Aqidah Islamiyah dengan enam pokok keimanan, yaitu beriman kepada Allah ‘azza wa jalla, para malaikatnya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, beriman kepada hari akhir dan beriman kepada qadha’ dan qadar yang baik maupun buruk, mempunyai keunikan bahwa kesemuanya itu merupakan perkara yang ghaib.
Seseorang akan menghadapi kebingungan bagaimana ia mesti menyampaikannya kepada anak dan bagaimana pula anak bisa berinteraksi dengan itu semua ? bagaimana cara menjelasakan dan memaparkannya? Di hadapan pertanyaan ini atau pertanyaan sejenis lainnya, kedua orangtua bisa kelabakan dan mencari tahu bagaimana caranya. Akan tetapi melalui penelaahan terhadap cara Nabi shalallahu’alaihi wassalam dalam bergaul dengan anak-anak, kita temukan ada lima pilar mendasar di dalam menananmkan aqidah ini.
1. Pendiktean kalimat tauhid kepada anak.
2. Mencintai Allah dan merasa diawasi oleh-Nya, memohon pertolongan kepadaNya, serta beriman kepada qadha’ dan qadar.
3. Mencintai Nabi dan keluarga beliau.
4. Mengajarkan Al-Qur’an kepada anak.
5. Menanamkan aqidah yang kuat dan kerelaan berkorban karenanya.
Pendiktean kalimat tauhid kepada anak
Dari ibnu ‘Abbas bahwa Nabi shalallahu’alaihi wassalam bersabda, “Ajarkan kalimat laailaha illallah kepada anak-anak kalian sebagai kalimat pertama dan tuntunkanlah mereka mengucapkan kalimat laa ilaha illallah ketika menjelang mati.” (HR. Hakim)
Abdurrazaq meriwayatkan bahwa para sahabat menyukai untuk mengajarkan kepada nak-anak mereka kalimat laa ilaha illallah sebagai kalimat yang pertama kali bisa mereka ucapkan secara fasih sampai tujuh kali, sehingga kalimat ini menjadi yang pertama-tama mereka ucapkan.
Ibnu Qayyim dalam kitab Ahkam Al-Maulud mengatakan, “Diawal waktu ketika anak-anak mulai bisa bicara, hendaknya mendiktekan kepada mereka kalimat laa ilaha illa llah muhammadurrasulullah, dan hendaknya sesuatu yang pertama kali didengar oleh telinga mereka adalah laa ilaha illallah (mengenal Allah) dan mentauhidkan-Nya. Juga diajarkan kepada mereka bahwa Allah bersemayam di atas singgasana-Nya yang senantiasa melihat dan mendengar perkataaan mereka, senantiasa bersama mereka dimanapun mereka berada.”
Oleh karena itu, wasiat Nabi shalallahu’alaihi wassalam kepada Mu’adz radhiyallahu’anhu sebagimanan yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah dan Bukhari dalam Adabul Mufrad, adalah, “Nafkahkanlah keluargamu sesuai dengan kemampuanmu. Janganlah kamu angkat tongkatmu di hadapan mereka dan tanamkanlah kepada mereka rasa takut kepada Allah.”
Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam sejak pertama kali mendapatkan risalah tidak pernah mengecualikan anak-anak dari target dakwah beliau. Beliau berangkat menemui Ali bin Ab Thalib yang ketika itu usianya belum genap sepuluh tahun. Beliu shalallahu’alaihi wassalam mengajaknya untuk beriman, yang akhirnya ajakan itu dipenuhinya. Ali bahkan menemani beliau dalam melaksanakan shalat secara sembunyi-sembunyi di lembah Mekkah sehingga tidak diketahui oleh keluarga dan ayahnya sekalipun.
Orang yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan budak yang dimerdekakan adalah Zaid bin Haritsah. Di bawa oleh paman Khadijah, yaitu Hakim bin Hizam dari Syam sebagai tawanan, lalu ia diambil sebagai pembantu oleh Khadijah. Rasulullah kemudian memintanya dari Khadijah lalu memerdekakannya dan mengadopsinya sebagai anak dan mendidiknya ditengah-tengah mereka.
Demikianlah Rasulullah memulai dakwah beliau yang baru dalam menegakkan masyarakat Islam yang baru dengan memfokuskan perhatian terhadap anak-anak dengan cara memberikan proteksi dengan menyeru dan dengan mendo’akan sehingga akhirnya si anak ini (Ali bin Abi Thalib) kelak memperoleh kemuliaan sebagai tameng Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam dengan tidur di rumah beliau pada malam hijrah ke Madinah.
Ini merupakan buah pendidikan yang ditanamkan nabi kepada anak-anak yang sedang tumbuh berkembang agar menjadi pemimpin-pemimpin dimasa depan dan menjadi pendiri masyarakat Islam yang baru.
***
Artikel Muslimah.or.id
Diambil dari : Mendidik Anak Bersama Nabi, Muhammad Suwaid, Pustaka Arafah.
Tampilkan postingan dengan label Mendidik anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mendidik anak. Tampilkan semua postingan
Jumat, 03 Agustus 2012
Senin, 30 Juli 2012
Mendidik Anak Di Rumah
Pembelajaran anak di rumah berbeda dengan di sekolah. Pembelajaran di sekolah terikat dengan tempat, waktu, jadwal, kurikulum, dan seterusnya. Adapun mendidik anak di rumah berlaku setiap hari, bahkan setiap saat. Mengandaikan pendidikan anak sebagai prosedur khusus yang memerlukan waktu-waktu khusus, akan banyak menyita kesempatan orang tua. Mendidik anak menjadi tak alamiah dan tak menggembirakan. Sebaliknya terkesan sebagai beban, baik bagi anak maupun orangtua. Mendidik anak jadi seperti kursus dengan paket-paket yang dikemas dalam sebuah kurikulum dengan anak sebagi peserta wajib dan orangtua guru resminya. Kita sadar bahwa tidak semua orangtua mempunyai kapasitas dan kesempatan untuk itu. Ditambah lagi banyaknya faktor pendukung yang diperlukan.
Sebenarnya ada banyak peristiwa-peristiwa keseharian yang merupakan pintu masuk seluruh unsur pendidikan yang ingin diberikan. Karenanya kita harus berusaha agar semua tidak terlewatkan begitu saja. Kita perlu mengetahui dan menerapkan berbagai macam metode sehingga setiap detik kebersamaan kita dengan anak bisa menjadi sebuah pembelajaran berharga baginya. Dengan terkumpulnya metode-metode pembelajaran tersebut diharapkan proses pendidikan akan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orangtua tidak merasa terbebani. Dengan mengharap pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala, mudah-mudahan kita akan meraih keberhasilan. Diantara metode tersebut antara lain:
artikel muslimah.or.id
Diringkas dari: Mencetak Generasi Rabbani, Ummu Ihsan Chairriyah & Abu Ihsan Al-Atsari, Darul Ilmi
Sebenarnya ada banyak peristiwa-peristiwa keseharian yang merupakan pintu masuk seluruh unsur pendidikan yang ingin diberikan. Karenanya kita harus berusaha agar semua tidak terlewatkan begitu saja. Kita perlu mengetahui dan menerapkan berbagai macam metode sehingga setiap detik kebersamaan kita dengan anak bisa menjadi sebuah pembelajaran berharga baginya. Dengan terkumpulnya metode-metode pembelajaran tersebut diharapkan proses pendidikan akan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orangtua tidak merasa terbebani. Dengan mengharap pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala, mudah-mudahan kita akan meraih keberhasilan. Diantara metode tersebut antara lain:
- Metode Keteladanan Keteladanan yang baik lagi shalih adalah sarana terpenting dalam pendidikan. Ia memiliki pengaruh yang sangat besar. Orang tua adalah contoh paling tinggi bagi anak. Anak tetap akan mengikuti perilaku dan akhlaknya, baik sengaja atau pun tidak. Bila ia selalu jujur dalam ucapan dan dibuktikan dengan perbuatan niscaya anak akan tumbuh dengan semua prinsip-prinsip pendidikan yang tertancap dalam pikirannya. Dengan adanya teladan, seorang anak akan belajar dengan sesuatu yang nyata. Ini akan lebih mudah diserap oleh jiwa. Dengan adanya teladan, seorang anak akan belajar shalat dan menekuninya ketika melihat kedua orangtuanya tekun menunaikannya disetiap waktu, demikian juga ibadah-ibadah lainnya. Dengan adanya teladan, seorang anak akan tumbuh dengan sifat-sifat terpuji dan baik yang didapatnya dari orangtua atau gurunya. Sebaliknya ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan akan menjadi racun dalam pendidikan. Sebagai contoh, seorang anak yang melihat ayahnya suka berdusta tidak akan dapat mempelajari kejujuran darinya. Sebagaimana seorang anak perempuan yang melihat ibunya tak mempan dengan nasehat, maka jangan harap ia tumbuh menjadi anak yang mudah diberi nasehat oleh ibunya. Allah telah mencela para pendidik yang perbuatannya menyelisihi ucapannya.
- Bimbingan dan Nasehat Nasehat yang baik termasuk sarana yang menghubungkan jiwa seseorang dengan cepat. Apalagi nasehat yang kita ucapkan tulus dari dasar hati kita yang paling dalam. Niscaya akan memberikan pengaruh yang yang langsung menghujam di hati anak. Agar nasehat membawa perbaikan maka perhatikanlah hal-hal berikut : - Ulang-ulangilah nasehat, karena tabiat manusia adalah lupa, namun jangan berlebih-lebihan sehingga membuat jiwa menjadi bosan. - Pilihlah waktu yang tepat, yaitu waktu ketika kondisi kejiwaannya dalam keadaan kondusif. - Gunakanlah kata-kata yang mudah dan dapat dipahami sesuai dengan usia anak serta daya tangkap dan nalarnya.
- Kisah dan Cerita Kisah termasuk sarana pendidikan yang efektif. Sebab ia dapat mempengaruhi perasaan dengan kuat. Apalagi kisah nyata, sangat besar pengaruhnya pada jiwa anak, dapat memperkokoh ingatan anak dan kesadaran berfikirnya. Sebuah pelajaran akan lebih mudah dicerna dan difahami oleh akalnya bila diberi ilustrasi cerita. Yaitu cerita yang disertai penjiwaan. Dengan catatan cerita yang bawakan tidak menyimpang dari kaidah-kaidah syariat, jauh dari khayalan, dusta, dan kerusakan. Allah juga menggunakan metode ini dalam mendidik, mengajar, dan mengarahkan. Dalam Al-Qur’an, Allah ta’ala menyebutkan tentang kisah para nabi dan rasul.
