Tampilkan postingan dengan label Genetika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Genetika. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 November 2012

Macam-macam dan Fungsi RNA

Macam-macam dan Fungsi RNA - Berdasarkan tempat terdapat dan fungsinya, RNA dibedakan menjadi RNA m (RNA messenger), RNA r (RNA ribosom), dan RNA t (RNA transfer). 

1) RNA m (RNA messenger) 

RNA m disebut juga RNA duta (RNA d) atau RNA kurir. Menurut Francois Jacob dan Monod (1961), setelah RNA dibentuk oleh DNA di dalam inti, RNA m membawa cetakan-cetakan ke sitoplasma dan bergerak di atas ribosom. RNA m menempatkan kode genetik berupa 3 urutan basa nitrogen kodon-kodonnya berturut-turut di ribosom untuk menyusun asam amino. RNA m ini dibentuk pada saat sel hendak melakukan sintesis protein. Macam RNA m yang dibentuk oleh DNA tergantung jenis protein yang akan disusun. Oleh karena itu, RNA m ini dapat ditemukan di dalam inti sel dan di sitoplasma. RNA m merupakan molekul untaian tungal. RNA m ini membawa informasi genetik dari DNA ke ribosom. 

2) RNA r (RNA ribosom) 

RNA r dibentuk dari prekusor yang disebut RNA pra ribosom, mempunyai berat molekul sekitar 2 juta, dan merupakan molekul paling besar dibandingkan RNA m dan RNA t. RNA ribosom mengandung 50 – 2.000 asam amino. Bersama-sama dengan protein, RNA ini akan membentuk struktur ribosom yang mengatur proses translasi. 

3) RNA t (RNA transfer) 

RNA t disebut RNA pemindah dan merupakan RNA yang terpendek. Fungsi RNA t adalah menerjemahkan kode-kode ( kodon) yang dibawa oleh RNA m. Hasil terjemahan ini berupa deretan basa nitrogen yang sesuai dengan kodon yang ada pada RNA d atau RNA m. RNA t membawa pasangan kodon pada RNA m, sehingga disebut antikodon (Gambar 1.1). RNA t juga membawa asam amino yang sesuai dengan kodon- kodon RNA d atau RNA m.

Bagian-bagian-t-RNA
Gambar 1.1. Bagian-bagian t RNA

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : SMA dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

RNA

RNA - Pada akhir abad ke-19, telah ditemukan bahwa sel memiliki asam nukleat yang disebut ribonukleat atau Ribonucleic Acid (RNA). RNA mempunyai beberapa ciri yang berbeda dengan DNA

1. Struktur kimia RNA

2. Macam-macam dan Fungsi RNA


Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : SMA dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Struktur Kimia DNA

Struktur Kimia DNADNA dan RNA tersusun oleh nukleotida-nukleotida yang saling terpaut membentuk polinukleotida yang amat panjang. DNA merupakan molekul yang besar (makromolekul) dan terdiri dari dua rantai polinukleotida yang saling berikatan. Setiap nukleotida tersusun atas 3 komponen, antara lain: sebuah basa nitrogen, sebuah gula pentosa yaitu deoksiribosa, dan satu gugus fosfat. Basa nitrogennya meliputi basa purin dan basa pirimidin. Basa purin meliputi guanin (G) dan adenin (A), basa pirimidin meliputi sitosin (C) dan timin (T). Basa nitrogen purin dari heliks, yang satu berpasangan dengan basa pirimidin dari heliks yang lain membentuk struktur yang disebut double helix (heliks atau rantai ganda). Perhatikan Gambar 1.1.

Struktur heliks untai DNA
Gambar 1.1. Struktur sebuah heliks DNA (sebuah untai DNA).
Struktur tersebut disebut juga “rantai ganda Watson- Crick” karena ditemukan oleh James Watson dan Francis Crick. Jika basa purinnya adalah ade nin maka pirimidinnya timin (membentuk ikatan ganda A=T), jika basa purinnya guanin maka pirimidinnya sitosin (membentuk ikatan rangkap tiga G 􀀃 S). Oleh karena itu, untaian rantai ganda bersifat komplementer (basa nitrogen pada rantai yang satu merupakan pasangan basa nitrogen pada rantai lainnya). 

