amandel anda seperti diatas dan memenuhi indikasi klinis untuk di angkat/operasi maka yang terbaik adalah demikian.

Sumber yang lain menyebutkan HTA 2004 mengelompokkan indikasi Tonsilektomi (Operasi pengangkatan amandel) menjadi dua yaitu absolut (sangat dianjurkan) dan relatif (boleh dilakukan) :

Indikasi Absolut

  • Pembengkakan tonsil yang menyebabkan obstruksi saluran nafas, disfagia berat, gangguan tidur dan komplikasi kardiopulmoner
  • Abseb peritonsil yang tidak membaik dengan pengobatan medis dan drainase
  • Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam
  • Tonsilitis yang membutuhkan biopsi untuk menentukan patologi anatomi

Indiaksi Relatif

  • Terjadi episode atau lebih infeksi tonsil per tahun dengan terapi antibiotik adekuat
  • Halitosis akibat tonsillitis kronis yang tidak membaik dengan pemberian terapimedis
  • Tonsilitis kronis berulang pada karier streptokokus yang tidak membaik dengan pemberian antibiotik Beta-laktamase resisten

Dari sumber yang sama disebutkan pula beberapa kondisi yang menyebabkan operasi Tonsilektomi tidak diajurkan yaitu :

Kontraindikasi

  • Gangguan perdarahan
  • Resiko anestesi yang besar atau penyakit berat
  • Anemia
  • Infeksi akut yang berat

Mitos

Banyak mitos tentang amandel yang beredar di masyarakat, antara lain:

1. Mitos, operasi amandel hanya boleh dilakukan pada anak  yang usianya telah mencapai 6-7 tahun.
Faktanya, menurut para ahli tidak ada batasan umur dalam keputusan operasi amandel.

2. Mitor, penyakit amandel hanyalah penyakit ringan dan tidak membahayakan.
Faktanya, menurut para ahli walaupun kebanyakan infeksi amandel tidak mengancam jiwa, tetapi bila kuman penyebabnya streptococcus beta hemoliticus, dapat menimbulkan komplikasi penyakit jantung dan ginjal yg berbahaya. Henti napas saat tidur akibat pembesaran amandel dapat menimbulkan problem kesehatan serius.

3. Mitos, amandel selalu berfungsi sebagai penyaring kuman,sehingga tidak boleh dioperasi.
Faktanya, menurut para ahli fungsi penyaring kuman pada amandel yg telah menjadi sarang kuman sangat minimal bahkan tidak ada lagi. Peran penyaring kuman masih dapat digantikan oleh organ  penyaring kuman lainnya di sekitar tenggorok. Kelenjar getah bening diseluruh tubuh berfungsi untuk menyaring kuman.

4. Mitos, operasi amandel adalah operasi kecil yang tidak ada risiko sama sekali
Faktanya, menurut para ahli, semua operasi memiliki resiko operasi baik sebelum, saat dan sesudah operasi.  operasi amandel adalah operasi didaerah jalan nafas yang tentu saja ada resiko  yang dapat ditimbulkan seperti perdarahan setelah operasi, penutupan jalan nafas dan sebagainya.  Namun demikian, dengan berkembangnya teknik dan peralatan operasi amandel, serta persiapan yang optimal sebelum operasi resiko-resiko ini dapat diminimalisir.

Sesuai dengan berbagai tingkatan kondisi penyakit amandel, penanganan tonsilitis (radang tonsil) sangatlah beragam, mulai dari terapi obat hingga operasi pengangkatan tonsil atau amandel sebagai solusi akhir.
So jangan anggap remeh pembesaran amandel, mari periksakan sejak dini.

Salam Sehat
sumber : dokteraidil.blogspot.com


Rabu, 31 Oktober 2012

Tips mengatasi anak susah makan

PADA masa tertentu, nafsu makan anak kadang berkurang. Hal ini seringkali membuat para orang tua khawatir dapat mengganggu pertumbuhan anaknya. Pengurangan nafsu makan dapat disebabkan berbagai hal misalnya anak baru tumbuh gigi, sedang sariawan, sakit tenggorokan, batuk, pilek dan lain-lain. Hubungi dokter atau ahli gizi bila anak tidak mau makan lengkap dalam waktu 2 minggu. Berikut sekilas bahasan penyebab anak susah makan & tips singkat mengatasinya :

1. Bosan dengan menu makan ataupun penyajian makanan

Menu makan saat bayi berusia lebih dari 6 bulan yang kurang bervariasi akan membuat anak bosan dan malas makan. Belum lagi cara penyajian makanan yang campur aduk antara lauk pauk seperti makanan diblender jadi satu. Sama seperti orang dewasa, kalau kita makan dengan menu yang sama setiap hari dan disajikan dengan campur aduk, pasti akan malas makan. Begitu juga dengan pengenalan makanan kasar.
Tips : Tentu saja variasikan menu makan anak. Jika perlu buat menu makan anak selama 1 minggu untuk mempermudah ibu mengatur variasi makanan. Seperti kalau anak tidak mau makan nasi, bisa diganti dengan roti, makaroni, pasta, bakmi, dsb. Penyajian makanan yang menarik juga penting sekali. Jangan campur adukkan makanan. Pisahkan nasi dengan lauk pauknya. Hias dengan aneka warna & bentuk. Jika perlu cetak makanan dengan cetakan kue yang lucu.

2. Memakan cemilan padat kalori menjelang jam makan

Membiarkan anak memakan cemilan padat kalori menjelang waktu makan tiba akan menyebabkan anak malas makan karena sudah merasa kenyang. Camilan itu seperti permen, minuman ringan, coklat, hingga snack ber-MSG, dsb.
Tips : Atur makanan selingan atau cemilan jauh sebelum waktu makan tiba. Beri juga cemilan yang sehat seperti potongan buah, sayur kukus, keju, yoghurt, es krim, cake buatan ibu, dsb.

3. Minum susu terlalu banyak

Susu di banyak keluarga dianggap sebagai makanan dewa yang bisa menggantikan makanan utama seperti nasi, sayur & lauk pauknya. Orang tua cenderung kurang sabar memberikan makanan kasar. Atau orang tua sering takut anaknya kelaparan, sehingga makanan diganti dengan susu. Akhirnya, daripada perut si anak tidak kemasukan makanan, diberikan saja susu berlebihan. Padahal setelah anak berusia 1 tahun, kehadiran susu dalam menu sehari-hari bukanlah hal wajib. Secara gizi, susu hanya untuk memenuhi kebutuhan kalsium dan fosfor saja. Kan kalsium dan fosfor ini dengan mudah kita dapatkan dalam ikan-ikanan, sayur & buah.
Tips : Kurangi susu ! Di atas usia 1 tahun kebutuhan susu hanya 2 gelas sehari. Mulailah melatih anak dengan berbagai jenis makanan. Ubah pola pikir orangtua.

4. Terpengaruh kebiasaan orang tuanya

Anak suka meniru apa yang dilakukan oleh anggota keluarga lainnya, terutama orang tuanya. Banyak perilaku yang dilakukan orang tuanya yang mempengaruhi perilaku makan anak. Misalnya, anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang malas makan (diet), akan mengembangkan perilaku malas makan juga. Perilaku lainnya, sering kita jumpai orang tua masih menyuapi anak yang sudah kelas V SD. Akibatnya anak gak terlatih untuk bisa makan sendiri. Perilaku makan yang kurang pas juga seperti kebiasaan orang tua ketika menenangkan anak yang sedang rewel dengan cara membelikan jajanan yang padat kalori (permen, minuman ringan, coklat, dsb.). Akibatnya anak kekenyangan & malas makan.
Tips : Perhatikan & ubah kebiasaan & perilaku orang tua kapanpun, termasuk perilaku makan. Ingat, anak merekam, belajar & menerapkan semua hal yang ia dapat dari lingkungan sekitarnya, terutama orang tuanya. Biarkan anak mencoba memakan makanan sendiri sejak dini, tanpa disuapi. Gak perlu takut berantakan, "feeding is about learning".