- Mengambil Pelajaran Dari Berbagai Peristiwa dan Kejadian Mendidik anak berlangsung setiap hari. Dan peristiwa sehari-hari sebenarnya adalah peristiwa besar, sekalipun tampak sepele. Peristiwa keseharian ini akan memberi pengaruh sikap terhadap peristiwa-peristiwa yang dialami anak di lain waktu. Pendidik yang cerdas lagi sangat menginginkan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya tidak akan membiarkan suatu kejadian melintas begitu saja tanpa mengambil pelajaran darinya untuk ia sampaikan kepada anak-anaknya. Karena hidup memang penuh dengan peristiwa dan kejadian. Manusia senantiasa akan menemui peristiwa-peristiwa ini selama masih hidup di dunia. Dan peristiwa-peristiwa kehidupan termasuk sarana terpenting dalam mendidik, karena memiliki pengaruh yang besar bagi anak. Ambilah setiap kejadian sebagai pengarahan, bimbingan, pengajaran, dan sarana untuk meluruskan kesalahan. Manfaatkan saat-saat yang tepat hingga bisa mengetuk jiwanya dan mempengaruhi hatinya. Sewaktu perasaannya dapat merekam dengan jelas sehingga pelajaran berharga masuk dalam jiwanya. Demikianlah manhaj Al-Qur’an, bahkan Al-Qur’an diturunkan berangsur-angsur menurut peristiwa yang terjadi agar lebih mengakar dalam hati manusia. Sebagai contoh peristiwa yang menimpa kaum muslimin dalam perang Hunain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
- Metode Pembiasaan Biasakan anak melakukan kebaikan. Sebab bila anak terbiasa mengerjakannya secara teratur, maka ia akan menjadi sebuah kebiasaan. Dengan pembiasaan maka urusan yang banyak akan menjadi mudah. Tanamkan kepada mereka kebiasaan melakukan sesuatu yang baik dan membawa keberuntungan baginya dalam urusan dunia maupun agama. Baik itu ibadah, adab, tutur kata, sopan santun, rutinitas keseharian, dan lain sebagainya.
- Memanfaatkan Waktu Luang Dorong anak untuk mengisi waktu luang dengan kebaikan dan sesuatu yang bermanfaat, sehingga tidak dimasuki oleh keburukan, kerusakan, dan kesesatan. Berikan pengarahan yang benar dalam jalur kebaikan. Luangkan waktu Anda bersama anak, untuk menemani, membimbing, dan beraktivitas bersama mereka. Sehingga anak akan terlepas dari sebab-sebab penyimpangan dan kerusakan, karena terlalu banyaknya waktu kosong tanpa tahu harus diisi dengan apa. Karena Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda, “Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu dengannya: kesehatan dan waktu luang” (HR. Bukhari)
- Pemberian Motivasi Berikanlah motivasi positif pada anak! Baik motivasi yang sifatnya konkrit maupun maknawi. Berikan dorongan dan semangat kepada anak untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat. Seiring dengan itu teruslah menggali apa yang menjadi bakat dan potensi mereka. Biasakan mereka untuk berusaha dengan keras dan bersaing secara sehat. Ikut sertakan anak dalam perlombaan yang positif. Motivasi yang terus menerus akan meningkatkan kreativitas anak dalam melakukan kebaikan dan hal yang bermanfaat. Dampingi terus mereka dan berikan dukungan sebaik-baiknya. Motivasi ini bisa berbentuk bahasa kata-kata ataupun bahasa tubuh. Dengan memberikan dukungan moril maupun materiil. Dengan memfasilitasi anak atau dengan memberikan hadiah ketika anak melakukan kebaikan.
- Pemberian hukuman Pendidikan anak dalam Islam dimulai dengan metode pengarahan yang baik serta mengajak anak pada nilai-nilai mulia penuh dengan kesabaran. Namun kadang, kita sudah menmpuh segala langkah nasehat maupun pengarahan untuk meluruskan kesalahan anak dan kenyataannya hal itu tidak mempan. Bahkan mereka semakin parah penyimpangannya sekalipun telah diajak kembali ke jalan yang lurus dengan cara yang baik dan halus. Dalam keadaan seperti ini kita harus mengambil cara yang tegas demi kebaikan anak. Yaitu dengan memberikan hukuman. Namun pemberian hukuman itu harus diimbangi dengan pemberian pujian dan balasan yang baik. Pendidikan dengan pemberian hukuman ini hendaknya bermula dari ancaman hingga berakhir pada penjatuhan sanksi. Jika ternyata anak tidak menghiraukan, maka sanksi harus benar-benar kita jatuhkan. Dengan demikian akan tertanam pada jiwa anak bahwa ancaman kita itu sungguh-sungguh dan bukan main-main. Demikianlah metode yang Allah ta’ala sebutkan dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ (٢)كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ (٣)
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS.Ash-Shaf:2-3) وَكُلا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ (١٢٠)
“Dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu, dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Huud :120) Kisah dan cerita juga dapat mempererat hubungan antara orangtua dan anak. Akan menciptakan kehangatan dan keakraban tersendiri, sehingga akan membantu kelancaran komunikasi. لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الأرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ (٢٥)
” Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai Para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, Yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang Luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (Qs. At Taubah: 25) اللَّهُ وَاللاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا (٣٤)
” Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.” (An Nisa:34) Kesimpulannya, metode pemberian sanksi baru kita gunakan apabila seluruh metode mengalami kegagalan. Dan saat menjatuhkan sanksi, perhatikan waktu yang tepat dan bentuk sanksi yang sesuai dengan kadar kesalahan. Bentuk sanksi ini bisa bervariasi dari yang teringan, misalnya mengurangi jatah harian anak, mengurangi jam bermain atau yang semisalnya. Bisa berbentuk sanksi sosial berupa pengacuhan sampai yang terberat, yaitu hukuman fisik. Kita dapat membuat kesepakatan dengan anak tentang bentuk sanksi dan kapan sanksi dijatuhkan. Sehingga anak lebih memiliki kesadaran dan kesiapan untuk menerimanya. Demikianlah delapan metode pembelajaran yang kita harapkan dapat membantu kesuksesan kita dalam mendidik anak. Mendidik anak dengan memberi contoh akan menghasilkan karakter yang mulia. Pengajaran dengan tutur kata dan bimbingan yang baik mampu meluruskan berbagai kekurangan dan kesalahan, memberikan wacana yang baik dalam kehidupannya serta membiasakan mereka dengan kebaikan pula. Dengan memanfaatkan waktu senggang, anak mampu menyalurkan potensi tubuh, akal dan perasaan untuk sesuatu yang bermanfaat. Motivasi akan membangkitkan semangat dan persaingan hidup yang sehat serta mengasah kemampuan dan keterampilan. Sementara sanksi hanya berfungsi sebagai sarana kontrol akhir bila semua sarana dan metode di atas tidak bermanfaat.artikel muslimah.or.id
Diringkas dari: Mencetak Generasi Rabbani, Ummu Ihsan Chairriyah & Abu Ihsan Al-Atsari, Darul Ilmi
Menghadapi Cemburu Anak
Cemburu merupakan suatu faktor yang menyertai kebanyakan problem kejiawaan pada diri anak-anak. Adapun yang dimaksud disini adalah cemburu yang tidak sehat, yang dapat merusak diri anak-anak, bahkan terkadag merupakan sebab frustuasinya dan bisa menghadapkannya pada problem kejiwaan.
Cemburu juga merupakan salah satu perasaan alami yang ada pada diri manusia, seperti halnya cinta. Maka keluarga hendaknya bisa menerimanya dengan nyata, namun dalam waktu yang sama tidak pula mengabaikan perkembangannya.
Cemburu merupakan sarana yang akan mengantarkan seorang anak pada kurangnya kepercayaan terhadap dirinya sendiri, ataupun membangkitkannya untuk melakukan permusuhan, perusakan dan juga kemarahan.
Cemburu merupakan perasaan menyakitkan yang muncul karena berbagai keadaan, seperti: kelahiran anak baru pada sebuah keluarga, atau sang anak merasa gagal mewujudjkan harapan-harapannya dan berhasilnya anak lain mewujudkan harapan tersebut, ataupun perasaan memiliki kekurangan akibat dari kegagalan perasaan tersebut.
Pada dasarnya cemburu merupakan perasaan terkombinasi antara perasaan senang untuk berkuasa (unggul) dan perasaan benci (marah). Terkadang perasaan cemburu pada diri seseorang itu disertai dengan perasaan benci (marah), baik terhadap dirinya sendiri ataupun terhadap rekan-rekannya yang mampu mewujudkan tujuan-tujuan mereka, sementara dia tidak mapu mewujudkannya.
Terkadang perasaan cemburu ini disertai dengan gejala-gejala lain, seperti: memberotak, memfitnah, perasaan jengkel, merusak, membangkang, ataupun sifat durhaka. Dan terkadang pula disertai gejala-gejala sejenis yang menyertai perasaan marah (kebencian) yang menyebabkan kondisi frustasi. Seperti apatis, perasaan malu, sensitif, perasaan lemah ataupun hilangnya selera dan juga hasrat dalam berbicara.
Rasa cemburu merupakan persoalan serius bagi kehidupan seseorang yang mengakibatkan konflik kejiwaan yang beraneka ragam. Ia juga akan memunculkan resiko-resiko yang tak disadari bagi dirinya pribadi dan juga sosial. Yakni dengan munculnya gejala-gejala sikap yang beraneka macam, diantaranya: mengompol, mengisap jari, menggit kuku, hasrat untuk menarik perhatian orag lain, serta berusaha memperoleh kasih saying mereka dengan berbagi cara. Atau berpura-pura menunjukkan rasa sakit, takut, goncang, ataupun menampakkan rasa permusuhan dengan terang-terangan.
Untuk menangani perasaan cemburu dan menjaganya dari dampak-dampak negatif, upaya-upaya yang hendaknya dilakukan antara lain:
artikel muslimah.or.id
Diringkas dari buku Mengatasi Rewel Si Kecil, Asma’ binti Ahmad Al-Bahishy, Pustaka Ausath
Cemburu juga merupakan salah satu perasaan alami yang ada pada diri manusia, seperti halnya cinta. Maka keluarga hendaknya bisa menerimanya dengan nyata, namun dalam waktu yang sama tidak pula mengabaikan perkembangannya.
Cemburu merupakan sarana yang akan mengantarkan seorang anak pada kurangnya kepercayaan terhadap dirinya sendiri, ataupun membangkitkannya untuk melakukan permusuhan, perusakan dan juga kemarahan.
Cemburu merupakan perasaan menyakitkan yang muncul karena berbagai keadaan, seperti: kelahiran anak baru pada sebuah keluarga, atau sang anak merasa gagal mewujudjkan harapan-harapannya dan berhasilnya anak lain mewujudkan harapan tersebut, ataupun perasaan memiliki kekurangan akibat dari kegagalan perasaan tersebut.
