Tampilkan postingan dengan label Profesi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profesi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 November 2011

Alasan Wanita Kembali Bekerja Usai Melahirkan

Kembali bekerja atau tidak setelah melahirkan merupakan dilema yang umum dihadapi para ibu bekerja. Zaman sekarang sebagian besar para ibu memilih kembali bekerja setelah melahirkan, meski menyadari kembali bekerja berarti harus mempekerjakan tenaga pengasuh untuk merawat anak selama ibu bekerja.

Teresa Wilson, penulis buku Working Parents Companion sekaligus tutor diskusi pascapersalinan pada National Childbirth Trust (NCT) mengemukakan, ada empat alasan yang paling umum melatari ibu memilih kembali bekerja setelah melahirkan, antara lain karena merasa terisolir.

Ibu bekerja umumnya merasa sudah akrab dengan lingkungan pekerjaannya, sehingga ketika tinggal beberapa bulan di rumah dalam rangka cuti melahirkan, dia merasa tidak mengenal secara baik orang-orang di sekitar rumahnya.

Ibu yang sudah terbiasa bekerja di kantor butuh penyesuaian untuk menghadapi kehidupan yang sama sekali berbeda dengan kehidupannya di tempat kerja. Kehadiran bayi, tentu mengacaukan spontanitas mereka untuk beberapa waktu lamanya, dan kondisi ini tak mungkin ditolak.

“Sehingga, tidaklah mengherankan bila para ibu memilih kembali bekerja setelah melahirkan untuk mendapatkan kembali kehidupan dunia kerja yang sudah sangat diakrabinya,” kata Teresa dalam bukunya.

Sebagian besar ibu yang kembali bekerja, bukan karena mereka ingin bekerja. Bagaimanapun, perasaan bersalah meninggalkan anak diasuh orang lain tetaplah ada. Namun, mereka juga tidak dapat menutup mata dengan kenyataan bahwa biaya hidup zaman sekarang sangatlah tinggi.

“Ini kenyataan yang kerap dihadapi oleh para ibu sebagai pengelola keuangan keluarga. Tidak ingin kesulitan dengan uang yang ada, para ibu banyak yang memilih kembali bekerja setelah melahirkan anak mereka,” terang Teresa.

Selain dua hal diatas, Teresa juga mengungkap alasan lain yang membuat ibu kembali bekerja usai cuti melahirkan yaitu mendapatkan jaminan pada hari tua karena kesadaran bertanggung jawab atas nasibnya sendiri dan pengalaman memiliki ibu yang bekerja sebagai panutasn semasa kecil.

“Anak perempuan yang ibunya bekerja, cenderung bersikap sama ketika dewasa. Anak-anak yang tetap merasa gembira dan bahagia meskipun para ibu mereka bekerja, cenderung berpikir bahwa anak-anak mereka pun, meskipun ditinggal bekerja, akan tetap gembira,” tegasnya.
republika.co.id