5. Munculnya sikap negativistik fase normal yang dilewati tiap anak

Pada usia di atas 2 tahun, anak sering membangkang atau tidak mau patuh. Saat makan tiba, anak terkadang mengatakan tidak mau atau makanannya suka dilepeh atau dilempar, dsb. Ini disebut sikap negativistik. Sikap negativistik merupakan fase normal yang dilalui oleh tiap anak usia balita. Sikap ini juga suatu bagian dari tahapan perkembangannya untuk menunjukkan keinginan untuk independent. Jadi balita umumnya ditandai dengan AKU, artinya segala sesuatunya harus berasal dari AKU bukan dari orang lain; intinya power. Nah banyak orang tua yang tidak memahami hal ini, sehingga lantaran khawatir kecukupan gizi anak tidak terpenuhi, orang tua biasanya makin keras memaksa anaknya makan. Ada ortu yang mengancam anaknya bahkan memukul. Cara-cara tersebut harus dihindari.
Justru semakin anak pada usia ini dipaksa, justru akan semakin melawan (sebagai wujud negativistiknya). Realisasinya apalagi kalau bukan penolakan terhadap makanan. Bisa dimaklumi kalau ada orang yang sampai dewasa tidak makan nasi atau sama sekali tidak menyentuh daging, bisa jadi sewaktu masih kecil yang bersangkutan sempat mengalami trauma akibat perlakuan orang tuanya yang selalu memberinya makan secara paksa.
Tips : Pahami kondisi anak dengan baik. Jadilah orang tua yang otoritatif. Artinya bersikap tidak memaksa, tetapi juga tidak membiarkan begitu saja. Bina komunikasi yang baik dengan anak. Bersabarlah menghadapi anak, rumah adalah madrasah pertama & utama bagi anak.

6. Anak sedang sakit / sedih

Anak tidak mau makan dapat juga disebabkan karena anak sedang sakit atau sedang sedih. Kalau semula anak terlihat aktif, riang dan cerewet, maka di kala sakit ia lebih suka diam dan terlihat malas-malasan.
Tips : Kembali pada konsep bina komunikasi yang baik. Jangan paksakan anak kalau tidak mau makan. Beri makanan ringan yang padat kalori, seperti makaroni skutel, dsb. Dan yang perlu diingat baik-baik oleh orang tua adalah, seberapapun anak tidak mau / susah makan, ia tidak akan membiarkan dirinya kelaparan, selama mentalnya sehat. Artinya, begitu ia kelaparan, maka ia akan makan.
Tetap kreatif mengolah & menyajikan makanan, jalin komunikasi yang baik, terus belajar menjadi orang tua yang baik dan ceras, yang bisa memahami kondisi anak dan merawat anak dengan penuh kesabaran.


sumber : bayisehat.com

Sabtu, 20 Oktober 2012

Kenali Tanda dan Gejala Diabetes Pada Anak

Selain pada orang dewasa, penyakit diabetes juga dapat terjadi pada anak-anak. Diabetes tersebut biasanya adalah jenis diabetes gologan 1. Diabetes golongan 1 adalah diabetes yang terjadi akibat adanya kerusakan hormon insulin sehingga tak mampu bekerja dan pada umumnya terjadi sejak anak tersebut lahir.
Pendeteksian dini akan diabetes pada anak sangat penting untuk dilakukan. Hal ini diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan penanganan diabetes yang terlambat. Agar diperoleh cara yang benar-benar tepat dan pas dalam mendeteksi dini penyakit diabetes pada anak, kita sebagai orang tua juga harus mengetahui dengan jelas tanda dan gejala penyakit ini dengan baik pula.

Berikut ini adalah tanda dan gejala diabetes pada anak yang dapat dijadikan indikator ada tidaknya penyakit diabetes pada anak:
    • Seringnya buang air kecil lebih dari biasanya. Hal ini karena ginjal bekerja terlalu keras sehingga air langsung dibuang tanpa diserap secara benar glukosanya.
    • Naiknya rasa lapar dan haus. Hal ini karena glukosa yang ada di tubuhnya tidak dipakai untuk metabolism anak tetapi langsung dibuang karena kerja insulin yang rusak. Haus terus karena anak dehidrasi.
    • Turun berat badan secara drastis. Hal ini karena lapisan lemak tubuh dibakar terus menerus sebagai pengganti glukosa yang dibuang.
    • Ruam popok yang parah. Hal ini karena komplikasi kulit bayi yang sangat lembab, kadar glukosa darah yang tinggi, dan infeksi kuman.
    • Sensitif yang terlihat dari anak yang menjadi cengeng/nangis terus menerus lebih dari biasanya. Hal ini karena fluktuasi glukosa darah yang membuat mood anak yang berubah-ubah.
    • Kelelahan yang terlihat dari anak yang tidak seaktif biasanya. Maunya terus tidur dan digendong.
    • Perubahan struktur kulit yang menjadi kasar dan kehitaman. Hal ini karena kadar air yang membuatnya lembab dan cerah hilang akibat dehidrasi.
    • Kaburnya penglihatan. Hal ini karena adanya perubahan lensa mata akibat kadar glukosa darah yang tinggi.
    Pendeteksian dini penyakit diabetes pada anak dengan memperhatikan tanda dan gejala diabetes pada anak, akan membuat penanganan penyakit diabetes pada anak menjadi lebih mudah. Namun, faktor riwayat diabetes di dalam keluarga juga patut dipertimbangkan, karena tak jarang anak-anak juga  mewarisi gen diabetes dari keluarganya.

    Jumat, 28 September 2012

    Anak Anda Baru Tumbuh Gigi? Pilihlah Makanan Ini

    Balita Anda pasti akan memasuki masa dimulainya tumbuh gigi. Masa ini merupakan masa yang cukup penting bagi Anda untuk memperhatikan makanan yang mengandung nutrisi lebih untuk kesehatan mulut dan giginya. Berikut beberapa makanan yang dapat menjadi pilihan Anda agar gigi balita Anda dapat tumbuh dengan baik dan sehat.

    Jeruk 
    Vitamin C yang terdapat pada buah-buahan seperti jeruk, kiwi, pepaya, stroberi, dan mangga dapat membantu menjaga kesehatan gusi dan melindungi dari gingivitis. Selain itu, buah-buahan ini rendah gula, sehingga meminimalkan kemungkinan pembusukan gigi yang dapat terjadi.

    Keju 
    Selain kandungan kalsiumnya yang tinggi, keju juga mengandung fosfat yang bekerja bersama kalsium untuk menyeimbangkan pH dalam mulut anak. Mulut dengan pH yang tidak seimbang akan menjadi tempat yang kurang ramah bagi bakteri penyebab gigi berlubang.

    Apel 
    Makanan seperti apel dan wortel bersifat abrasif dan bertindak seperti sikat gigi mini yang memijat gusi dan membersihkan gigi serta langit-langit mulut. Mengunyah apel juga dapat memproduksi air liur lebih banyak untuk menyapu bakteri penyebab gigi berlubang.

    Air putih 
    Tidak seperti jus atau susu, air tidak memiliki efek pembusukan karena tidak mengandung gula, sehingga baik untuk membilas partikel-partikel makanan yang terjebak antara gigi. Air juga mengandung fluoride, yaitu mineral yang memperkuat enamel gigi.

    Ubi jalar 
    Ubi jalar merupakan sumber vitamin A yang membantu membentuk enamel gigi. Sumber vitamin A yang lain adalah wortel atau brokoli.

    Senin, 10 September 2012

    Pelit Kasih Obat ke Anak Yang Sakit


    "Pelit Kasih Obat ke Anak Yang Sakit"

    Sebagian alasan kenapa dokter-dokter di negara maju "pelit" kasih obat ke anak yang sakit ** Dimana Salahnya?** Simak kisah berikut:

    Malik tergolek lemas. Matanya sayu. Bibirnya pecah-pecah. Wajahnya
    kian tirus. Di mataku ia berubah seperti anak dua tahun kurang gizi. Biasanya aku selalu mendengar celoteh dan tawanya di pagi hari. Kini tersenyum pun ia tak mau. Sesekali ia muntah. Dan setiap melihatnya muntah, hatiku ...tergores-gores rasanya. Lambungnya diperas habis-habisan seumpama ampas kelapa yang tak lagi bisa mengeluarkan santan. Pedih sekali melihatnya terkaing-kaing seperti itu.

    Waktu itu, belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak juga ada perbaikan aku membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dokter Knol namanya.

    "Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection." kata dokter tua itu .