Pada dasarnya cemburu merupakan perasaan terkombinasi antara perasaan senang untuk berkuasa (unggul) dan perasaan benci (marah). Terkadang perasaan cemburu pada diri seseorang itu disertai dengan perasaan benci (marah), baik terhadap dirinya sendiri ataupun terhadap rekan-rekannya yang mampu mewujudkan tujuan-tujuan mereka, sementara dia tidak mapu mewujudkannya.
Terkadang perasaan cemburu ini disertai dengan gejala-gejala lain, seperti: memberotak, memfitnah, perasaan jengkel, merusak, membangkang, ataupun sifat durhaka. Dan terkadang pula disertai gejala-gejala sejenis yang menyertai perasaan marah (kebencian) yang menyebabkan kondisi frustasi. Seperti apatis, perasaan malu, sensitif, perasaan lemah ataupun hilangnya selera dan juga hasrat dalam berbicara.
Rasa cemburu merupakan persoalan serius bagi kehidupan seseorang yang mengakibatkan konflik kejiwaan yang beraneka ragam. Ia juga akan memunculkan resiko-resiko yang tak disadari bagi dirinya pribadi dan juga sosial. Yakni dengan munculnya gejala-gejala sikap yang beraneka macam, diantaranya: mengompol, mengisap jari, menggit kuku, hasrat untuk menarik perhatian orag lain, serta berusaha memperoleh kasih saying mereka dengan berbagi cara. Atau berpura-pura menunjukkan rasa sakit, takut, goncang, ataupun menampakkan rasa permusuhan dengan terang-terangan.
Untuk menangani perasaan cemburu dan menjaganya dari dampak-dampak negatif, upaya-upaya yang hendaknya dilakukan antara lain:
- Mengetahui sebab-sebab dan juga penanganannya.
- Membuat sang anak bisa merasakan nilai (harga) diri dan juga keberadaannya ditengah-tengah keluarga, sekolah, dan diantara teman-temannya.
- Membiasakan anak untuk ikut serta dalam mencintai anak/orang lain.
- Mengajarkan kepada anak sejak kecil bahwa hidup itu menerima dan memberi, dan sesungguhnya wajib bagi setiap manusia untuk menghormati hak-hak orang lain.
- Membiasakan anak dalam persainan yang sehat, dengan bersikap sportif terhadap orang lain.
- Membangkitkan rasa percaya diri dalam jiwa anak dan meringankan ketajaman perasaan dengan kekurangan ataupun kelemahan pada dirinya.
- Mewujudkan hubungan-hubungan yang ditegakkan dengan pondasi kebersamaan dan keadilan, tanpa membeda-bedakan ataupun melebihkan atas yang lain, apapun itu jenis kelaminnya, usia, ataupun kemampuan. Jangan memfavoritkan dan jangan pula mengistimewakan, akan tetapi pergaulilah dengan sama.
- Membiasakan anak untuk bisa menerima keunggulan dan juga kekalahan. Yaitu berusaha mewujudkan keberhasilan dengan mencurahkan dengan segala kesungguhan, tanpa harus merasa cemburu dengan keunggulan anak lain atas dirinya, sehingga dapat mencegahnya dari kehilangan rasa percaya diri.
- Membiasakan anak yang egois untuk menghormati, menghargai, serta memberikan rasa simpati terhadap sebuah kebersamaan. Dan juga menyertakan anak tersebut dalam berbagai permainan dan peralatan yang dimilikinya.
- Hendaknya orangtua bersikap teguh terhadap hal-hal yang berkaitan dengan perasaan cemburu pada diri anak. Tidak menampakkan kegoncangan dan juga perhatian yang berlebihan terhadap perasaan-perasaan tersebut. Dan tidak mengabaikan anak yang pasif, dimana perasaan-perasaan cemburu tidak nampak pada dirinya.
- Pada kondisi kelahiran anak baru, maka tidak boleh mengabaikan anak yang besar dan memberikan perhatian kepada si kecil lebih dari selazimnya. Hendaknya memperhatikan si bayi sesuai dengan kadar kebutuhannya, dan bayi tidaklah membutuhkan hal yang berlebihan.
- Hendaknya orangtua menahan diri dari sikap membanding-bandingkan secara terang-terangan. Namun hendaknya menganggap bahwa setiap anak itu sebagai pribadi yang memiliki perbekalan dan keistimewaan khusus yang ada pada dirinya.
- Menumbuhkan hobi yang berbeda diantara saudara-saudaranya, agar setiap anak akan unggul pada masing-masing bidangnya, sehingga bisa menilai dan menghargainya tanpa harus membandingkannya dengan yang lain.
- Tidak berlebihan dalam mengistimewakan anak yang sakit. Sesungguhnya hal ini dapat menimbulkan cemburu diantara saudara-saudaranya yang sehat.
artikel muslimah.or.id
Diringkas dari buku Mengatasi Rewel Si Kecil, Asma’ binti Ahmad Al-Bahishy, Pustaka Ausath
Anak Tidak Percaya Diri
Banyak diantara anak-anak kita atau bahkan diri kita sendiri tertimpa rasa tidak percaya diri. Rasa tidak percaya diri yang berlebihan dapat menghambat perkembangan seseorang. Jadi perasaan ini harus kita antisipasi sedini mungkin pada diri anak kita agar mereka bisa berkembang menjadi pribadi yang mandiri. Rasa tidak percaya diri pada anak biasa ditandai dengan gejala-gejala sebagai berikut :
Diambil dari: Metode Pendidikan Anak Muslim Usia Prasekolah, Abu Amr Ahmad Sulaiman, Darul Haq dengan sedikit perubahan dari muslimah.or.id
- Susah berbicara, gagap, dan gagu.
- Menutup diri, adanya rasa malu, dan tidak berani.
- Ketidakmampuan berfikir secara mandiri.
- Merasakan ada kejahatan dan bahaya serta bertambahnya rasa ketakutan dan kekhawatiran.
- Cara mendidik yang salah dan berdasar pada ancaman, kekerasan, dan pemukulan setiap kali anak berbuat kesalahan atau main-main sesuatu.
- Sering disalahkan, dipukul, diancam, dicela, dan direndahkan.
- Orang tua terlalu membatasi setiap perilaku anak dan cara berfikirnya.
- Selalu dibandingkan dengan anak yang lain untuk memberinya motivasi, terkadang justru memberikan pengaruh yang sebaliknya.
- Meremehkan kemampuan dan harga dirinya serta melemahkan minatnya.
- Bentuk badan yang kecil, tubuhnya yang cacat, seperti pincang, buntung, dan sebagainya.
- Rendah IQ dan keterlambatan dalam belajar.
- Selalu mencelanya ketika ia mengalami kegagalan.
- Banyaknya pertengkaran antara kedua orangtuanya.
- Dibebani pekerjaan yang diluar kemampuannya. Dan bakatnya sehingga ia tidak mampu dan gagal.
- Menunjukkan rasa kasih sayang, khususnya dari kedua orang tua.
- Membiarkan anak memilih sendiri makannya, minumnya, dan permainannya. Sebaiknya orang tua tidak terlalu mengatur dalam hal-hal yang memang terdapat kelapangan dalam syari’at. Adapun dalam hal yang disyari’atkan (misal: makan dengan tangan kanan) maka sebaiknya orang tua mengarahkan sejak dini.
- Memotivasi anak dan meningkatkan kemampuannya serta memujinya dengan kebaikannya.
- Ketika dibandingkan dengan anak lain, hendaknya disebutkan pula kebaikannya disamping anak yang dibandingkan dengannya serta menyebutkan kemampuan keduanya, kemudian menyuruh untuk berbuat sebagaimana yang telah dilakukan yang lain agar menjadi lebih baik darinya.
- Orang tua hendaknya tidak saling mengoreksi di hadapan anak-anak, tidak saling mencela, atau berselisih di hadapan mereka.
- Menyebutkan namanya pada pertemuan-pertemuan, memujinya secara proporsional didepan orang-orang dewasa dan tidak menyebutkan kekurangannya di hadapan mereka maupun anak-anak kecil.
- Menggunakan kisah/cerita dan permainan untuk menyembuhkan penyakit tidak percaya dirinya.
- Teladan dari kedua orang tua dalam hal percaya diri dan tidak bimbang.
- Membawanya dalam kumpulan orang-orang dewasa, dan membuatnya mau berbicara tentang kemampuannya dalam membaca al-Qur’an, hadits, cerita-cerita, dan lain-lain. Jangan lupa untuk mengingatkan bahwa semua itu adalah nikmat dari Allah semata.
- Menyuruhnya membeli beberapa keperluan dari toko dan memberinya tanggung jawab yang ringan sesuai kemampuannya.
- Mendengarkan dengan baik ketika anak berbicara dan tidak meremehkannya.
- Menemaninya dalam menyelesaikan permasalahannya yang kecil dan dalam memilih kebutuhan pribadinya, seperti memilih mainan, pakaian, dan lain sebagainya.
- Membiasakannya berpuasa meski hanya beberapa jam saja, dan memujinya apabila ia melakukannya.
- Mencontoh masa kecil Rasulullah shalallahu’alaihi wasslam dan mengajarkannya tentang masa kecil Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.
- Memperdalam kepercayaan tentang takdir dalam hatinya dan menghubungkan segala sesuatu dengan Allah ‘azza wa jalla.
Diambil dari: Metode Pendidikan Anak Muslim Usia Prasekolah, Abu Amr Ahmad Sulaiman, Darul Haq dengan sedikit perubahan dari muslimah.or.id
Pengaruh Kebaikan Dan Amal Shalih Orang Tua
Wahai bapak dan ibu, ketika kita dapati anak kita tidak sesuai dengan harapan, maka terlebih dahulu hendaknya kita melihat diri kita. Barangkali pada diri kita masih ada kesalahan atau dosa-dosa yang masih sering kita lakukan. Karena sesungguhnya amalan-amalan yang dilakukan orangtua akan memberi pengaruh terhadap keshalihan anak.
Seorang anak yang melihat ayahnya selalu berdzikir, mengucapkan tahlil, tahmid, tasbih, dan takbir niscaya akan menirunya mengucapkan kalimat-kalimat tersebut.
Demikian juga seorang anak yang diutus orang tuanya untuk memberi sedekah kepada orang-orang miskin dirumah-rumah berbeda dengan seorang anak yang disuruh orang tuanya membeli rokok dan barang-barang memabukkan. Seorang anak melihat ayahnya berpuasa senin kamis dan melaksanakan shalat jumat dan jama’ah tidak sama dengan anak yang melihat kebiasaan ayahnya nongkrong di kafe, diskotik, dan bioskop.
Kita bisa membedakan antara seorang anak yang sering mendengar adzan dengan seorang anak yang sering mendengar ayahnya bernyanyi. Anak-anak itu pasti akan meniru apa yang sering mereka dengar.