Pada virus bakteriofag T2 (fag T2) tidak terdapat basa sitosin, melainkan basa pirimidin yang menyerupai sitosin. Basa purin pada heliks satu dengan pirimidin heliks pasangannya dihubungkan oleh ikatan hidrogen. Pada heliksnya, basa nitrogen berikatan dengan gula pentosa deoksiribosa. Gula pentosa tersebut mengikat gugus fosfat. Basa nitrogen, gula deoksiribosa, dan gugus fosfat membentuk satu molekul nukleotida (Gambar 1.2). Nah, gugus fosfat tersebut menghubungkan antara nukleotida satu dengan yang lain dalam satu rantai atau heliks yang sama. Apabila rantai ganda DNA dapat diibaratkan sebagai sebuah tangga maka ikatan basa purin dengan pirimidin sebagai anak tangganya, sedangkan gula deoksiribosa beserta fosfatnya sebagai ibu tangganya.

Rantai ganda DNA
Gambar 1.2. Rantai ganda DNA.
gugus-fosfat-deoksiribosa-basa-nitrogen
Menurut Chargaff (1940), jumlah adenin (A) = timin (T) dan jumlah guanin (G) = sitosin (C). Data sinar X Rosalind Franklin, heliks ganda DNA membentuk satu putaran penuh setiap 3,4 nm panjang heliks ganda. Jarak antara pasangan nukleotida satu dengan nukleotida berikutnya adalah 0,34 nm. Dengan demikian, jumlah pasangan nukleotida setiap satu putaran penuh adalah 10 nukleotida. Perhatikan Gambar 1.3a.

Bagan skematis rantai ganda DNA dapat disederhanakan dengan menggambar gugus fosfat dan deoksiribosa pada sebuah garis. Huruf-huruf yang ada menggambarkan macam basa nitrogennya. Perhatikan
Gambar 1.3b. Nukleotida yang satu dengan nukleotida yang lain berhubungan satu sama lain melalui ikatan fosfodiester. Ikatan atau hubungan tersebut selalu sama. Artinya, gugus fosfat mengikat residu deoksiribosa pada atom karbon nomor 5 (5´= primer) dan atom karbon nomor 3 (3´ = 3 primer) pada residu deoksiribosa nukleotida berikutnya. Oleh karena itu, polinukleotida DNA merupakan molekul-molekul yang linear. Perhatikan Gambar 1.3c.


Double helix DNA ikatan fosfodiester
Gambar 1.3. (a) Double helix DNA secara skematis, (b) Double helix DNA sederhana , (c) Ikatan fosfodiester DNA

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : SMA dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Sifat dan fungsi DNA


Sifat dan Fungsi DNA - Selain di dalam nukleus, DNA dapat ditemukan pada organel mitokondria, plastida, dan sitoplasma (dalam jumlah yang sedikit). DNA merupakan komponen yang ditemukan secara ekslusif di dalam kromosom dan mempunyai sifat dan fungsi, antara lain:
  1. Merupakan material kromosom sebagai pembawa informasi genetik, melalui aktivitas pembelahan sel (lihat point 3).
  2. Tebalnya 20 Å (Amstrong) dan panjangnya beribu-ribu Å (1 Å = 10 -10 meter).
  3. Dapat melakukan replikasi, yaitu membentuk turunan atau menggandakan diri. DNA hasil replikasi ( DNA anak) memiliki urutan basa yang identik dengan yang dimiliki oleh heliks ganda parental ( DNA induk).
  4. Pada sel organisme prokariotik (bakteri), DNA berantai tunggal. Pada sel eukariotik, DNA berupa heliks (rantai) ganda.
  5. Pada suhu mendekati titik didih atau pada pH yang ekstrim (kurang dari 3 atau lebih dari 10), DNA mengalami denaturasi (membuka). Jika lingkungan dikembalikan seperti semula, DNA dapat kembali membentuk heliks ganda, disebut renaturasi.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : SMA dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Sejarah Penemuan DNA Double Helix

Sejarah Penemuan DNA Double Helix - Penemuan DNA dimulai sejak ditemukannya senyawa nuklein pada inti sel leukosit oleh Miescher (tahun 1868). Senyawa ini sekarang disebut sebagai DNA (Deoxyribo Nucleic Acid). Tahun 1940, Chargaff menemukan susunan basa pada DNA yaitu basa purin (guanin dan adenin), serta basa pirimidin (sitosin dan timin). Tahun 1943, Oswalt T. Avery, Colin Mac Leod, dan MacLyn, serta Alfred D. Hershey dan Marta Chase (tahun 1952), menyatakan bahwa DNA adalah pembawa informasi genetik. Akhirnya pada tahun 1953, penemuan James Watson (ahli genetika dari Amerika) dan Francis Crick (dokter dari Inggris) mencengangkan dunia. Keduanya melakukan penelitian bersama- sama di Universitas Cambridge dan menemukan struktur DNA sebagai pita double helix (heliks ganda) yang terpilin ke arah kanan. (Sumber: Lehninger, Dasar-dasar Biokimia).


Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : SMA dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

DNA

DNA - Di dalam kromosom sel eukariotik, selain materi genetik DNA (Deoxyribo Nucleic Acid), terdapat juga RNA (Ribo Nucleic Acid). Kedua materi genetik tersebut dikenal sebagai asam inti atau asam nukleat. Berkat penemuan Alfred dan Marta Chase (1952), diketahui bahwa DNA lah yang membawa dan menyimpan informasi genetik sel. Jumlah dan jenis informasi di dalam setiap sel (tiap sebuah sel) sangat banyak. DNA sebagai penyimpan informasi genetik adalah material kromosom.





Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : SMA dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Sejarah Penemuan Kromosom

Sejarah Penemuan Kromosom - Flemming (1879) adalah orang yang pertama kali melihat adanya benda yang membelah di dalam sel. Roux (1883), menduga bahwa benda-benda tersebut terlibat dalam pembentukan individu keturunan. Akhirnya, Waldeyer (1888) adalah orang yang pertama kali memberi nama benda tersebut kromosom (Latin, krom = warna dan soma = tubuh). (Sumber: Campbell, Reece, & Mitchell, Biologi 1, hlm. 120).


Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : SMA dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Komponen Kromosom


Komponen Penyusun Kromosom - Di dalam sel, setiap kromosom berpasang-pasangan dengan kromosom lain yang identik, sehingga disebut kromosom homolog. Setiap pasang kromosom tersebut merupakan pasangan kromosom homolog. Kromosom mempunyai komponen utama, antara lain: DNA (Deoxyribo Nucleic Acid atau asam nukleat deoksiribosa), protein histon, dan protein non histon. Protein histon bersifat basa kuat dan menetralkan keasaman DNA. Lalu, apa hubungan antara histon dengan DNA?

Histon adalah protein berbentuk seperti manik-manik yang membentuk untaian. DNA melipit atau mengelilingi kumpulan histon (setiap 8 histon) tersebut dan membentuk ikatan dengan histon. Kumpulan manik-manik histon yang dikelilingi oleh DNA ini membentuk struktur disebut nukleosom. Setiap nukleosom tersusun oleh 8 manik dengan 1 atau 2 lilitan DNA. DNA dan protein histon tersebut terdapat pada bagian kromomer.

Nukleosom
Gambar 1.1. Nukleosom

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : SMA dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Genom Ploidi


Genom Ploidi - Di depan telah dipelajari tentang contoh karyotipe manusia. Sel manusia mempunyai kromosom sebanyak 46 buah atau 23 pasang kromosom. Setiap pasang kromosom terdiri dari 2 buah kromosom yang membentuk pasangan homolog. Dapat dikatakan bahwa sel tubuh manusia memiliki 23 pasang atau 23 macam kromosom homolog. Jumlah atau keseluruhan set atau perangkat dari bermacam-macam homolog tersebut dinamakan genom atau ploidi. Setiap macam homolog terdiri dari 2 buah kromosom, artinya sel tubuh (sel somatis) manusia terdiri dari 2 set kromosom sehingga disebut diploid (biasa ditulis 2n).

Apakah kalian mengetahui cara mencari jumlah kromosom sel gamet? Sel gamet (sel telur dan sel sperma) memiliki separuh jumlah kromosom sel tubuh (sel somatis). Jika sel somatis manusia memiliki 46 buah kromosom, maka sel telur manusia memiliki 23 buah kromosom, yang terdiri dari 22 kromosom autosom dan 1 kromosom seks. Demikian pula pada sel sperma manusia. Setiap pasangan homolog sel somatis (sel tubuh) membelah menjadi 2, sehingga sel gamet memiliki 23 buah kromosom dimana setiap macamnya hanya terdiri dari satu buah kromosom saja. Dengan demikian, sel gamet (sel kelamin) hanya memiliki satu set atau satu perangkat kromosom dan disebut haploid (biasa ditulis n).


Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : SMA dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Ukuran Kromosom

Ukuran Kromosom - Spesies yang berbeda memiliki ukuran kromosom yang berbeda. Pada umumnya, kromosom sel tumbuhan lebih besar dibanding kromosom sel hewan. Ukuran kromosom tersebut kadang-kadang berhubungan dengan jumlah kromosom. Apabila jumlah kromosomnya sedikit, biasanya kromosomnya lebih panjang. Rata-rata ukuran panjang kromosom adalah 0,2 – 0,5 µ dengan diameter 0,2 - 20 µ.

Berdasarkan ukuran (panjang), jumlah, dan bentuk kromosom maka kromosom sel somatis dapat disusun atau diatur secara standar. Hasil penyusunan ini disebut karyotipe. Perhatikanlah karyotipe kromosom manusia yang mempunyai 46 kromosom (23 pasang) pada Gambar 1.1. Bukankah dalam 1 sel, ukuran kromosom dapat beraneka ragam?

Karyotipe kromosom manusia wanita
Gambar 1.1 Karyotipe kromosom manusia (wanita) dengan 23 pasang kromosom. No 1-22 : pasangan autosom. No 23 : kromosom seks

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : SMA dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Bentuk Kromosom

Bentuk Kromosom - Berdasarkan letak sentromernya, bentuk kromosom dikelompokkan menjadi empat, yaitu:

1) Metasentris

Kromosom ini memiilki 2 buah lengan yang sama panjang, sentromernya tepat ada di tengah (Gambar 1.1a).

2) Submetasentris

Lengan kromosom tidak sama panjang, sentromer terletak tidak di tengah. Sentromer agak mendekati ujung salah satu lengan kromosom. Sentromer berada di daerah submedian (Gambar 1.1b).

Bentuk-kromosom
Gambar 1.1. Bentuk Kromosom
3) Akrosentris

Sentromernya mendekati salah satu ujung lengan kromosom (sub terminal). Lengan yang satu, jauh lebih panjang dari lengan kromosom yang lain (Gambar 1.1c).

4) Telosentris

Kromosom ini hanya memiliki sebuah lengan karena sentromernya terletak pada ujung salah satu lengan kromosom (Gambar 1.1d).

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : SMA dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Jumlah dan Tipe Kromosom

Jumlah dan Tipe Kromosom - Menurut Benden dan Boveri (1887), jumlah kromosom pada setiap jenis organisme berbedabeda, namun bersifat tetap (konstan). Jumlah kromosom tiap jenis organisme menunjukkan banyaknya kromosom yang ada pada sebuah sel organisme tersebut. Tubuh organisme bersel banyak (multiseluler), mempunyai 2 jenis kelompok sel yaitu sel somatis (sel tubuh) dan sel gamet (sel kelamin). Jumlah kromosom pada sel gamet (sel kelamin) adalah separuh dari jumlah kromosom yang ada pada sel somatis (sel tubuh).

Dengan demikian, sel gamet bersifat haploid (n kromosom) dan sel somatis bersifat diploid (2n kromosom). Berdasarkan jenis selnya, kromosom dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu kromosom sel tubuh (autosom) dan kromosom sel kelamin (gonosom). Kromosom autosom pada organisme jantan dan betina adalah sama. Kromosom autosom tidak menentukan jenis kelamin (penentuan jenis kelamin akan dibahas pada bab hereditas).

Kromosom seks (gonosom) pada organisme jantan berbeda dengan kromosom organisme betina. Kromosom ini disebut juga kromosom jenis kelamin. Organisme yang normal memiliki kromosom seks sepasang (2 buah) saja. Jumlah kromosom sel somatis tumbuhan, hewan, dan manusia berbeda satu sama lain. Pada mamalia misalnya, sel somatis (diploid) manusia mengandung 46 buah kromosom, sedangkan gorila 48 kromosom. Perhatikanlah Tabel 1.1.

No.
Kelompok Organisme

Nama Organisme

Jumlah Kromosom
(buah)

A. Hewan (Animalia)
1.
Protozoa
Amoeba
50
2.
Coelenterata
Hidra
32
3.
Mollusca
Bekicot
54
4
Arthropoda
Lalat buah
8


Nyamuk
6
5.
Pisces
Ikan mas
100
6.
Amphibi
Katak
26
7.
Aves
Ayam
78


Itik
80
8.
Mammalia
Kelinci
44


Kucing
38


Anjing
78


Keledai
62


Kambing
60


Domba
54


Kera
42


Gorila
48


Manusia
46
B. Tumbuhan (Plantae)
1.
Gymnospermae        
Pinus
24
2.
Angiospermae
Bawang merah
16


Kentang
48


Tembakau
48


Padi
24


Jagung
20


Tebu
80



Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : SMA dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Struktur Kromosom

Struktur Kromosom - Makhluk hidup yang ada di alam ini tidak semuanya mempunyai struktur kromosom yang sama dengan kromosom manusia. Bakteri dan virus mempunyai kromosom sirkuler (membulat). Kromosom mempunyai 2 bagian utama yaitu sentromer (kinetokor) dan lengan.