    "Ha? Just wait and see? Apa dia nggak liat anakku dying begitu?" batinku meradang. Ya..Ya.. tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain. Dikasih obat juga enggak!
    Huh! Dokter Belanda memang keterlaluan! Aku betul-betul menahan kesal.
    "Obat penurun panas Dok?" tanyaku lagi.

    "Actually that is not necessary if the fever below 40 C."

    Waks! Nggak perlu dikasih obat panas? Kalau anakku kenapa-kenapa memangnya dia mau nanggung? Kesalku kian membuncah. Tapi aku tak ingin ngeyel soal obat penurun panas. Sebetulnya di rumah aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat jenis lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter disini pelit obat. Karena itu aku membawa setumpuk obat-obatan dari Indonesia, termasuk obat penurun panas. Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya juga bertambah. Aku segera kembali ke dokter. Tapi si dokter tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium baru akan dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.

    "Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok," kataku.

    Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. "Apakah dia sudah minum suatu obat?"

    Aku mengangguk. "Ibuprofen syrup Dok," jawabku.

    Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah ngomel-ngomel,"Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak lebih baik beri paracetamol saja."

    Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku betul-betul jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas kedokteran tau! Nah kalau buat anak nggak baik kenapa di Indonesia obat itu bertebaran! Batinku meradang. Untungnya aku masih bisa menahan diri.

    Tapi setibanya dirumah, suamiku langsung menjadi korban kekesalanku."Lha wong di Indonesia, dosenku aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya je. Mau 37 keq, 38 apa 39 derajat keq, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit panas, penurun panas ya pasti dikasih. Sirup ibuprofen juga dikasih koq ke anak yang panas, bukan Cuma parasetamol. Masa dia bilang ibuprofen nggak baik buat anak!"

    Seperti rentetan peluru, kicauanku bertubi-tubi keluar dari mulutku. "Mana Malik nggak dikasih apa-apa pulak, cuma suruh minum parasetamol doang, itu pun kalau suhunya diatas 40 derajat C! Duuh memang keterlaluan Yah dokter Belanda itu!"
    Suamiku menimpali, "Lho, kalau Mama punya alasan, kenapa tadi nggak bilang ke dokternya?"

    Aku menarik napas panjang. "Hmm..tadi aku sudah kadung bete sama si dokter, rasanya ingin buru-buru pulang saja. Tapi..alasannya apa ya?"

    Mendadak aku kebingungan. Aku akui, sewaktu praktek menjadi dokter dulu, aku lebih banyak mencontek apa yang dilakukan senior. Tiga bulan menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan belajar banyak hal, tapi hanya secuil-secuil ilmu yang kudapat. Persis seperti orang yang katanya travelling keliling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, lalu dua hari pergi ke Roma. Dua hari di Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas beberapa hari berdiam di Berlin dan Swiss, kemudian waktu habis. Tibalah saatnya pulang lagi ke Indonesia.

    Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa, padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama saja. Masih banyak sekali negara dan kota-kota di Eropa yang belum disambanginya. Dan itu lah yang terjadi pada kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Malah kadang-kadang apa yang sudah kami pelajari dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari. Berharap bisa memberikan resep cespleng seperti dokter-dokter senior, akhirnya kami pun sering mengintip resep ajian senior!

    Setelah Malik sembuh, beberapa minggu kemudian, Lala, putri pertamaku ikut-ikutan sakit. Suara Srat..srut..srat srut dari hidungnya bersahut-sahutan. Sesekali wajahnya memerah gelap dan bola matanya seperti mau copot saat batuknya menggila. Kadang hingga bermenit-menit batuknya tak berhenti. Sesak rasanya dadaku setiap kali mendengarnya batuk. Suara uhuk-uhuk itu baru reda jika ia memuntahkan semua isi perut dan kerongkongannya. Duuh Gustiiii… kenapa tidak Kau pindahkan saja rasa sakitnya padaku Nyerii rasanya hatiku melihat rautnya yang seperti itu.

    Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia pada putriku. Tapi batuknya tak kunjung hilang dan ingusnya masih meler saja. Lima hari kemudian, Lala pun segera kubawa ke huisart. Dan lagi-lagi dokter itu mengecewakan aku.

    "Just drink a lot," katanya ringan.

    Aduuuh Dook! Tapi anakku tuh matanya sampai kayak mata sapi melotot kalau batuk, batinku kesal.
    "Apa nggak perlu dikasih antibiotik Dok?" tanyaku tak puas.

    "This is mostly a viral infection (semacam radang), no need for an antibiotik," jawabnya lagi.

    Ggrh..gregetan deh rasanya. Lalu ngapain dong aku ke dokter, kalo tiap ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat. Paling enggak kasih vitamin keq! omelku dalam hati.

    "Lalu Dok, buat batuknya gimana Dok? Batuknya tuh betul-betul terus-terusan," kataku ngeyel.

    Dengan santai si dokter pun menjawab,"Ya udah beli aja obat batuk Thyme syrop. Di toko obat juga banyak koq."

    Hmm..lumayan lah.. kali ini aku pulang dari dokter bisa membawa obat, walau itu pun harus dengan perjuangan ngeyel setengah mati dan walau ternyata isi obat Thyme itu hanya berisi ekstrak daun thyme dan madu. "Kenapa sih negara ini, katanya Negara maju, tapi koq dokternya kayak begini." Aku masih saja sering mengomel soal huisart kami kepada suamiku.

    Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim dengan internet. Jadi yang ada di kepalaku, cara berobat yang betul adalah seperti di Indonesia. Di Indonesia, anak-anakku punya langganan beberapa dokter spesialis anak. Dokter-dokter ini pernah menjadi dosenku ketika aku kuliah. Maklum, walaupun aku lulusan fakultas kedokteran, tapi aku malah tidak pede mengobati anak-anakku sendiri. Dan walaupun anak-anakku hanya menderita penyakit sehari-hari yang umum terjadi pada anak seperti demam, batuk pilek, mencret, aku tetap membawa mereka ke dokter anak. Meski baru sehari, dua atau tiga hari mereka sakit, buru-buru mereka kubawa ke dokter. Tak pernah aku pulang tanpa obat. Dan tentu saja obat dewa itu, sang antibiotik, selalu ada dalam kantong plastik obatku.

    Tak lama berselang putriku memang sembuh. Tapi sebulan kemudian ia sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini termasuk ringan, tapi hampir dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit. Karena khawatir ada yang tak beres, lagi-lagi aku membawanya ke huisart.
    "Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya, kenapa ya Dok.?

    Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya, dan lubang hidungnya, huisart-ku menjawab,"Nothing to worry. Just a viral infection."

    Aduuuh Doook.. apa nggak ada kata-kata lain selain viral infection seh! Lagilagi aku sebal. "Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan Dok," aku ngeyel seperti biasa.

    Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum. "Do you know how many times normally children get sick every year?"

    Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. "enam kali," jawabku asal.

    "Twelve time in a year, researcher said," katanya sambil tersenyum lebar.
    "Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak terlalu berat," sambungnya.

    Glek! Aku cuma bisa menelan ludah. Dijawab dengan data-data ilmiah seperti itu, kali ini aku pulang ke rumah dengan perasaan malu. Hmm…apa aku yang salah? Dimana salahnya? Ah sudahlah..barangkali si dokter benar, barangkali memang aku yang selama ini kurang belajar.

    Setelah aku bisa beradaptasi dengan kehidupan di negara Belanda, aku mulai berinteraksi dengan internet. Suatu saat aku menemukan artikel milik Prof. Iwan Darmansjah, seorang ahli obat-obatan dari Fakultas Kedokteran UI. Bunyinya begini:

    "Batuk - pilek beserta demam yang terjadi sekali-kali dalam 6 - 12 bulan sebenarnya masih dinilai wajar. Tetapi observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke dokter bisa terjadi setiap 2 - 3 minggu selama bertahun-tahun."
    Wah persis seperti yang dikatakan huisartku, batinku. Dan betul anak-anakku memang sering sekali sakit sewaktu di Indonesia dulu.
    "Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan dalam penanganannya," Lanjut artikel itu.

    "Pertama, pengobatan yang diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotic tidak dapat membunuh virus. Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun.

    Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 - 3 minggu dan perlu berobat lagi. Lingkaran setan ini: sakit –> antibiotik -> imunitas menurun –> sakit lagi, akan membuat si anak diganggu panas-batuk- pilek sepanjang tahun, selama bertahun- tahun.