Bila seorang ayah selalu berbuat baik kepada orang tuanya, mendoakan dan memohonkan ampunan untuk mereka, selalu berusaha tahu kabar mereka, menenangkan mereka, memenuhi kebutuhan mereka, memperbanyak berdoa, “rabbighfirli wa li wali dayya..”, berziarah ke kuburan mereka bila telah meninggal, dan bersedekah untuk mereka, serta tetap menyambung hubungan dengan teman-teman mereka dan member hadiah dengan orang-orang yang biasa diberi hadiah oleh mereka dahulu. Maka anak yang melihat akhlak ayahnya seperti ini dengan seizin Allah akan menontohnya dan juga akan memohonkan ampunan untuk orangtuanya.
Seorang anak yang diajari shalat tidak sama dengan anak yang dibiasakan nonton film, musik, dan sepak bola.
Seorang anak yang melihat ayahnya shalat di malam hari, menangis karena takut kepada Allah, membaca Al Qur’an, pasti akan berfikir, “Mengapa ayah menangis, mengapa ayah shalat, untuk apa ayah tidur meninggalkan ranjangnya yang enak lalu berwudhu dengan air dingin di tengah malam seperti ini? Untuk apakah ayah sedikit tidur dan berdoa dengan penuh pengharapan dan diliputi kecemasan?”
Semua pertanyaan ini akan berputar dibenaknya dan akan selalu hadir dalam pikirannya. Selanjutnya dia akan mencontoh apa yang dilakukan ayahnya.
Demikian juga dengan seorang anak perempuan yang melihat ibunya berhijab dari laki-laki yang bukan mahramnya, menutup aurat di hadapan mereka, berhias dengan akhlak malu, ketenangan, dan menjaga kesucian diri. Dia akan mempelajari dari ibunya akhlak tersebut.
Beda dengan seorang anak perempuan yang selalu melihat ibunya bersolek di depan para lelaki bukan mahram, bersalaman, berikhtilat, duduk bersama mereka, tertawa, tersenyum, bahkan berdansa dengan lelaki bukan mahram. Dia akan mempelajari semua itu dari ibunya.
Karena itu takutlah kepada Allah wahai Ayah Ibu, dalam membina anak-anak kalian! Jadilah Anda berdua teladan yang baik, berhiaslah dengan akhlak yang baik, tabiat yang mulia, dan sebelum itu semua berpegang teguh dengan agama ini dan cintailah Allah dan rasul-Nya.
Penjagaan Allah Terhadap Keturunan Orang Tua yang Shalih
Keshalihan dan amal baik orang tua memiliki dampak yang besar bagi keshalihan anak-anaknya, dan memberikan manfaat bagi mereka di dunia dan akhirat. Sebaliknya amal-amal jelek dan dosa-dosa besar yang dilakukan orangtua akan berpengaruh jelek terhadap pendidikan anak-anaknya.
Pengaruh-pengaruh tersebut diatas datang dengan berbagai bentuk. Diantaranya berupa keberkahan amal-amal shalih dan pahala yang Allah sediakan untuknya. Atau sebaliknya berupa kesialan amal-amal jelek dan kemurkaan Allah serta akibat jelek akan diterimanya.
Jika orang tua shalih dan gemar melaksanakan amalan baik maka akan mendapatkan ganjaran dan pahala yang dapat dirasakan anak. Ganjaran tersebut dapat berupa penjagaan, rizki yang luas, dan pembelaan dari murka Allah. Adapun amal jelek orang tua, akan berdampak jelek terhadap anak. Dampak tersebut dapat berupa musibah, penyakit, dan kesulitan-kesulitan lain.
Oleh karena itu, orang tua hendaknya memperbanyak amal shaleh karena pengaruhnya akan terlihat pada anak. Bukti pengaruh ini dapat dilihat dari kisah nabi Khidhir yang menegakkan tembok dengan suka rela tanpa meminta upah, sehingga Musa menanyakan alasan mengapa ia tidak mau mengambil upah. Allah berfirman memberitakan perkataan nabi Khidhir,
Dalam menafsirkan firman Allah, “dan kedua orang tuanya adalah orang shalih” Ibnu Katsir berkata: “Ayat diatas menjadi dalil bahwa keshalihan seseorang berpengaruh kepada anak cucunya di dunia dan akhirat, berkat ketaatannya dan syafaatnya kepada mereka maka mereka terangkat derajatnya di surga agar kedua orangtuanya senang dan berbahagia sebagaimana yang yang telah dijelaskan dalam Al Qur’an dan as sunnah.”
Allah telah memerintahkan kepada kedua orangtua yang khawatir terhadap masa depan anak–anaknya agar selalu bertakwa, beramal shalih, beramar ma’ruf nahi mungkar, dan berbagai macam amal ketaatan lainnya. Sehingga dengan amalan-amalan itu, Allah akan menjaga anak cucunya. Allah berfirman,
Dari said bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas berkata: “Allah mengangkat derajat anak cucu seorang mukmin setara dengannya, meskipun amal perbuatan anak cucunya di bawahnya, agar kedua orangtuanya tenang dan bahagia. Kemudian beliau membaca firman Allah yang artinya, “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” ( Ath Thuur : 21) [1]
Karena itu bertakwalah dan beramal shalihlah agar doa untuk kebaikan anak Anda diterima!
Diceritakan bahwa sebagian orang-orang salaf dahulu pernah berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, aku akan membaguskan shalatku agar engkau mendapat kebaikan.” Sebagian ulama salaf menyatakan bahwa makna ucapan itu adalah aku akan memperbanyak shalatku dan beroda kepada Allah untuk kebaikanmu.
Kedua orangtua bila membaca Al-Qur’an, surat Al Baqarah dan surat-surat Al Mu’awwidzat (Al-Ikhlash, Al Falaq, An Naas), maka para malaikat akan turun mendengarnya dan setan-setan akan lari. Tidak diragukan bahwa turunnya malaikat membawa ketenangan dan rahmat. Dan jelas ini member pengaruh baik terhadap anak dan keselamatan mereka.
Tetapi bila Al-Qur’an ditinggalkan, dan orangtua lalai dari dzikir, ketika itu setan-setan akan turun dan memerangi rumah yang tidak ada bacaan Al-Qur’an, penuh dengan musik, alat-alat musik, dan gambar-gambar haram. Kondisi seperti ini jelas akan berpengaruh jelek terhadap anak-anak dan mendorong mereka berbuat maksiat dan kerusakan.
Sehingga dari itu semua, cara yang paling tepat untuk meluruskan anak-anak harus dimulai dengan melakukan perubahan sikap dan perilaku dari kedua orang tua. Kita harus menanamkan komitmen dan berpegang teguh terhadap syariat Allah pada diri kita dan anak-anak. Serta kita harus senantiasa berbuat baik kepada orangtua kita serta menjauhi sikap durhaka kepadanya, agar anak-anak kita nantinya menjadi anak yang berbakti, selamat dari dosa durhaka kepada kedua orang tua dan murka Allah. Karena anak-anak saat ini adalah orang tua dimasa yang akan datang dan suatu ketika ia akan merasakan hal yang sama ketika menginjak masa tua.
Selanjutnya, hal yang tidak boleh kita lupakan adalah senantiasa berdoa, mengharap pertolongan kepada Allah dalam mendidik anak-anak kita, janganlah kita sombong terhadap kemampuan yang kita miliki. Karena hidayah itu berada ditangan Allah dan Allahlah yang membolak balikkan hati hamba-hambaNya.
Catatan redaksi:
[1] Lafal hadits tersebut berbunyi,
***
artikel muslimah.or.id
penulis: Ummu Muhammad Anik Rahmawati
Seorang anak yang melihat ayahnya selalu berdzikir, mengucapkan tahlil, tahmid, tasbih, dan takbir niscaya akan menirunya mengucapkan kalimat-kalimat tersebut.
Demikian juga seorang anak yang diutus orang tuanya untuk memberi sedekah kepada orang-orang miskin dirumah-rumah berbeda dengan seorang anak yang disuruh orang tuanya membeli rokok dan barang-barang memabukkan. Seorang anak melihat ayahnya berpuasa senin kamis dan melaksanakan shalat jumat dan jama’ah tidak sama dengan anak yang melihat kebiasaan ayahnya nongkrong di kafe, diskotik, dan bioskop.
Kita bisa membedakan antara seorang anak yang sering mendengar adzan dengan seorang anak yang sering mendengar ayahnya bernyanyi. Anak-anak itu pasti akan meniru apa yang sering mereka dengar.
Bila seorang ayah selalu berbuat baik kepada orang tuanya, mendoakan dan memohonkan ampunan untuk mereka, selalu berusaha tahu kabar mereka, menenangkan mereka, memenuhi kebutuhan mereka, memperbanyak berdoa, “rabbighfirli wa li wali dayya..”, berziarah ke kuburan mereka bila telah meninggal, dan bersedekah untuk mereka, serta tetap menyambung hubungan dengan teman-teman mereka dan member hadiah dengan orang-orang yang biasa diberi hadiah oleh mereka dahulu. Maka anak yang melihat akhlak ayahnya seperti ini dengan seizin Allah akan menontohnya dan juga akan memohonkan ampunan untuk orangtuanya.
Seorang anak yang diajari shalat tidak sama dengan anak yang dibiasakan nonton film, musik, dan sepak bola.
Seorang anak yang melihat ayahnya shalat di malam hari, menangis karena takut kepada Allah, membaca Al Qur’an, pasti akan berfikir, “Mengapa ayah menangis, mengapa ayah shalat, untuk apa ayah tidur meninggalkan ranjangnya yang enak lalu berwudhu dengan air dingin di tengah malam seperti ini? Untuk apakah ayah sedikit tidur dan berdoa dengan penuh pengharapan dan diliputi kecemasan?”
Semua pertanyaan ini akan berputar dibenaknya dan akan selalu hadir dalam pikirannya. Selanjutnya dia akan mencontoh apa yang dilakukan ayahnya.
Demikian juga dengan seorang anak perempuan yang melihat ibunya berhijab dari laki-laki yang bukan mahramnya, menutup aurat di hadapan mereka, berhias dengan akhlak malu, ketenangan, dan menjaga kesucian diri. Dia akan mempelajari dari ibunya akhlak tersebut.
Beda dengan seorang anak perempuan yang selalu melihat ibunya bersolek di depan para lelaki bukan mahram, bersalaman, berikhtilat, duduk bersama mereka, tertawa, tersenyum, bahkan berdansa dengan lelaki bukan mahram. Dia akan mempelajari semua itu dari ibunya.
Karena itu takutlah kepada Allah wahai Ayah Ibu, dalam membina anak-anak kalian! Jadilah Anda berdua teladan yang baik, berhiaslah dengan akhlak yang baik, tabiat yang mulia, dan sebelum itu semua berpegang teguh dengan agama ini dan cintailah Allah dan rasul-Nya.