1) Sentromer (Kinetokor)

Sentromer disebut juga bagian kepala kromosom. Bagian ini berfungsi sebagai tempat melekatnya benang-benang gelendong pembelahan pada waktu sel membelah.

2) Lengan Kromosom

Kromosom dapat mempunyai satu buah lengan atau dua buah lengan, bahkan ada yang tidak mempunyai lengan. Kromosom dengan dua lengan dapat mempunyai lengan yang sama panjang atau berbeda panjangnya (lengan yang satu panjang dan lengan yang lain pendek). Bagian lengan berisi cairan yang dinamakan matriks. Pada matriks tersebut terdapat benang halus atau pita berbentuk spiral yang disebut kromonema (jamak = kromonemata). Perhatikan Gambar 1.1. 

Bagian bagian kromosom
Gambar 1.1. Bagian-bagian kromosom
Penebalan dari kromonema ini disebut kromomer. Ada yang menganggap kromomer tersebut sebagai nukleoprotein. Di daerah tertentu pada lengan kromosom terbentuk lekukan sekunder. Lekukan sekunder berfungsi sebagai tempat terbentuknya anak inti atau nukleolus. Pada daerah ujung kromosom (ujung lengan) terdapat bagian yang disebut telomer. Fungsi bagian ini untuk mencegah agar kromosom satu dan yang lain tidak berlekatan. Pada beberapa kromosom terdapat bentukan bulat di bagian ujung lengannya, disebut satelit.


Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : SMA dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Kromosom

Kromosom - Di dalam inti sel terdapat benang-benang kromatin (jika sel sedang tidak membelah). Struktur kromatin seperti jala, tersusun atas benang-benang halus yang dapat menyerap zat warna. Jika sel sedang membelah (pembelahan sel akan dibahas pada bab selanjutnya), benangbenang kromatin ini memendek dan menebal membentuk struktur yang disebut kromosom. Feulgen melakukan teknik pewarnaan ungu pada kromosom untuk memudahkan pengamatan kromosom. Di dalam sel, kromosom mempunyai bentuk maupun jumlah yang bermacam-macam. Nah, agar kalian dapat mempelajari kromosom secara lengkap, simaklah uraian berikut ini.







Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : SMA dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Materi Genetik

Materi Genetik - Apakah kalian masih ingat struktur nukleus? Nukleus sel eukariotik seperti sel-sel hewan dan tumbuhan tingkat tinggi mempunyai membran inti. Sementara itu, nukleus sel prokariotik seperti sel bakteri tidak bermembran. Di dalam nukleus dijumpai beberapa materi genetik yang berperan di dalam pewarisan sifat. Artinya, materi genetik tersebut akan diturunkan pada individu keturunannya. Materi genetik tersebut meliputi kromosom, DNA, RNA, dan gen.

1. Kromosom

2. DNA

3. RNA


Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : SMA dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Genetika

Genetika - Seorang ibu yang mempunyai mata sipit dapat melahirkan anak yang juga bermata sipit. Tidak menutup kemung kinan, anak yang dilahirkan dapat juga mempunyai mata lebar seperti yang dimiliki oleh ayahnya. Nah, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi munculnya sifat ini terdapat di dalam sel tubuh yang disebut materi genetik. Ilmu yang mempelajarinya disebut genetika. Karena itu, kalian perlu mempelajari lebih lanjut, apa saja dan bagaimanakah materi genetik itu?

Pada bab berikut, kalian akan mempelajari materi genetik (meliputi kromosom, DNA, RNA, dan gen) serta mempelajari tahapan sintesis protein. Dengan mempelajarinya, kalian diharapkan dapat menjelaskan perbedaan antara kromosom, DNA, RNA, dan gen meliputi struktur, fungsi, dan hubungan antara ketiganya. Selain itu, kalian diharapkan dapat menjelaskan tahapan dalam sintesis protein meliputi replikasi, transkripsi dan translasi.

1. Materi Genetik

2. Tahapan Pembelahan Mitosis

3. Pembelahan Sel Meiosis

4. Gametogenesis dan Pewarisan Sifat


Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : SMA dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.