    " Hwaaaa! Rupanya ini lah yang selama ini terjadi pada anakku. Duh.. duh....kemana saja aku selama ini sehingga tak menyadari kesalahan yang kubuat sendiri pada anak- anakku. Eh..sebetulnya..bukan salahku dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho! Masa sih aku tak percaya kepada mereka. Dan rupanya, setelah di Belanda 'dipaksa' tak lagi pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak sehari-hari, sekarang kondisi anak-anakku jauh lebih baik. Disini, mereka jadi jarang sakit, hanya diawal-awal kedatangan saja mereka sakit.

    Kemudian, aku membaca lagi artikel-artikel lain milik prof Iwan Darmansjah. Dan di suatu titik, aku tercenung mengingat kata- kata 'pengobatan rasional'. Lho…bukankah dulu aku juga pernah mendapatkan kuliah tentang apa itu pengobatan rasional. Hey! Lalu kemana perginya ingatan itu? Jadi, apa yang selama ini kulakukan, tidak meneliti baik-baik obat yang kuberikan pada anak- anakku, sedikit-sedikit memberi obat penurun panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan seperti, batuk, pilek, demam, mencret, aku sudah panik dan segera membawa anak ke dokter, serta sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan yang sama sekali tidak rasional! Hmm... kalau begitu, system kesehatan di Belanda adalah sebuah contoh sistem yang menerapkan betul apa itu pengobatan rasional.

    Belakangan aku pun baru mengetahui bahwa ibuprofen memang lebih efektif menurunkan demam pada anak, sehingga di banyak negara termasuk Amerika Serikat, ibuprofen dipakai secara luas untuk anak-anak. Tetapi karena resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat ibuprofen juga tersedia di apotek dan boleh digunakan untuk usia anak diatas 6 bulan, namun di kedua Negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan pertama pada anak yang mengalami demam.
    "Duh, untung ya Yah aku nggak bilang ke huisart kita kalo aku ini di Indonesia adalah seorang dokter. Kalo iya malu-maluin banget nggak sih, ketauan begonya hehe," kataku pada suamiku.

    Jadi, bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Aku tak ingin berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau orang-orang yang terpinggirkan, ceritanya bisa lain. Karena kekurangan dan ketidakmampuan, untuk kasus penyakit anak sehari-hari, orang-orang desa itu malah relatif 'terlindungi' dari paparan obat- obatan yang tak perlu.

    Sementara kita yang tinggal di kota besar, yang cukup berduit, sudah melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan media. Batuk pilek sedikit ke dokter, demam sedikit ke dokter, mencret sedikit ke dokter. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat, biasanya kita malah ngomel-ngomel, 'memaksa' agar si dokter memberikan obat. Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang dokter-dokter 'menjual' obat tertentu melalui media. Padahal mestinya dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.

    Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak, anak malah gampang sakit dan terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa semua itu terjadi?

    Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa. Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini seharusnya? Uh! Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa hitam. Aku tak tahu, sungguh! Tapi yang pasti kini aku sadar…telah terjadi kesalahan paradigma pada kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit.

    Disini aku sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya 'hanya' untuk konsultasi, memastikan diagnosa penyakit anakku dan penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik saja. Tapi di Indonesia, bukankah paradigma yang masih kerap dipegang adalah ke dokter = dapat obat? Sehingga tak jarang dokter malah tidak bisa bertindak rasional karena tuntutan pasien.

    Aku juga sadar system kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi. Intinya, system kesehatan yang ada di Indonesia saat ini membuat dokter menjadi sulit untuk bersikap rasional. Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Ah rasanya percuma mencari-cari ujung pangkal salahnya. Menunjuk siapa yang salah pun tak ada gunanya.

    Tapi kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini, mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Yang pasti, sebagai pasien kita pun tak bias tinggal diam. Siapa bilang pasien tak punya kekuatan untuk merubah sistem kesehatan? Setidaknya, bila pasien 'bergerak', masalah kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan.


    Dikutip dari buku "Smart Patient" karya dr. Agnes Tri Harjaningrum

    Rabu, 22 Agustus 2012

    Ukurlah Lingkar Kepala Bayi Anda

    Perhatian para ibu dan orang tua pada umumnya hanya terfokus pada pertumbuhan tinggi dan berat badan sang buah hati saja. Padahal ada satu hal yang cukup penting untuk dilakukan secara teratur, yaitu mengukur lingkar kepala bayi.

    Ukurlah lingkar kepala bayi Anda agar perkembangan otaknya juga bisa dipantau. Catatlah dengan baik pertumbuhannya. Jika selama dua bulan tidak ada penambahan ukuran lingkar kepala bayi, artinya ada sesuatu yang tidak berjalan dengan normal.

    Proses pertumbuhan dan perkembangan otak bayi dipengaruhi oleh faktor genetik, nutrisi dan lingkungan yang berupa stimulasi. Diketahui periode tercepat pertumbuhan otak terjadi pada trimester tiga kehamilan hingga usia anak mencapai tiga tahun.

    Beberapa nutrisi diketahui baik untuk pertumbuhan otak, yaitu :
    1. Zat besi untuk sirkulasi oksigen dan replikasi DNA.
    2. DHA dan AA untuk tumbuh kembang otak yang optimal.
    3. Zinc untuk perkembangan sistem saraf pusat di otak.
    4. Kolin untuk proses pembelajaran dan ingatan.
    5. Taurin untuk perkembangan retina dan otak.



    Tanda-Tanda Bayi Akan Tumbuh Gigi

    Sangat menyenangkan bila melihat bayi Anda mulai mendapatkan gigi pertamanya. Namun ada beberapa tanda yang mungkin kurang nyaman dirasakan bayi Anda. Karena itu, kenalilah tanda-tanda dari seorang bayi yang mulai tumbuh giginya dibawah ini agar Anda dapat memahami apa yang dibutuhkan bayi.

    1. Sering menolak bila diberi makan
    Bayi yang rewel biasanya mudah ditenangkan dengan botol susu atau puting payudara ibu. Tetapi menghisap susu dari payudara ibu ataupun botol susu dapat membuat gusi bayi terasa sakit. Oleh karena itu bayi mungkin akan menolak minum susu atau ketika diberi makanan padat.

    2. Demam ringan
    Seperti peradangan pada anggota tubuh lain, gusi yang meradang kadang-kadang dapat menghasilkan demam ringan. Demam ini biasanya akan reda dengan sendirinya, jika demam berlangsung hingga 3 hari, segera hubungi dokter

    3. Sering mengeluarkan liur
    Tumbuhnya gigi dapat merangsang air liur dan saluran air pada mulut bayi. Hal ini biasanya akan terjadi pada saat bayi berusia mulai dari sepuluh minggu hingga 3 atau 4 bulan.

    4. Batuk
    Air liur yang terlalu banyak dan memenuhi mulut dapat membuat bayi tersedak, muntah, dan batuk.

    5. Pendarahan di bawah gusi
    Tumbuh gigi dapat memicu pendarahan di bawah gusi, yang terlihat seperti benjolan kebiruan. Anda tidak perlu khawatir dengan hal ini karena gusi akan membaik beberapa saat setelah dikompres dengan air dingin.

    6. Merasa sakit
    Peradangan jaringan lunak pada gusi dapat menyebabkan rasa sakit. Gigi yang pertama kali tumbuh biasanya akan lebih menyakitkan dari gigi yang lain, meskipun sebagian besar bayi akhirnya terbiasa dengan tumbuhnya gigi di kemudian hari.

    7. Gampang marah
    Mulut bayi yang terasa sakit dapat membuatnya merasa kurang sehat. Beberapa bayi mungkin lekas marah atau rewel hanya dalam beberapa jam saja, tetapi bayi yang lain mungkin akan tetap rewel selama berhari-hari atau bahkan minggu.

    8. Sulit tidur di malam hari
    Bayi akan merasa tidak nyaman dan terganggu tidurnya karena rasa nyeri yang dia rasakan pada gusinya. Ketika bayi kesulitan untuk terlelap di malam hari, jangan mengatasinya dengan menyusui karena akan membuat gusi bayi semakin sakit dan mengganggu tidurnya.