Penjagaan Allah Terhadap Keturunan Orang Tua yang Shalih
Keshalihan dan amal baik orang tua memiliki dampak yang besar bagi keshalihan anak-anaknya, dan memberikan manfaat bagi mereka di dunia dan akhirat. Sebaliknya amal-amal jelek dan dosa-dosa besar yang dilakukan orangtua akan berpengaruh jelek terhadap pendidikan anak-anaknya.
Pengaruh-pengaruh tersebut diatas datang dengan berbagai bentuk. Diantaranya berupa keberkahan amal-amal shalih dan pahala yang Allah sediakan untuknya. Atau sebaliknya berupa kesialan amal-amal jelek dan kemurkaan Allah serta akibat jelek akan diterimanya.
Jika orang tua shalih dan gemar melaksanakan amalan baik maka akan mendapatkan ganjaran dan pahala yang dapat dirasakan anak. Ganjaran tersebut dapat berupa penjagaan, rizki yang luas, dan pembelaan dari murka Allah. Adapun amal jelek orang tua, akan berdampak jelek terhadap anak. Dampak tersebut dapat berupa musibah, penyakit, dan kesulitan-kesulitan lain.
Oleh karena itu, orang tua hendaknya memperbanyak amal shaleh karena pengaruhnya akan terlihat pada anak. Bukti pengaruh ini dapat dilihat dari kisah nabi Khidhir yang menegakkan tembok dengan suka rela tanpa meminta upah, sehingga Musa menanyakan alasan mengapa ia tidak mau mengambil upah. Allah berfirman memberitakan perkataan nabi Khidhir,
وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا (٨٢)
“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya” (QS. Al Kahfi: 82)Dalam menafsirkan firman Allah, “dan kedua orang tuanya adalah orang shalih” Ibnu Katsir berkata: “Ayat diatas menjadi dalil bahwa keshalihan seseorang berpengaruh kepada anak cucunya di dunia dan akhirat, berkat ketaatannya dan syafaatnya kepada mereka maka mereka terangkat derajatnya di surga agar kedua orangtuanya senang dan berbahagia sebagaimana yang yang telah dijelaskan dalam Al Qur’an dan as sunnah.”
Allah telah memerintahkan kepada kedua orangtua yang khawatir terhadap masa depan anak–anaknya agar selalu bertakwa, beramal shalih, beramar ma’ruf nahi mungkar, dan berbagai macam amal ketaatan lainnya. Sehingga dengan amalan-amalan itu, Allah akan menjaga anak cucunya. Allah berfirman,
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا (٩)
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (An Nisa: 9)Dari said bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas berkata: “Allah mengangkat derajat anak cucu seorang mukmin setara dengannya, meskipun amal perbuatan anak cucunya di bawahnya, agar kedua orangtuanya tenang dan bahagia. Kemudian beliau membaca firman Allah yang artinya, “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” ( Ath Thuur : 21) [1]
Karena itu bertakwalah dan beramal shalihlah agar doa untuk kebaikan anak Anda diterima!
Diceritakan bahwa sebagian orang-orang salaf dahulu pernah berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, aku akan membaguskan shalatku agar engkau mendapat kebaikan.” Sebagian ulama salaf menyatakan bahwa makna ucapan itu adalah aku akan memperbanyak shalatku dan beroda kepada Allah untuk kebaikanmu.
Kedua orangtua bila membaca Al-Qur’an, surat Al Baqarah dan surat-surat Al Mu’awwidzat (Al-Ikhlash, Al Falaq, An Naas), maka para malaikat akan turun mendengarnya dan setan-setan akan lari. Tidak diragukan bahwa turunnya malaikat membawa ketenangan dan rahmat. Dan jelas ini member pengaruh baik terhadap anak dan keselamatan mereka.
Tetapi bila Al-Qur’an ditinggalkan, dan orangtua lalai dari dzikir, ketika itu setan-setan akan turun dan memerangi rumah yang tidak ada bacaan Al-Qur’an, penuh dengan musik, alat-alat musik, dan gambar-gambar haram. Kondisi seperti ini jelas akan berpengaruh jelek terhadap anak-anak dan mendorong mereka berbuat maksiat dan kerusakan.
Sehingga dari itu semua, cara yang paling tepat untuk meluruskan anak-anak harus dimulai dengan melakukan perubahan sikap dan perilaku dari kedua orang tua. Kita harus menanamkan komitmen dan berpegang teguh terhadap syariat Allah pada diri kita dan anak-anak. Serta kita harus senantiasa berbuat baik kepada orangtua kita serta menjauhi sikap durhaka kepadanya, agar anak-anak kita nantinya menjadi anak yang berbakti, selamat dari dosa durhaka kepada kedua orang tua dan murka Allah. Karena anak-anak saat ini adalah orang tua dimasa yang akan datang dan suatu ketika ia akan merasakan hal yang sama ketika menginjak masa tua.
Selanjutnya, hal yang tidak boleh kita lupakan adalah senantiasa berdoa, mengharap pertolongan kepada Allah dalam mendidik anak-anak kita, janganlah kita sombong terhadap kemampuan yang kita miliki. Karena hidayah itu berada ditangan Allah dan Allahlah yang membolak balikkan hati hamba-hambaNya.
Catatan redaksi:
[1] Lafal hadits tersebut berbunyi,
إِنَّ اللهَ لَيَرْفعُ ذُرِّيَّةَ المُؤمِنِ إِلَيْهِ فِي دَرَجَتِهِ وَ إِنْ كَانُوا دُونَهُ فِي العَمَل ، لِتُقرَّ
بِهِم عَينُهُ ، ثُمَّ قَرَأَ : وَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَ اتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيْمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ
Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Bazzar (Hal. 221), Ibnu Adi (I/270) dan Al-Baghawi dalam At-Tafsir (8/82) dari Qais bin Rabi’ dari Amr bin Murrah dari Said bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas dan diangkat sampai kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Syaikh Albani berkata ,“Hadits ini mauquf namun dihukumi marfu’’ (sampai kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam-red) dan hadits ini memiliki sanad yang baik”.(As-Silsilah Ash-Shahihah no.2490, Al-Maktabah As-Syamilah, red)بِهِم عَينُهُ ، ثُمَّ قَرَأَ : وَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَ اتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيْمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ
***
artikel muslimah.or.id
penulis: Ummu Muhammad Anik Rahmawati
Bolehkah Memukul Anak?
Saudariku muslimah…permasalahan ini termasuk masalah yang wajib dipahami oleh setiap orangtua. Sikap yang diambil tentunya beragam sesuai dengan kesalahan yang dilakukan anak. Perlu diperhatikan apakah anak memahami kesalahan itu dan mengetahui dosa dan bahayanya ataukah tidak?
Keutamaan berlemahlembut
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
Sabda beliau shallallahu’aaihiw asallam,
Juga sabda beliau shallallahu’alaihi wasallam,
Dan beliau bersabda,
Sabda beliau,
Nasehat lebih baik daripada memukul
Selama dalam perbaikan tidak memerlukan pemukulan maka janganlah memukul. Karena Nabi shallallahu’alaihi wasallam sendiri bila harus memilih antara dua pilihan maka beliau memilih yang paling mudah selama bukan dosa. (HR. Bukhari 3560 dan Muslim 2327 dari ‘Aisyah secara marfu’)
Telah diriwayatkan pula bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tidak pernah memukul sesuatu dengan tangannya sama sekali, tidak kepada istri beliau ataupun pembantu beliau. Beliau hanya memukul ketika berperang dijalan Allah. (HR. Muslim 2328)
Maka kita sebaiknya menggunakan kata-kata nasehat jika ingin memperbaiki perilaku anak atau dengan menggunakan dorongan dan motivasi.
Bila kata-kata yang baik tidak berpengaruh maka kita gunakan kata-kata yang berisi teguran dan ancaman sesuai dengan kesalahan anak. Bila juga tidak bermanfaat maka saatnya memukul. Untuk itu kondisi tabiat anak berbeda-beda.
Diantara mereka ada yang cukup dengan isyarat mata untuk menghukum dan menegurnya. Isyarat mata ini memberikan pengaruh yang kuat pada dirinya dan menjadi sebab berhenti dari kesalahan yang ia lakukan.
Diantara mereka ada yang jika Anda membuang muka darinya maka dia segera paham maksud Anda dan berhenti dari kesalahannya.
Diantara mereka ada yang berubah dengan kata-kata baik. Maka gunakan kata-kata yang baik untuk anak yang seperti ini.
Dan diantara mereka tidaka ada yang membuatnya sadar kecuali harus dengan pukulan dan perlakukan keras. Maka untuk anak tipe seperti inilah kita lakukan pemukulan dan berlaku keras. Akan tetapi sesuai dengan kebutuhan saja serta tidak menjadikannya kebiasaan. Seperti halnya seorang dokter yang memberi suntikan kepada pasiennya walaupun suntikan itu menyakitkan akan tetapi suntikan itu sebatas kadar penyakitnya saja.
Orangtua diperblehkan bersikap keras kepada anak bila anak malas beribadah
Adapun dalil-dalil lainnya yang menunjukkan bolehnya memukul anak bila diperlukan karena anak tidak taat dalam hal yang ma’ruf atau karena mengabaikan perintah kebaikan atau berbuat maksiat, dzalim secara terus menerus diantaranya adalah
• Firman Allah Ta’ala,
• Firman Allah Ta’ala,
Bila kerusakan dan kedzaliman yang timbul dari ulah si anak tidak dapat hilang kecuali dengan pemukulan maka saat itu juga dia harus dupukul.
• Sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam, “Perintahkanlah anakmu shalat pada usia tujuh tahun dan pukullah dia karena (meninggalkan)nya pada usia 10 tahun dan pisahkan tempat tidur mereka.”(HR. Abu Daud no 495 dengan sanad hasan)
• Sikap tegas Abdullah bin Umar kepada anaknya Bilal bin Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma
Dari abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, ‘Jangan kamu cegah istrimu kemasjid jika mereka izin kepadamu keluar menuju kesana.’”
Kemudian Bilal bin Abdullah bin Umar berkata, “Demi Allah aku akan mencegah mereka.”
Ibnu Umar menoleh kepadanya lalu mencela dengan celaan yang belum pernah aku (perowi) dengar sebelumnya dan berkata, “Aku kabarkan kepadamu hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan kamu katakan,’Demi Allah aku akan cegah!.’”
• Tatkala melihat kecerdasan dan keunggulan Ikrimah yang saat itu masih kecil sehingga senang bermain dan lari-lari maka Ibnu Abbas mengikatnya dengan tali agar mau memperlajari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.