Senin, 21 November 2011

Jika Tak Puas dengan Pekerjaan

Banyak karyawan yang gelisah di kantornya karena berbagai hal sehingga tak betah dan ingin pindah. Penyebabnya tak melulu soal gaji, mungkin juga karena timbulnya ketidakpuasan, mentoknya karir, bentrok dengan rekan kerja, atau status kekaryawanan yang tak jelas. Pada kasus yang terakhir, misalnya, seorang karyawan yang sudah dua tahun ditempatkan di bagian marketing, tapi surat keputusan (SK) status kekaryawanannya masih di bagian riset dan pengembangan, mungkin ia merasa tidak nyaman.  
Dennis Nishi, editor karir di The Wall Street Journal, mengatakan, jika Anda telah menandai waktu di tempat kerja dan berharap untuk mendapatkan pekerjaan baru, Anda tidak sendirian. Namun para ahli dunia kerja mengingatkan untuk berhati-hari agar pencari kerja tidak melompat terlalu cepat dari kapal. Jika Anda pindah terlalu cepat, Anda akan berakhir di pekerjaan baru. Namun, Anda dapat meningkatkan peluang Anda untuk menemukan sesuatu yang berharga dengan perencanaan ke depan dan melakukan penelitian.
Apa yang harus dilakukan? Lebih lanjut Nishi mengatakan, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengevaluasi kembali mengapa Anda tidak puas dengan pekerjaan Anda saat ini. Jika Anda tidak cukup tertantang, mungkin ada cara untuk melakukan perubahan tanpa meninggalkannya. “Mungkin ada cara bahwa pekerjaan Anda dapat berubah menjadi lebih baik atau peran Anda di perusahaan tersebut diperluas untuk menawarkan lebih banyak tantangan,” kata Tony Mulkern, seorang konsultan manajemen berbasis di Los Angeles, Amerika Serikat.
Dalam kaitan tersebut, Nishi memberikan sejumlah saran, sebagai berikut. Cari peluang pekerjaan di departemen lain atau pada tingkat yang lebih tinggi yang mungkin Anda memenuhi syarat untuk pendidikan lanjutan dengan beberapa tambahan keterampilan, dan minta manajer Anda untuk mendukung usaha Anda untuk mendapatkan pelatihan yang Anda butuhkan.
Jika peluang memang tidak ada atau Anda tidak puas dan sulit untuk bergerak, mantapkan jaringan pribadi dan profesional Anda untuk mendapatkan informasi tentang siapa yang bisa merekrut Anda.
Jika Anda tahu seseorang di perusahaan yang Anda targetkan – atau seseorang dalam jaringan Anda – lakukan sesuatu untuk mendapatkan referal pribadi darinya. Namun berhati-hati dengan permintaan Anda.
Bila Anda mendapat panggilan untuk wawancara, gunakan kesempatan itu untuk mempelajari perusahaan tersebut. Anda harus mendapatkan dari mereka sebanyak yang bisa didapat dari Anda, kata Sharon Armstrong, seorang konsultan sumber daya manusia di Washington. Gaji dan tunjangan itu yang penting, tetapi Anda juga ingin memastikan Anda yang kompatibel.
Jika Anda mendapatkan penawaran, sebelum Anda menerima, pertimbangkan untuk melakukan penelitian keuangan perusahaan lebih mendalam, antara lain tentang neraca laba rugi dan rencana bisnis.
Apa pun yang Anda lakukan, jangan keluar dari pekerjaan Anda sampai Anda yakin bahwa Anda dipekerjaan di tempat baru, kata Armstrong. “Bahkan jika tawaran pekerjaan tampak dekat, ada banyak hal yang dapat terjadi pada menit terakhir.”
Jika perusahaan Anda saat ingin menahan Anda, ingatlah mengapa Anda pergi. “Orang jarang pindah kerja hanya untuk uang, jadi jangan terpengaruh dengan tawaran gaji lebih besar jika semua hal lain tetap sama,” kata Armstrong.
tempointeraktif.com

Jumat, 28 Oktober 2011

Mengatasi Tekanan Pekerjaan

Tekanan kerja biasanya adalah sebuah tanggapan atas ketegangan emosi yang terus-menerus.

Tekanan kerja biasanya adalah sebuah tanggapan atas ketegangan emosi yang terus-menerus. Selanjutnya, kondisi itu akan mengarah pada perasaan seseorang yang tidak berguna dan akhirnya kelelahan.

Lalu, bagaimana cara efektif untuk mengatur pekerjaan yang berhubungan dengan tekanan. Les dan Leslie Parrot, dalam bukunya berjudul Questions Couple Ask memberikan beberapa kiat sederhana.

Pertama, sesuaikan harapan dan tempatkan tujuan secara realistis.
Hal itu akan menempatkan tujuan yang dapat dicapai berdasarkan penilaian kejujuran terhadap kemampuan dan penghargaan seseorang.

Kedua, kerjakan tugas secara bervariasi.
Tentukan bagian pekerjaan yang dapat diubah dan tidak. Analisis mengenai konsekuensi dari sebuah perubahan dalam prosedur pekerjaan. Bicarakan dengan teman sekantor atau atasan Anda untuk mengikuti seminar sehingga akan memperoleh ide baru tentang pekerjaan Anda.

Ketiga, menjauhlah dari pekerjaan untuk sesaat.
Luangkan waktu sekitar 15 menit untuk beristirahat, minum kopi, atau makan makanan ringan. Namun, hindari bekerja sepanjang jam makan siang atau kembali ke kantor sore hari untuk menyelesaikan pekerjaan.

Keempat, usahakan relaksasi dan istirahat yang cukup.
Usahakan tidur yang cukup dan gunakan teknik relaksasi seperti teknik peregangan otot-otot dan latihan pernafasan yang dalam. Selain itu, dengarkan musik, meditasi, atau mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan aktifitas fisik dan menekuni sebuah hobi.
• VIVAnews