    9. Timbul ruam di wajah dan dagu
    Ketika bayi tumbuh gigi, dirinya juga akan mengembangkan ruam kering pada kulit atau pecah-pecah di sekitar mulut, dagu atau bahkan di leher karena kontak dengan air liur. Untuk mencegahnya, sapulah air liur bayi yang menetes dengan menggunakan sapu tangan yang lembut. Namun bila, ruam sudah terbentuk, oleskan krim atau lotion bayi yang lembut dan aman bagi bayi.

    10. Jadi suka menggigit
    Tekanan dari gigi yang akan keluar melalui bawah gusi menyebabkan bayi merasa tidak nyaman dan membuat bayi selalu ingin menggigit.




    Selasa, 07 Agustus 2012

    Penyakit Disentri

    Penyakit disentri – Orang sering memberi nama sakit di sekitar perut dan pencernaan sebagai sakit perut saja. Tetapi sakit perut itu beragam jenisnya tergantung penyebabnya. Salah satu penyebab sakit perut adalah kuman seperti pada penyakit disentri.

    Disentri adalah salah satu penyakit yang menyerang saluran pencernaan, khususnya di usus besar. Gejala penyakit ini antara lain mencret dan perut mulas. Kotorannya pun berlendir dan berdarah. Tak jarang pula penderita merasakan sakit di anusnya. Bagi orang di sekitar penderita disentri perlu diperhatikan bahwa penyakit ini sangat cepat menular.

    Gejala dan penyebab

    Disentri berasal dari bahasa Yunani, yaitu dys (=gangguan) dan enteron (=usus) yang berarti radang usus yang menimbulkan gejala meluas dan tinja lendir bercampur darah. Gejala-gejala disentri antara lain :
    - Buang air besar dengan tinja berdarah
    - Diare encer dengan volume sedikit
    - Buang air besar dengan tinja bercampur lendir (mucus)
    - Nyeri saat buang air besar (tenesmus)

    Ciri-ciri saat jika terkena disentri adalah sebagai berikut :
    - Panas tinggi (39,50°C – 400°C), appear toxic
    - Muntah-muntah
    - Sakit kram di perut dan sakit di anus saat BAB
    - Kadang disertai gejala serupa ensefalitis dan sepsis
    - Diare disertai darah dan lendir dalam tinja
    - Frekuensi BAB umumnya lebih sedikit
    - Sakit berut hebat (kolik)

    WHO menyebutkan bahwa sekitar 15 persen dari seluruh kejadian diare pd anak di bawah usia 5 tahun adalah disentri. Adapun hasil survei evaluasi di Indonesia pada tahun 1989-1990 juga menunjukkan angka kejadian yang sama. Disentri menjadi penyebab panting pada kesehatan dan kematian yang dikaitkan dengan diare.

    Karena dampak disentri cukup berat, pada diare yang secara klinis dicurigai sebagai disentri basiler dapat diberikan antibiotik secara empiris untuk kuman Shigella, meskipun belum ada bukit baikkan bakteri pada tinja. Meskipun demikian, menurut Dr. Hegar, hal ini harus diikuti oleh pemantauan klinis, pengobatan yang diberikan harus memberikan respons pada hari ketiga.

    Jika dalam kurun waktu tersebut tidak terlihat respons, harus dilakukan evaluasi apakah disentri tersebut bukan disentri basiler tetapi disentri amuba atau kuman tersebut sudah resisten terhadap antibiotik yang diberikan, sehingga perlu diganti.

    Pengobatan disentri harus segera kalau tidak dapat membahayakan jiwa anak atau kemungkinan komplikasi bisa terjadi. Disentri cukup berat dilaporkan pada bayi yang tidak mendapat ASI dan pada anak dengan gizi kurang. Secara lebih khusus penyebab disentri adalah kuman tertentu dari kelompok Shigella atau sejenis amuba, Entamoeba Histolytica. Kadang-kadang disentri juga disebabkan infeksi parasit babi yaitu Balantidium Coli dan cacing daun (Schistosoma Japonicum) yang banyak terdapat di Sulawesi Tengah.

    Organisme ini disebarkan dari satu orang ke orang lainnya melalui makanan dan air yang sudah dikotori atau yang disebarkan oleh lalat. Kuman disentri ini hidup dalam usus besar manusia dan menyebabkan luka pada dinding usus. Inilah yang menyebabkan kotoran penderita seringkali tercapur nanah dan darah.

    Disentri Basiler biasanya dialami anak-anak yang lebih muda. Kuman penyakit ini masuk langsung ke dalam alat-alat pencernaan dan menyebabkan pembengkakan dan pemborokan dangkal. Peradangan yang hebat mungkin meliputi seluruh usus besar dan juga usus halus baigan bawah.

    Penyakit ini biasanya menyerang dengan tiba-tiba sekitar dua hari setelh terkena kuman terutama pada anak-anak. Setelah itu demam, anak cengeng, dan mudah mengantuk. Nafsu makannya hilang, mual, muntah, mencret, nyeri perut disentri kembung.

    Dua-tiga hari kemudian tinjanya mengandung darah, nanah dan lendir. Penderita mungkin mengeluarkan tinja encer 20 sampai 30 kali sehari sehingga ia bisa kekurangan cairan. Pada tahap parahnya infeksi terjadi hebat dan bisa menyebabkan kematian.

    Untuk mengobatinya biasanya dilakukan dengan mengganti cairan yang keluar seperti oralit. Selain itu pemberian antioksidan sangat penting untuk membunuh kuman. Meski begitu upaya pencegahan adalah dengan menjaga kebersihan, membasmi lalat di rumah, serta jaga makanan dan minuman dari kotoran.



    Sumber :tipsku.info

    10 Tips Untuk Membentuk Pola Makan Sehat Anak



    Peran Ibu untuk menanamkan kebiasaan pola makan sehat pada anak di usia dini sangatlah penting. Berikut adalah 10 tips untuk membentuk pola makan sehat pada anak:
    1. Peranan Ibu untuk menentukan “Apa yang akan dimakan” anak sangat penting. Tingkatkan pengetahuan tentang kebutuhan gizi balita, jenis, makanan, susunan menu yang kreatif serta ciptakan suasana yang menyenangkan di saat makan.
    2. Jangan langsung pasrah atau menyerah saat disajikan makanan, anak berkata, “aku tidak menyukainya”. Penelitian membuktikan bahwa untuk menawari anak makanan baru, diperlukan 10 kesempatan pada saat yang berbeda dan baru berhasil. Moto “Coba dan Coba lagi” harus selalu diterapkan.
    3. Perkenalkan rasa baru kepada anak secara rutin. Mulai dari dalam kandungan dengan mengkonsumsi makanan ibu hamil, ASI dan makanan padat
    4. Jadilah teladan, panutan, dan idola yang baik bagi Si Kecil. Sajikan dan makanlah berbagai macam makanan. Biarkan anak melihat ibu dan anggota keluarga lain menikmati makanan. Dudukanlah Si Kecil di samping Anda dan biarkan dia bereaksi.
    5. Perkuat sikap positif makan anak dengan cara memberikan komentar positif setiap kali anak Anda mengkonsumsi makanan yang sehat dan mencoba makan dengan benar.
    6. Manfaatkan selera makan Si Kecil. Kembangkan selera makannya dan berikan makanan sesuai waktu yang dia inginkan dan tentu saja berikan pada saat Si Kecil lapar.
    7. Lingkungan dan suasana makan harus tenang dan bebas emosi.
    8. Jangan melarang dan memaksakan makanan tertentu karena sikap seperti itu akan berdampak negatif terhadap pola makan anak.
    9. Jangan terlalu dan selalu menekankan masalah makanan.
    10. Izinkan Si Kecil untuk sekali-kali mengkonsumsi minuman dan makanan yang disukainya, dengan catatan: setelah semua makanan sehat dan baik dikonsumsinya.
    11. Ubahlah letak penyimpanan makanan.
    12. Makanan sehat disimpan di tempat yang mudah terlihat dan dijangkau.
    13. Simpan makanan kudapan ditempat yang tersembunyi sehingga Ibu bisa memantau jenis dan jumlah yang dimakan oleh anak.
    14. Tetap santai, tenang dan konsisten dan jangan menyerah pada tuntutan anak dan emosi mereka.
    15. Tumbuhkan rasa bangga dan ucapkan selamat pada diri sendiri karena sudah berhasil memerankan tugas dengan baik untuk membentuk sumber daya manusia yang berkualitas dan cerdas, kunci keberhasilan di masa depan.