Ikrimah berkata, “Ibnu Abbas pernah merantai kakiku ketika sedang mengajariku Al Qur’an dan Sunnah.” Dalam riwayat lain, “Ketika sedang mengajariku AlQur’an dan ilmu waris.”
Lantas bagaimana kondisi Ikrimah setelah mendapat hukuman itu? Dia menjadi salah seorang ulama besar ahli hadits yang banyak meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dari Ibnu Abbas dan menjadi ahli tafsir yang handal.
• Begitujuga sikap tegas Abu Bakar Ash Shidiq kepada ‘Aisyah radhiallahu’anhuma. Abu Bakar memukul putrinya karena menyebabkan pasukan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tertunda keberangkatannya dan karenanya sahabat lain mengeluh. Dan kisah lainnya sangatlah banyak sekali untuk disebutkan.
Larangan memukul wajah
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
“Jika salah seorang diantara kalian memukul saudaranya maka hendaknya dia menghindari memukul wajah.” (HR. Muslim 2616 dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu secara marfu’).
***
Diringkas dari buku “Bagaimana Nabi shallallahu’alaihi wasallam Mendidik Anak” (Terjemahan dari kitab Tarbiyatul Aulad), Syaikh Musthafa Al Adawi, Media Hidayah.
Artikel Muslimah.or.id
Keutamaan berlemahlembut
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ الرِّفْقَ لاَيَكُوْنُ فِيْ شَيْئٍ إِلَّا زَانَهُ وَمَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْئٍ إِلَّا شَانَهُ
“Tidaklah kelemahlembutan ada pada sesuatu kecuali akan menghiasainya dan tidaklah dicabut darinya melainkan akan memperjeleknya ” (HR. Bukhari 2594 dair ‘Aisyah radhiallahu’anha)Sabda beliau shallallahu’aaihiw asallam,
مَنْ يُحْرَمُ الرِّفْقَ يُحْرَمُ الخَيْر
“Siapa saja yang dihalangi dari kelemahlembutan maka dihalangi pula dari kebaikan” (HR. Muslim 2542 dari Jabir bin Abdullah radhiallahu’anhu)Juga sabda beliau shallallahu’alaihi wasallam,
إِنَّهُ مَنْ أُعْطِيَ حَظُّهُ مِنَ الرِّفْقِ فَقَدْ أُعْطِيَ حَظُّهُ مِنْ خَيْرِالدُّنْيَاوَالأَخِرَة
“Sungguh orang yang telah diberi bagian kelembutan berarti ia telah diberi bagian kebikan dunia dan akhirat” (HR. Ahmad 6/159 dari ‘Aisyah radhiallahu’anha)Dan beliau bersabda,
إِذَا أَرَادَ اللهُ بِأَهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا أَدْخَلَ عَلَيْهِمُ الرِّفْقَ
“Jika Allah menginginkan kebaikan bagi sebuah anggota keluarga maka Dia akan memasukkan kelembutan kepada mereka” (HR. Ahmad 6/71, 6/104-105, hadits shahih)Sabda beliau,
إِنَّ اللهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ
“Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan.” (HR. Muslim 2593 dari ‘Aisyah secara marfu’)Nasehat lebih baik daripada memukul
Selama dalam perbaikan tidak memerlukan pemukulan maka janganlah memukul. Karena Nabi shallallahu’alaihi wasallam sendiri bila harus memilih antara dua pilihan maka beliau memilih yang paling mudah selama bukan dosa. (HR. Bukhari 3560 dan Muslim 2327 dari ‘Aisyah secara marfu’)
Telah diriwayatkan pula bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tidak pernah memukul sesuatu dengan tangannya sama sekali, tidak kepada istri beliau ataupun pembantu beliau. Beliau hanya memukul ketika berperang dijalan Allah. (HR. Muslim 2328)
Maka kita sebaiknya menggunakan kata-kata nasehat jika ingin memperbaiki perilaku anak atau dengan menggunakan dorongan dan motivasi.
Bila kata-kata yang baik tidak berpengaruh maka kita gunakan kata-kata yang berisi teguran dan ancaman sesuai dengan kesalahan anak. Bila juga tidak bermanfaat maka saatnya memukul. Untuk itu kondisi tabiat anak berbeda-beda.
Diantara mereka ada yang cukup dengan isyarat mata untuk menghukum dan menegurnya. Isyarat mata ini memberikan pengaruh yang kuat pada dirinya dan menjadi sebab berhenti dari kesalahan yang ia lakukan.
Diantara mereka ada yang jika Anda membuang muka darinya maka dia segera paham maksud Anda dan berhenti dari kesalahannya.
Diantara mereka ada yang berubah dengan kata-kata baik. Maka gunakan kata-kata yang baik untuk anak yang seperti ini.
Dan diantara mereka tidaka ada yang membuatnya sadar kecuali harus dengan pukulan dan perlakukan keras. Maka untuk anak tipe seperti inilah kita lakukan pemukulan dan berlaku keras. Akan tetapi sesuai dengan kebutuhan saja serta tidak menjadikannya kebiasaan. Seperti halnya seorang dokter yang memberi suntikan kepada pasiennya walaupun suntikan itu menyakitkan akan tetapi suntikan itu sebatas kadar penyakitnya saja.
Orangtua diperblehkan bersikap keras kepada anak bila anak malas beribadah
Adapun dalil-dalil lainnya yang menunjukkan bolehnya memukul anak bila diperlukan karena anak tidak taat dalam hal yang ma’ruf atau karena mengabaikan perintah kebaikan atau berbuat maksiat, dzalim secara terus menerus diantaranya adalah
• Firman Allah Ta’ala,
وَاللهُ لَايُحِبُّ الفَسَادَ
“Dan Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS. AL-Baqarah: 205)• Firman Allah Ta’ala,
فَلَوْلَا كَانَ مِنَ القُرُوْنِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُوا بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الفَسَادِ فِى الأَرْضِ إِلَّا قَلِيْلاً مِمّنْ أنْجَيْنَا مِنْهُم
“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan melarang dari mengerjakan kerusakan di bumi. Kecuai sebagian kecil diantara orang-orang yang telah Kami selamatkan diantara mereka.” (QS. Hud: 16)Bila kerusakan dan kedzaliman yang timbul dari ulah si anak tidak dapat hilang kecuali dengan pemukulan maka saat itu juga dia harus dupukul.
• Sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam, “Perintahkanlah anakmu shalat pada usia tujuh tahun dan pukullah dia karena (meninggalkan)nya pada usia 10 tahun dan pisahkan tempat tidur mereka.”(HR. Abu Daud no 495 dengan sanad hasan)
• Sikap tegas Abdullah bin Umar kepada anaknya Bilal bin Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma
Dari abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, ‘Jangan kamu cegah istrimu kemasjid jika mereka izin kepadamu keluar menuju kesana.’”
Kemudian Bilal bin Abdullah bin Umar berkata, “Demi Allah aku akan mencegah mereka.”
Ibnu Umar menoleh kepadanya lalu mencela dengan celaan yang belum pernah aku (perowi) dengar sebelumnya dan berkata, “Aku kabarkan kepadamu hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan kamu katakan,’Demi Allah aku akan cegah!.’”
• Tatkala melihat kecerdasan dan keunggulan Ikrimah yang saat itu masih kecil sehingga senang bermain dan lari-lari maka Ibnu Abbas mengikatnya dengan tali agar mau memperlajari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.
Ikrimah berkata, “Ibnu Abbas pernah merantai kakiku ketika sedang mengajariku Al Qur’an dan Sunnah.” Dalam riwayat lain, “Ketika sedang mengajariku AlQur’an dan ilmu waris.”
Lantas bagaimana kondisi Ikrimah setelah mendapat hukuman itu? Dia menjadi salah seorang ulama besar ahli hadits yang banyak meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dari Ibnu Abbas dan menjadi ahli tafsir yang handal.
• Begitujuga sikap tegas Abu Bakar Ash Shidiq kepada ‘Aisyah radhiallahu’anhuma. Abu Bakar memukul putrinya karena menyebabkan pasukan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tertunda keberangkatannya dan karenanya sahabat lain mengeluh. Dan kisah lainnya sangatlah banyak sekali untuk disebutkan.
Larangan memukul wajah
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
“Jika salah seorang diantara kalian memukul saudaranya maka hendaknya dia menghindari memukul wajah.” (HR. Muslim 2616 dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu secara marfu’).
***
Diringkas dari buku “Bagaimana Nabi shallallahu’alaihi wasallam Mendidik Anak” (Terjemahan dari kitab Tarbiyatul Aulad), Syaikh Musthafa Al Adawi, Media Hidayah.
Artikel Muslimah.or.id
Yang Harus Dimiliki Orang Tua
Begitulah kata orang tua kita jaman dulu. Semakin banyak anak, semakin banyak rizki yang akan kita dapatkan. Namun, apakah adagium “kuno” itu benar?
Dalam Islam, melahirkan dan memiliki keturunan adalah hal yang sangat dianjurkan. Beberapa dalil dari Alquran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan hal tersebut. Diantaranya firman Allah:
فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ
“Maka sekarang campurilah mereka (istri-istri) dan carilah/harapkanlah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.” (QS. Al Baqarah [2]: 187)Imam Ibnu Katsir –rahimahullah- ketika menafsirkan “apa yang telah ditetapkan Allah untukmu” berkata, “Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Anas, Syuraih al Qadhi, Mujahid, Ikrimah, Said bin Jubair dan yang lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud adalah anak. (Tafsir Al Qur`an Al Adzim: 1/512)
Adapun dalil dari Sunnah di antaranya adalah hadis:
« تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّى مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ »
“Nikahilah oleh kalian wanita yang pencinta dan subur, karena aku akan berbangga dengan banyaknya kalian kepada umat-umat yang lain.” (HR Abu Dawud: 2052, dishahihkan Al Albany dalam Jami As-Shahih: 5251)Hadis di atas adalah perintah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya agar menikah dengan wanita yang subur, agar ia dapat melahirkan anak yang banyak. Beliau ingin jika umat Islam banyak anak, maka semakin banyak pengikutnya sehingga beliau dapat berbangga dengan banyaknya jumlah pengikut pada hari kiamat kepada nabi-nabi yang lain dan umatnya.