    Sumber :Flag's booklet - Kunci Gizi Balita Cerdas


    Menggali bakat anak

    Bakat anak perlu kita perlajari sejak kecil. Tidak semua anak menjadi bintang kelas disekolahnya. Tetapi acap kali hali ini tak disadari sepenuhnya oleh orang tua, maupun sang buah hati sendiri. Akibatnya, rasa rendah diri muncul dan jika tidak di siasati sedari dini bisa menggangu kehidupan sosialnya dikemudian hari.

    Memperkenalkan anak pada berbagai hal menjadi salah satu cara untuk mengetahui minat,bakat anak, dan kemampuan si kecil. Tak ada salahnya jika sesekali mengajak anak menonton konser musik, teater, pertunjukan tari, eksibisi lukisan dan benda-benda seni, atau bertandang ke museum secara berkala. Kegiatan ini tidak hanya menghibur dan mengisi waktu luang, tetapi juga dapat memberikan asupan nutrisi bagi prosses tumbuh kembang anak. Terutama untuk membuka wawasan, sekaligus mengelitik rasa ingin tahunya sehingga kita bisa mengetahui minat dan bakat anak.

    Seorang anak yang tidak pandai secara akademik , yang tidak pandai dikelas dan merasa tidak mampu menjadi yang terbaik di kelas kadang kala akan memiliki kecenderungan menarik diri dari pergaulannya hanya karena dia merasa minder di lingkungan sekelilingnya. Sebagai orang tua yang memiliki anak yang seperti ini jangan mudah menyerah menyemangati, terus berusaha keras dan tidak menyerah di tengah jalan. Kenali anak dengan berbagai macam kegiatan seperti olah raga, menari, menyanyi atau kegiatan yang dapat membuka wawasan pikiran anak, sehingga kadang kala orang tua akan tahu bakat anak dan kemampuan anak yang terpendam. Mungkin anak tersebut menyukai olah raga yang memang digemarinya dan ternyata mamapu mangantarkannya menuju prestasi tersendiri. Kepercayaan diri anak akan meningkat yang secara perlahan lahan memperngaruhi segala hal yang dilakonnya,tak terkecuali dengan nilai akademisnya yang juga akan membaik.

    Kepercayaan dan bimbingan orangtua memang memengang peran utama yang tidak bisa ditampik. Setiap pribadi memiliki keunggulan yang berbeda yang perlu disadari sedari dini.Talenta yang dimiliki seorang anak bisa menjadi besar dan bermakna, ketika ada wadah yang tepat untuk menyuburkannya. Ibarat tanaman, setiap talenta membutuhkan pupuk yang tepat, disemai berkala, dan dirawat sesuai dengan proses tumbuh kembangnya. Tidak ada salahnya memasukan anak pada institusi yang berkualitas seseuai dengan spesifikasi talentanya. Siapa yang menyangka dari hal hal yang sederhana justru menuntun anak menjadi komposer besar disuatu hari nanti, berprestasi di bidang olah raga, atau menjadi koki kenamaan bahkan penulis terkenal. Rasa keingintahuan orang tua terhadap bakat anak perlu ditingkatkan.


    Sumber :kesehatananak

    Nutrisi Serta Gaya Hidup untuk mendukung Kesehatan Anak

    Membicarakan mengenai kesehatan anak, tentunya nutrisi adalah hal yang paling banyak dibahas. Anak masih memiliki tingkat imunitas yang tidak sebaik orang dewasa. Oleh karena itu asupan gizi mereka sudah sepatutnya harus diperhatikan. Menjaga nutrisi yang cukup sesuai dengan usia, berat badan, serta aktivitas akan meningaktkan daya tahan tubuh sehingga tidak mudah diserang penyakit. Selain makanan, asupan multivitamin juga bisa diberikan. Suplemen yang mengandung berbagai vitamin yang dibutuhkan tubuh semasa pertumbuhan dan perkembangan akan membantu pula ketahanan tubuh mereka. Asalkan diberikan secara tepat baik secara komposisi maupun dosis.

    Selain gaya hidup orang tua, pola asuh yang diterapkan pun mempengaruhi kesehatan anak. Pola asuh yang kurang baik diindikasikan oleh kurang maksimalnya pemberian ASI, kurang baiknya pola koinsumsi pangan keluarga dan pola perawatan kesehatan dasar terutama bagi anak usia dini.

    Guru memang menjadi salah satu pihak yang bertangggung jawab dalam menjaga kesehatan anak, tapi yang paling bertanggung jawab adalah orang tua. Karena anak belajar dari keteladanan dan kebiasaaan, gaya hidup orang tua sangat mempengaruhi. Orang tua yang merokok sangat membahayakan kesehatan anak. Dalam sebuah penelitian di Amerika Serikat 22 persen anak yang orang tuannya merokok mengidap penyakit asma dan pernafasan (Murray dkk, 2004 dalam Santrock, 2007). Selain itu, asap rokok juga menyebabkan anak kekurangan vitamin C (Staruss, 2001 dalam Santrock, 2007).

    Selain berbagai penyakit yang berhubungan dengan fisik, kelainan anak yang berhubungan dengan mental pun mempengaruhi kesehatan anak. Penyakit tersebut diantaranya hiperaktif dan pelecehan. Sebagai pendidik PAUD, diperlukan kepekaan untuk melihat berbagai gejala dari kelainan tersebut. Untuk mengatasi hal tersebut, guru harus berkonsultasi dengan orang tua dan psikologi secara intensif sehingga mengetahui bagaimana seharusnya perlakuan pada anak yang memiliki kelainan tersebut.

    Selain asupan makanan dan multivitami, kebersihan menjadi hal penentu pula bagi pertumbuhan dan perkembangan buah hati kita. Peran orang tua di sini sangat penting. Bakteri dan virus yang sering mengancam kesehatan anak memang berada di mana-mana. Kondisi lingkungan sangat perlu diperhatikan. Mulai dari kebersihan pakaian, mainan yang biasa mereka pegang, kebersihan orang-orang yang paling dekat, hingga kebersihan makanan harus diperhatikan. Hal ini juga berhubungan dengan imunitas mereka yang belum kuat. Jika kondisi lingkungan anak tidak diatur dan diperhatikan secara baik dan seksama, maka kesehatan tubuh akan terancam. Anak tidak akan mudah menentukan mana yang bersih atau kotor.

    Menurut Dokter Spesialis Anak RS PKU Muhammadiyah Sampangan, dr Oktora Wahyu W, SpA, saat ditemui Joglosemar, Kamis (25/8), di ruang praktiknya, sebenarnya banyak sekali yang harus dipersiapkan dan diperhatikan untuk si buah hati, khususnya dalam rangka menghadapi Lebaran, mendatang. Namun kebanyakan adalah persiapan umum dan yang paling penting adalah persiapan fisiknya atau kesehatan anak.

    Hal yang paling sering menjadi penyebab sakitnya anak adalah faktor makanan. Kebiasaan untuk jajan sembarangan menjadi faktor penting bagi perkembangan ke depannya. Anak yang cenderung jajan sembarangan akan rentan sakit. Mereka harus diajarkan sejak dini bagaimana harus memilih makanan dan minuman mana yang boleh atau tidak boleh dimakan. Lalu diajarkan keharusan untuk cuci tangan memakai sabun sebelum makan. Kebiasaan kecil seperti ini sangat penting demi terciptanya imunitas tubuh yang baik. Ketika kebiasaan hidup bersih ditekankan diharapkan kesehatan anak juga tetap terjaga .

    Yang paling penting bagi para orangtua adalah si buah hati tidak rewel dan mengganggu kesibukannya. Dan sering pula karena hal tersebut, anak-anak jadi malah mudah sakit atau bahkan sakit saat Lebaran. Kadang juga malah terjadi suatu kecelakaan kecil karena kekurangwaspadaan orangtua mengawasi anak sehingga anak malah tidak bisa merayakan Idul Fitri. Misalnya saja banyak berita tentang orangtua yang membiarkan anak-anaknya bermain kembang api atau mercon tanpa pengawasan, sehingga mengakibatkan kebakaran rumah atau bahkan kematian pada anak karena terkena mercon. Sungguh sangat disayangkan, maka dari itu, seharusnya selama mempersiapkan segala sesuatu untuk Lebaran, kesehatan anak juga tidak boleh diabaikan.


    Sumber :kesehatananak.org

    Selasa, 31 Juli 2012

    Makanan Bermanfaat Merawat Otak

    Otak memerlukan 50% dari seluruh kebutuhan energi atau tenaga dalam tubuh. Kurangnya nutrisi otak,seperti multivitamin, asam amino dan mineral sangat mempengaruhi daya maksimal otak.
    Otak merupakan organ vital bagi manusia. Berbagai potensi dan kemampuan dikendalikan dari otak. Berbagai upaya pun dilakukan untuk mengoptimalkan fungsi otak, terutama pada anak-anak. Tiga prinsip untuk mengoptimalkan fungsi otak adalah nutrisi, stimulasi dan emosi .
    Berikut ini adalah beberapa nutrisi yang sangat baik dikonsumsi untuk merawat dan mengoptimalkan fungsi otak
    Kuning Telur
    Makanan untuk perkembangan otak dan memori melimpah di kuning telur. Inilah mengapa anak di bawah usia tujuh tahun dianjurkan mengonsumsinya, karena area yang mempengaruhi daya ingat masih berada pada tahap awal perkembangan.
    Kacang
    Kacang banyak mengandung vitamin E yang bisa membuat otak sehat,sehingga membantu mencegah kehilangan memori akibat penuaan
    Omega-3
    Asam lemak omega-3 akan diolah menjadi DHA. Mengkonsumsi bahan makanan yang kaya akan asam lemak omega-3 maupun DHA akan melancarkan pengiriman sinyal di otak. Rendahnya tingkat DHA dapat menyebabkan kehilangan memori, kurang konsentrasi atau gangguan suasana hati. Kenari, ikan salmon adalah contoh beberapa bahan makanan yang kaya omega-3.
    Kacang Mete
    Kacang mete kaya magnesium yang memungkinkan produksi oksigen ke sel otak meningkat.
    Biji Kopi
    Biji kopi kaya akan vitamin, mineral, antioksidan dan asam amino. Beberapa penelitian menunjukkan, minum kopi secara teratur dapat mengurangi resiko demensia. Sebuah penelitian di Korea Selatan bahkan mengungkapkan bahwa kopi mengandung zat yang dapat memperlambat pertumbuhan tumor otak.
    Berry
    Stroberi mengandung fisetin disebut flavonoid yang dapat meningkatkan kerja memori di otak. Semua jenis berry, termasuk blueberry, blackberry, juga kaya antioksidan yang dapat membantu mengurangi stress di otak. Semakin gelap warna berry, semakin kaya kandungan antioksidan.
    ***
    artikel muslimah.or.id
    penyusun:  Ummu Hatim Luniet Anggrieta, S. Ked

    Selasa, 26 Juni 2012

    Mencegah Batuk Pada Anak

    Hampir sebagian besar anak pasti pernah mengalami batuk. Mulai dari batuk yang ringan hingga batuk yang harus memerlukan penanganan medis lebih lanjut (dapat dibaca di sini).

    Batuk sangat mengganggu aktivitas anak sehari-hari. Bagaimana cara mencegahnya?
    1. Berikan ASI eksklusif. ASI merupakan sumber imunitas alami yang sangat penting bagi bayi. Survey membuktikan, bayi yang mendapatkan ASI dari ibunya akan lebih tahan terhadap infeksi.
    2. Jangan terlalu sering/mudah memberikan antibiotik pada anak. Seringkali infeksi yang menyerang si kecil (dalam hal ini batuk-pilek) hanyalah infeksi virus yang akan sembuh sendiri tanpa antibiotik.
    3. Tingkatkan daya tahan tubuh anak dengan memberinya makanan bergizi, susu, dan vitamin
    4. Jangan berganti-ganti dokter. Pilihlah dokter yang Anda percayai agar riwayat kesehatan anak dapat diketahui dengan baik.

    Kebanyakan batuk pada anak tidak perlu dikhawatirkan. Namun konsultasikan dengan dokter jika anak Anda menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut:
    • Bibir, wajah, atau lidah berwarna kebiruan
    • Sulit bernafas
    • Bernafas lebih cepat dari biasanya
    • Demam tinggi
    • Batuk berdarah
    • Bayi (di bawah 3 bulan) batuk lebih dari beberapa jam
    • Berbunyi ketika menarik dan menghembuskan nafas
    • Terlihat lemah








    Mengatasi Batuk Pada Anak

    Gejala batuk sering kali kita jumpai pada anak. Batuk sebenarnya merupakan cara alami tubuh untuk membersihkan jalan nafasnya. Namun Anda harus teliti untuk mengamati apakah batuk yang dialami anak Anda termasuk batuk yang biasa saja atau yang memerlukan penanganan medis lebih lanjut. Berikut beberapa jenis batuk pada anak dan cara menanganinya:

    Batuk Akibat GERD (Gastroesophageal Reflux Disease)
    GERD (gastroesophageal reflux disease) sebenarnya disebabkan oleh lemahnya pita otot yang berada di antara esophagus dan perut, sehingga membuat cairan yang seharusnya masuk ke dalam perut, justru mengalir kembali ke atas. Bahkan terkadang cairan ini bisa masuk ke paru-paru dan menimbulkan batuk kronis. Batuk jenis bersifat kering.

    Cara mengatasinya
    1. Sedikit tinggikan bantalnya ketika anak Anda tidur.
    2. Dudukkan selama lebih kurang 30 menit setelah anak Anda selesai makan.
    3. Lebih baik berhenti dulu mengkonsumsi makanan seperti soda, coklat, permen, jeruk dan tomat.
    4. Jika batuk terus berlanjut, segera bawa anak Anda ke dokter.


    Batuk Kering (Pertussis)
    Ketika anak Anda mengalami batu kering, biasanya dalam sekali nafas ia bisa batuk lebih dari 20 kali. Dan ketika ia menarik nafas, biasanya akan terdengar bunyi melengking tinggi. Batuk jenis ini disebabkan oleh bakteri yang menyerang tenggorokan serta paru-paru. Biasanya akan disertai dengan gejala-gejala flu, tapi tanpa disertai demam.

    Cara mengatasinya
    Penyakit ini biasanya diobati dengan menggunakan antibiotik. Hubungi dokter Anda. Terkadang, bayi Anda juga harus dirawat untuk menyedot cairan yang menyumbat tenggorokannya. Pada banyak kasus, batuk ini bisa berlangsung hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.


    Batu sesak
    Batuk sesak sering ditemui pada anak berusia 6 bulan hingga 3 tahun. Penyakit ini sering disebabkan oleh virus parainfluenza, virus respiratory syncytial atau berbagai virus pernafasan lainnya. Biasanya anak akan menunjukkan gejala batuk yang melengking, sering mulai pada pertengahan malam, demam ringan, sesak, pilek selama beberapa hari, dan suara menjadi serak dan berat.

    Cara mengatasinya
    1. Tenangkan anak Anda dengan mengajaknya menonton televisi, membaca buku, atau bermain dengan permainan yang tidak melelahkan. Menangis hanya membuatnya lebih sulit bernafas.
    2. Perbaikilah sistem udara di rumah Anda agar sirkulasi udara segar dapat terus berganti dengan baik.
    3. Gunakan humidifier di kamar tidur anak Anda atau bawa anak Anda untuk bernafas dalam udara lembab di kamar mandi yang beruap hangat selama 10 menit.
    4. Berikan makanan dan minuman segar pada anak Anda. Untuk bayi, Anda bisa memberikan ASI atau formula yang biasa diminumnya. Untuk anak-anak, sup atau buah dingin segar dapat membantu.
    5. Usahakan anak Anda mempunyai waktu beristirahat yang cukup.
    6. Sebaiknya Anda tidur di dekat buah hati Anda atau bahkan di kamar yang sama, sehingga Anda dapat mengambil tindakan cepat jika gejalanya menjadi parah.



    Kamis, 21 Juni 2012

    Mengatasi Biang Keringat Pada Bayi

    Biang keringat merupakan gangguan kulit yang sering kita jumpai pada bayi. Penyebab utamanya adalah tersumbatnya kelenjar keringat pada bayi yang belum sempurna seperti orang dewasa sehingga keringat tidak bisa keluar dengan bebas.