Anjuran Islam ini juga ditunjukkan oleh hadis:
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seorang anak Adam mati, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang berdoa untuknya.” (HR Muslim)Anak adalah karunia. Kehadiran mereka adalah nikmat. Anak dan keturunan memang dapat melahirkan ragam kebaikan. Dalam kehidupan rumah tangga, anak-anak dan keturunan ibarat tali pengikat yang dapat semakin menguatkan hubungan pasangan suami istri. Dan dari sana lah kemudian akan tercipta keharmonisan dalam rumah tangga; sakinah, mawaddah dan rahmah. (Dari ceramah Syaikh Sa’ad As-Syitsry, Ahkam Al Maulud)
Dari sisi ini saja, anak-anak dengan sendirinya merupakan rizki Allah bagi manusia. Karena rizki sejatinya adalah segala hal yang bermanfaat dan menyenangkan penerimanya. Belum lagi dari sisi yang lain, Allah menjanjikan bahwa setiap anak yang terlahir akan Allah jamin rizkinya. Allah berfirman:
وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka.” (QS. Al An’am [6]: 151)Selanjutnya, jika anak-anak itu adalah anak-anak yang shaleh dan shalehah, yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, maka semakin bertambahlah karunia yang Allah berikan kepada kedua orang tuanya. Hidup kian berkah dengan kehadiran mereka. Bisa jadi, kerja keras orang tua mendidik anak-anaknya menjadi hamba-hamba Allah yang shaleh menjadi sebab semakin berkahnya rizki yang didapatkan. Karena orang tua yang sungguh-sungguh mendidik anak-anaknya, berarti ia telah bertakwa kepada Allah. Dan Allah berfirman tentang buah dari ketakwaan:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Thalaq [65]: 2-3)Namun, jika kedua orang tua lalai dari anak-anaknya dengan tidak memberikan pendidikan agama yang benar dan lingkungan yang baik, sehingga mereka tumbuh dalam kondisi tidak mengenal Allah, bahkan anak-anaknya itu membuat mereka lupa kepada Allah, maka nikmat dan karunia tersebut kelak berakibat petaka. Alih-alih dapat mengundang rizki, anak-anak yang seperti itu dapat berubah menjadi musibah, dunia dan akhirat.
Pada batas ini, berarti adagium “banyak anak banyak rezeki” hanya berlaku bagi orang yang banyak anak serta sungguh-sungguh membentuk mereka dengan pendidikan yang baik. Sehingga mereka tumbuh sebagai orang-orang yang mengenal Rabbnya, mengenal hak orang tuanya dan bermanfaat untuk umat.
Semoga Allah mengaruniakan kepada kita putra putri yang shaleh dan shalehah, bermanfaat untuk kita saat kita masih hidup dengan bakti mereka yang tulus, dan saat kita telah wafat dengan doa mereka yang tak pernah putus. Amin.
Subang, 8 Ramadhan 1432 H
Penulis: Ustadz Abu Khalid Resa Gunarsa, Lc
Artikel Muslim.Or.Id
Begitulah kata orang tua kita jaman dulu. Semakin banyak anak, semakin banyak rizki yang akan kita dapatkan. Namun, apakah adagium “kuno” itu benar?
Dalam Islam, melahirkan dan memiliki keturunan adalah hal yang sangat dianjurkan. Beberapa dalil dari Alquran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan hal tersebut. Diantaranya firman Allah:
فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ
“Maka sekarang campurilah mereka (istri-istri) dan carilah/harapkanlah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.” (QS. Al Baqarah [2]: 187)Imam Ibnu Katsir –rahimahullah- ketika menafsirkan “apa yang telah ditetapkan Allah untukmu” berkata, “Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Anas, Syuraih al Qadhi, Mujahid, Ikrimah, Said bin Jubair dan yang lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud adalah anak. (Tafsir Al Qur`an Al Adzim: 1/512)
Adapun dalil dari Sunnah di antaranya adalah hadis:
« تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّى مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ »
“Nikahilah oleh kalian wanita yang pencinta dan subur, karena aku akan berbangga dengan banyaknya kalian kepada umat-umat yang lain.” (HR Abu Dawud: 2052, dishahihkan Al Albany dalam Jami As-Shahih: 5251)Hadis di atas adalah perintah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya agar menikah dengan wanita yang subur, agar ia dapat melahirkan anak yang banyak. Beliau ingin jika umat Islam banyak anak, maka semakin banyak pengikutnya sehingga beliau dapat berbangga dengan banyaknya jumlah pengikut pada hari kiamat kepada nabi-nabi yang lain dan umatnya.
Anjuran Islam ini juga ditunjukkan oleh hadis:
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seorang anak Adam mati, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang berdoa untuknya.” (HR Muslim)Anak adalah karunia. Kehadiran mereka adalah nikmat. Anak dan keturunan memang dapat melahirkan ragam kebaikan. Dalam kehidupan rumah tangga, anak-anak dan keturunan ibarat tali pengikat yang dapat semakin menguatkan hubungan pasangan suami istri. Dan dari sana lah kemudian akan tercipta keharmonisan dalam rumah tangga; sakinah, mawaddah dan rahmah. (Dari ceramah Syaikh Sa’ad As-Syitsry, Ahkam Al Maulud)
Dari sisi ini saja, anak-anak dengan sendirinya merupakan rizki Allah bagi manusia. Karena rizki sejatinya adalah segala hal yang bermanfaat dan menyenangkan penerimanya. Belum lagi dari sisi yang lain, Allah menjanjikan bahwa setiap anak yang terlahir akan Allah jamin rizkinya. Allah berfirman:
وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka.” (QS. Al An’am [6]: 151)Selanjutnya, jika anak-anak itu adalah anak-anak yang shaleh dan shalehah, yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, maka semakin bertambahlah karunia yang Allah berikan kepada kedua orang tuanya. Hidup kian berkah dengan kehadiran mereka. Bisa jadi, kerja keras orang tua mendidik anak-anaknya menjadi hamba-hamba Allah yang shaleh menjadi sebab semakin berkahnya rizki yang didapatkan. Karena orang tua yang sungguh-sungguh mendidik anak-anaknya, berarti ia telah bertakwa kepada Allah. Dan Allah berfirman tentang buah dari ketakwaan:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Thalaq [65]: 2-3)Namun, jika kedua orang tua lalai dari anak-anaknya dengan tidak memberikan pendidikan agama yang benar dan lingkungan yang baik, sehingga mereka tumbuh dalam kondisi tidak mengenal Allah, bahkan anak-anaknya itu membuat mereka lupa kepada Allah, maka nikmat dan karunia tersebut kelak berakibat petaka. Alih-alih dapat mengundang rizki, anak-anak yang seperti itu dapat berubah menjadi musibah, dunia dan akhirat.
Pada batas ini, berarti adagium “banyak anak banyak rezeki” hanya berlaku bagi orang yang banyak anak serta sungguh-sungguh membentuk mereka dengan pendidikan yang baik. Sehingga mereka tumbuh sebagai orang-orang yang mengenal Rabbnya, mengenal hak orang tuanya dan bermanfaat untuk umat.
Semoga Allah mengaruniakan kepada kita putra putri yang shaleh dan shalehah, bermanfaat untuk kita saat kita masih hidup dengan bakti mereka yang tulus, dan saat kita telah wafat dengan doa mereka yang tak pernah putus. Amin.
Subang, 8 Ramadhan 1432 H
Penulis: Ustadz Abu Khalid Resa Gunarsa, Lc
Artikel Muslim.Or.Id
Orangtua sebagai pendidik utama bagi anak-anaknya harus memiliki sifat-sifat yang utama pula, agar kita meraih keberhasilan dalam pendidikan anak-anak kita. Meskipun mungkin hal tersebut sulit, namun kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk memiliki sifat-sifat tersebut, sebab kita akan menjadi fokus teladan pendidikan bagi generasi baru, paling tidak sebagi fokus teladan bagi anak-anak kita. Mereka akan senantiasa menyorot kita selaku seorang pendidik dan pembimbing, karena kitalah contoh nyata yang mereka saksikan dalam kehidupan mereka.
Berikut beberapa karakter yang harus dimiliki orang tua…
- Ikhlas
Niat yang ikhlas selain mendatangkan keridhaan dan pahala Allah, juga akan meneguhkan hati kita di saat ujian datang. Dan hati kita akan tetap lapang, bagaimanapun hasil yang kita raih setelah usaha dan doa.
- Bertakwa
Atau sebagimana yang dikatakan ulama lain : “Menjaga diri dari azab Allah dengan mengerjakan amal shalih dan merasa takut kepadanya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.” Yakni menjaga diri dari azab Allah dengan senantiasa merasa di bawah pengawasannya. Dan senantiasa menapaki jalan yang telah Dia gariskan baik saat sendiri maupun dihadapan manusia.
Hiasi diri dengan takwa, sebab pendidik adalah contoh dan panutan sekaligus penanggung jawab pertama dalam pendidikan anak berdasarkan iman dan islam.
Dan ingatlah janji Allah bahwa Dia akan memudahkan urusan orang yang bertakwa, akan memberi jalan keluar baginya, dan memberi rizki dari arah yang tidak ia sangka. Karena anak yang shalih adalah rizki. Mudah-mudahan karena ketakwaan kita, Allah berkenan memberikan jalan keluar bagi setiap urusan kita dan memberikan rizki yang baik kepada kita.
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan akan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq:4)
- Berilmu
Orang yang tidak mempunyai sesuatu bagaimana ia akan memberikan sesuatu kepada orang lain??
- Bertanggung jawab
Bertanggungjawablah, karena setiap dari kita adalah pemimpin dan anak adalah amanat serta ujian dari Allah
- Sabar dan tabah
إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
“ Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS Yusuf:86)- Lemah lembut dan tidak kasar
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
“Sesungguhnya sifat lemah lembut itu tidaklah ada pada sesuatu kecuali ia akan menghiasinya. Dan tidaklah sifat lemah lembut itu tercabut dari sesuatu kecuali akan menjadikannya buruk.” (HR Muslim)Dari ‘Aisyah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Wahai ‘Aisyah bersikap lemahlembutlah, karena sesungguhnya Allah itu jika menghendaki kebaikan pada sebuah keluarga, maka Allah menunjukkan mereka kepada sifat lemah lembut ini.” (HR Imam Ahmad)
Sifat lemah lembut ini akan membuat anak nyaman dan lebih mudah dalam menerima pengajaran. Dan secara tidak langsung sifat lemah lembut ini alan mewarnai karakter anak dan insya Allah sifat ini dengan sendirinya akan menurun kepadanya. Dan orang yang pertama kali akan merasakan kebaikannya adalah orang tuanya itu sendiri.