    Biang keringat kerap membuat bayi merasa sangat tidak nyaman karena terasa panas dan gatal. Berikut beberapa yang hal dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya biang keringat pada bayi:
    1. Mandikanlah bayi secara rutin 2 kali sehari.
    2. Pilihlah pakaian yang tidak terlalu tebal dan longgar untuk bayi.
    3. Pilihlah pakaian yang bahannya dapat menyerap keringat, seperti katun.
    4. Bila udara panas dan bayi sering berkeringat, sering-seringlah untuk membasuh keringat bayi dengan handuk yang bersih dan lembut.
    5. Gantilah baju bayi dengan rutin atau jika telah kotor dan basah dengan keringat.
    6. Perbaiki sirkulasi udara di rumah atau kamar bayi supaya udara dalam kamar tidak panas dan juga tidak lembab.

    Pengobatan bila bayi sudah terkena biang keringat:
    1. Gunakan minyak telon yang kandungan minyak kelapanya 60% agar tidak terlalu panas untuk kulit bayi.
    2. Jika ingin menggunakan bedak gunakanlah bedak tabur atau bedak salycil.
    3. Cara tradisional yang dianjurkan secara turun temurun dan terbukti berkhasiat, adalah dengan menggunakan tepung kanji. Balurkan secara tipis dan merata pada permukaan kulit bayi yang sedang teriritasi oleh biang keringat. Tepung kanji dapat menyembuhkan gatal yang dikarenakan biang keringat dengan cepat. Namun jika telah menggunakan tepung kanji namun kondisi tidak membaik, segera periksakan buah hati ke dokter atau puskesmas terdekat.




    Rabu, 13 Juni 2012

    Mengatasi Cegukan pada Bayi

    Cegukan merupakan kondisi yang tidak menyenangkan dan dapat dialami oleh setiap orang di segala usia, termasuk bayi. Cegukan sebenarnya adalah gerakan refleks dari tubuh dan disertai dengan suara yang khas akibat perubahan yang terjadi pada diafrragma.

    Diafragma memainkan peran utama dalam perjalanan respirasi dan proses metabolisme. Diafragma bekerja dengan menarik dan mendorong secara teratur untuk mengatur masuk dan keluarnya udara selama proses respirasi. Diafragma akan terganggu fungsinya jika ada sesuatu yang menghambat proses ini baik dari faktor eksternal ataupun internal.

    Penyebab cegukan antara lain:
    • Pengencangan diafragma secara mendadak sehingga udara secara tiba-tiba tertarik masuk lewat mulut dan menimbulkan suara cegukan.
    • Cegukan seringkali muncul bila bayi tertawa selagi makan atau minum.
    • Cegukan juga bisa disebabkan oleh serangga yg masuk kesaluran telinga dan menyentuh gendang telinga.
    • Stres yang dialami bayi juga dapat menyebabkan dia cegukan.
    • Penurunan suhu yang dapat menyebabkan seorang bayi kedinginan juga bisa memicu cegukan.
    • Makan atau minum susu terlalu cepat.
    • Posisi menyusui yang salah.

    Cegukan ini kadang mengganggu tapi selama bayi tetap merasa bahagia, tersenyum dan dapat makan serta minum dengan baik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

    Sebenarnya jika bayi cegukan tak banyak yang bisa dilakukan orangtua, karena biasanya cegukan ini akan hilang dengan sendirinya. Tapi jangan pernah mencoba menghentikan cegukan dengan cara mengagetkan atau mengejutkannya.

    Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua untuk menghilangkan atau mencegah cegukan pada bayi:
    1. Pastikan bayi minum secara perlahan-lahan.
    2. Sendawakan bayi setelah menyusui untuk mencegah cegukan.
    3. Mengubah posisi menyusui dan mencoba menenangkannya.
    4. Jangan terburu-buru bila memberi makan atau minum pada bayi.
    5. Jika bayi cegukan saat minum atau makan, maka cobalah untuk menepuk-nepuk bayi pelan-pelan dan membiarkannya rileks dulu, sebelum melanjutkan maka atau minum.





    Minggu, 13 Mei 2012

    Lendir Babi Dapat Memperkuat Sistem Imun Dalam Susu Formula

    Sebuah hasil penelitian yang cukup mengejutkan dihasilkan oleh seorang insinyur biologi di Institut Teknologi Massachusetts, Katharina Ribbeck. Ribbeck dan timnya menemukan bahwa lendir dari perut babi dapat memperkuat sistem imun bayi bila ditambahkan ke dalam susu formula.

    Seperti diketahui, susu formula bayi tidak memiliki unsur sistem kekebalan tubuh yang melindungi bayi terhadap penyakit bila dibandingkan dengan air susu ibu.

    Lendir yang biasanya dianggap sangat menjijikan itu merupakan penghalang alami dari kuman penyakit dan membantu memperkuat sistem pertahanan tubuh.

    Dalam penelitiannya, Katharina Ribbeck melapisi sel manusia dengan gel mucin (protein yang merupakan komponen utama dari lendir) sebelum diberi 3 jenis virus.

    Virus-virus tersebut kemudian terjebak dalam gel dan tidak menginfeksi sel. Hal ini diduga disebabkan karena tertahan oleh mucin, atau bisa jadi virus mengikat molekul gula pada mucin yang mirip dengan molekul sel inang.

    Tiga jenis virus yang diuji adalah Human Papillomavirus (HPV), Influenza A (sejenis virus flu) dan Merkel Cell Polyomavirus (virus yang dapat menyebabkan kanker kulit).

    Namun penelitian yang dimuat dalam jurnal Biomacromolecules ini baru dilakukan pada sel manusia di laboratorium, sehingga masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menunjukkan manfaatnya pada manusia.

    Selain itu, karena mucin yang dipakai dalam penelitian bersumber dari perut babi, sedangkan sebagian orang tidak nyaman dengan hewan tersebut, maka para peneliti akan memikirkan kemungkinan dipakainya mucin sintetis di masa depan.

    Sebenarnya mucin saat ini sudah banyak dipakai dalam beberapa produk, tapi bukan karena sifat antivirusnya. Misalnya, mucin ditambahkan ke pelembab sebagai bahan pelembab.



    Selasa, 13 Desember 2011

    Viagra Mempertahankan Hidup Seorang Anak

    Kerrie dan Gareth, pasangan asal Newport, South Wales, terkikik saat dokter merekomendasikan viagra untuk mempertahankan hidup bayinya, Cerys Small, yang menderita kelainan kronis sejak lahir. Muncul keraguan membayangkan putri kecilnya harus mengonsumsi obat disfungsi seksual.

    "Kami merasa lucu ketika dokter mengatakan kepada kami mengenai obat yang dibutuhkan Cerys," kata Kerry, seperti dikutip Daily Mail.

    Putri bungsunya terlahir dengan cacat jantung kronis, tak memiliki limpa, dan bermasalah dengan organ pencernaannya. Di usianya yang kini masih 10 bulan, bocah tersebut sudah menjalani tiga kali operasi jantung.

    Dokter masih menjadwalkan operasi lanjutan untuk melepaskannya dari siksaan sianosis, gangguan sirkulasi darah yang membuat tubuhnya membiru. Hanya, operasi tak bisa segera dilakukan karena fisik Cerys masih ringkih. Butuh jeda tiga sampai empat tahun baginya untuk bisa menjalani operasi lagi.

    Dokter lantas memikirkan upaya untuk membuat Cerys bertahan sampai operasi selanjutnya berlangsung. Dokter akhirnya memberi resep berupa viagra yang harus dikonsumsi setiap hari untuk melancarkan sirkulasi darah.

    "Viagra membuat Cerys tetap hidup, setidaknya sampai tiga atau lima tahun ke depan untuk menghadapi operasi lanjutan," kata Kerry. "Banyak orang, termasuk kami, tidak menyadari bahwa viagra mulanya memang dikembangkan untuk mengobati gangguan jantung".

    Tak hanya Cerys, seorang bocah asal Inggris, Calvin Muteesa, juga mengonsumsi viagra sejak usia tiga bulan demi bertahan hidup. Ia menderita pulmonary arterial hypertension, penyakit langka yang membuat tekanan darahnya menjadi sangat tinggi sehingga paru-paru kekurangan oksigen.

    Muteesa mengonsumsi obat impotensi itu untuk melemaskan arteri dan memperlancar aliran darah yang membawa oksigen ke paru-paru. Demi bertahan hidup, balita ini harus mengonsumsi viagra empat kali sehari hingga cukup umur untuk menjalani transplantasi paru-paru dan jantung.