- Penyayang
Anas radhiyallahu’anhu meriwayatkan, “Seorang wanita mendatangi ‘Aisyah lalu ‘Aisyah memberinya tiga butir kurma. Wanita itu memberi tiap-tiap anaknya satu butir kurma dan menyisakan satu butir untuk dirinya. Lalu kedua anak memakan kurma tersebut kemudian melihat kurma yang ada pada ibunya. Kemudian wanita itu membelah dua kurma itu lalu memberi masing-masing setengah kepada dua anaknya tersebut. Taklama kemudian Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam datang, lalu ‘Aisyah menceritakan hal itu kepada beliau. Maka Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Apakah kamu takjub melihatnya? Sungguh Allah telah merahmatinya karena kasih sayangnya kepada dua anaknya” (HR. Bukhari)
- Lunak dan fleksibel
Abu Mas’ud ‘Uqbah bin Umar Al Badri rhadhiyallahu’anhu berkata, “Sesungguhnya aku biasa melambatkan hadir dalam shalat Subuh berjamaah karena si Fulan yang suka memanjangkan shalatnya ketika mengimami kami.” Akhirnya Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam marah, dan aku belum pernah melihat beliau marah ketika memberikan nasehat melebihi kemarahan beliau saat itu. Beliau bersabda, “Wahai manusia sesungguhnya diantara kalian ada yang membuat orang lain lari (meninggalkan shalat jama’ah). Maka siapa saja diantara kalian yang menjadi imam shalat hendaklah ia meringankannya, karena diantara makmum ada orang yang sudah tua, orang lemah, dan orang yang sedang punya keperluan.” (Mutaffaqun’alaih)
Jika Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam melarang sikap berlebihan seperti itu dalam masalah pokok agama, lalu bagaimana pula dalam masalah pendidikan? Rasulullah bersabda, “Permudahlah, jangan membuat sulit dan berikanlah berita gembira, janganlah kalian membuat orang lain lari.” (Mutaffaqun’alaih)
- Tidak mudah marah
Disamping itu Nabi shalallahu’alaihi wassalam juga mengatakan bahwa keberanian (syaja’ah) adalah kemampuan seseorang untuk menahan amarah. Diriwayatkan dari Abu Harairah bahwa Rasulullah bersabda, “Orang yang pemberani bukanlah orang yang selalu menang dalam berkelahi, akan tetapi pemberani adalah orang yang menguasai (menahan) diri ketika marah.” (Muttafaqun’alaih)
- Dekat namun berwibawa
- Membatasi diri dalam memberikan nasehat
***
muslimah.or.id
Diringkas dari :
Mencetak Generasi Rabbani , Ummu Ihsan Chairriyah & Abu Ihsan Al-Atsari, Darul Ilmi
Mendidik Anak Bersama Nabi shalallahu’alaihi wassalam , Muhammad Suwaid, Pustaka Arafah
Senin, 05 Desember 2011
MAINAN MEMBENTUK KARAKTER ANAK
Asyiknya bermain pada usia anak….
Kita tentu masih ingat bagaimana kita sangat tertarik pada sesuatu yang baru ketika kita masih kecil.
Rasa ingin tahu yang besar pada anak, membuat seorang anak akan terus mencoba dan memahami apa yang ada disekitarnya.
Segala hal yang terlihat menarik bagi anak akan membuat rasa penasaran yang besar pada anak, tanpa tahu hal tersebut baik atau tidak bagi mereka.
Pengawasan orang tua sangat penting disini untuk membantu anak memahami apa yang mereka temukan.
Bermain juga merupakan salah satu proses pendalaman karater sejak dini pada anak.
Saat bermain, anak akan mengenal instrument-intrument (mainan) yang digunakan sehingga membuat anak mengerti fungsi dari instrument tersebut.
Bagaimana memilih mainan pada anak???
Memilih mainan pada anak diperlukan untuk mengarahkan anak pada hal positif.
Kita perlu mempertimbangkannya dari beberapa faktor, seperti: jenis kelamin, usia, dan tingkah laku atau bakat anak.
Karena itulah orang tua harus selalu mengawasi perkembangan anaknya.
Jenis Kelamin
Anak perempuan cenderung lebih memilih mainan yang bersifat lembut dan penuh kasih sayang untuk dimainkan, seperti boneka, alat-alat masak mainan dari plastik atau hiasan-hiasan kecil yang berwarna warni.
Sedangkan anak laki-laki biasanya lebih memilih mainan yang bersifat tangkas, aktif, menantang, dan tentu saja menarik bagi mereka, seperti: robot dengan remote kontrol, pistol-pistolan, mobil-mobilan, dan lain-lain.
Memilih mainan sesuai dengan jenis kelaminnya juga dapat meperkenalkan karakter mereka sebagai perempuan atau laki-laki.
Namun tidak menjadi masalah yang terlalu besar apabila anak laki-laki menyukai boneka atau anak perempuan yang menyukai mobil-mobilan, disinilah orang tua berperan dalam memfungsikan mainan tersebut pada mereka dengan tetap memperlakukan mereka sesuai jenis kelaminnya.
Usia
Seiring bertambahnya usia anak, hal yang mereka temukan akan lebih banyak lagi, mainan yang lamapun mungkin akan ditinggalkan karena melihat mainan baru yang menarik. Dan tentu saja seiring perkembangan anak pula, mainan yang diinginkanpun lebih komplek. Ingatlah bahwa aktifitas anak akan makin bertambah, maka keamanan dan keselamatan anak adalah yang utama.
Tingkah laku atau bakat
Perhatikanlah tingkah laku atau bakat yang terlintas pada anak, karena hal tersebut juga dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk memilih mainan yang cocok untuk mereka.
Misalnya anak senang atau tenang saat mendengar musik, orang tua bisa memilih mainan berupa intrument musik kecil seperti piano mainan atau gitar kecil, karena mungkin saja anak mempunyai bakat sebagai musisi.
pakarbayi.com
Rasa ingin tahu yang besar pada anak, membuat seorang anak akan terus mencoba dan memahami apa yang ada disekitarnya.
Segala hal yang terlihat menarik bagi anak akan membuat rasa penasaran yang besar pada anak, tanpa tahu hal tersebut baik atau tidak bagi mereka.
Pengawasan orang tua sangat penting disini untuk membantu anak memahami apa yang mereka temukan.
Bermain juga merupakan salah satu proses pendalaman karater sejak dini pada anak.
Saat bermain, anak akan mengenal instrument-intrument (mainan) yang digunakan sehingga membuat anak mengerti fungsi dari instrument tersebut.
Bagaimana memilih mainan pada anak???
Memilih mainan pada anak diperlukan untuk mengarahkan anak pada hal positif.
Kita perlu mempertimbangkannya dari beberapa faktor, seperti: jenis kelamin, usia, dan tingkah laku atau bakat anak.
Karena itulah orang tua harus selalu mengawasi perkembangan anaknya.
Jenis Kelamin
Sedangkan anak laki-laki biasanya lebih memilih mainan yang bersifat tangkas, aktif, menantang, dan tentu saja menarik bagi mereka, seperti: robot dengan remote kontrol, pistol-pistolan, mobil-mobilan, dan lain-lain.
Namun tidak menjadi masalah yang terlalu besar apabila anak laki-laki menyukai boneka atau anak perempuan yang menyukai mobil-mobilan, disinilah orang tua berperan dalam memfungsikan mainan tersebut pada mereka dengan tetap memperlakukan mereka sesuai jenis kelaminnya.
Usia
Seiring bertambahnya usia anak, hal yang mereka temukan akan lebih banyak lagi, mainan yang lamapun mungkin akan ditinggalkan karena melihat mainan baru yang menarik. Dan tentu saja seiring perkembangan anak pula, mainan yang diinginkanpun lebih komplek. Ingatlah bahwa aktifitas anak akan makin bertambah, maka keamanan dan keselamatan anak adalah yang utama.
Tingkah laku atau bakat
Perhatikanlah tingkah laku atau bakat yang terlintas pada anak, karena hal tersebut juga dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk memilih mainan yang cocok untuk mereka.
Misalnya anak senang atau tenang saat mendengar musik, orang tua bisa memilih mainan berupa intrument musik kecil seperti piano mainan atau gitar kecil, karena mungkin saja anak mempunyai bakat sebagai musisi.
pakarbayi.com
Mendidik dengan Cerita Anak
Tidak banyak orang tua yang tahu bahwa cerita anak adalah salah satu media untuk mendidik anak yang paling efektif, terutama bagi anak yang dianugrahi otak cerdas.
Semenjak dahulu kala, cerita anak digunakan oleh nenek moyang sebagai media untuk menyampaikan pesan moral atau pesan kebajikan.
Itulah sebabnya masyarakat mengenal cerita rakyat, yang diceritakan dari mulut ke mulut oleh orang-orang tua pada anak kecil.
Di masa modern pun, cerita sejenis itu, yang kemudian dinamai cerita anak, banyak ditulis dalam bentuk buku atau komik oleh pendongeng atau penulis cerita anak.
Namun, tidak semua cerita anak dapat dijadikan media untuk mendidik anak. Berikut ini adalah beberapa kriteria cerita anak yang baik, sebagai panduan bagi para orang tua agar mereka dapat memilih dan memilah mana cerita anak yang baik, dan mana yang tidak.
Pertama, cerita anak yang dapat mendidik adalah cerita yang alur ceritanya sederhana dan tidak berbelit-belit. Hal ini dimaksudkan agar anak kecil terlatih untuk berpikir sederhana dan tidak berprasangka yang macam-macam; mengingat usia mereka terlalu dini untuk berprasangka.
Kedua, cerita anak yang mendidik haruslah diluar konteks percintaan antar orang dewasa, laki-laki dan perempuan. Faktanya adalah, banyak cerita yang diklaim sebagai cerita anak, tapi menghadirkan kisah asmara antara anak laki-laki dan perempuan.
Orang tua dan pendidik yang baik harus menghindari membeli cerita-cerita semacam ini. Ketiga, cerita anak harus mengandung nilai-nilai moral yang dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Nilai nilai moral atau kebajikan, seperti kejujuran, kerja sama (dalam konteks yang baik), ketulusan, dan lain-lain adalah syarat utama dari sebuah cerita anak.
Apabila seorang orang tua memberi bacaan cerita anak yang memenuhi criteria seperti di atas, dia dapat dikatakan telah merawat anak dengan baik.
Pada dasarnya, memberikan mereka bacaan anak yang baik dan tepat, dengan pesan moral yang juga baik adalah salah satu usaha untuk menyayangi anak. Maka dari itu, para orang tua yang menyebut dirinya orang tua yang baik, harus memberikan bacaan seperti tersebut pada anak mereka.
pakarbayi.com
Semenjak dahulu kala, cerita anak digunakan oleh nenek moyang sebagai media untuk menyampaikan pesan moral atau pesan kebajikan.
Itulah sebabnya masyarakat mengenal cerita rakyat, yang diceritakan dari mulut ke mulut oleh orang-orang tua pada anak kecil.
Di masa modern pun, cerita sejenis itu, yang kemudian dinamai cerita anak, banyak ditulis dalam bentuk buku atau komik oleh pendongeng atau penulis cerita anak.
Namun, tidak semua cerita anak dapat dijadikan media untuk mendidik anak. Berikut ini adalah beberapa kriteria cerita anak yang baik, sebagai panduan bagi para orang tua agar mereka dapat memilih dan memilah mana cerita anak yang baik, dan mana yang tidak.
Pertama, cerita anak yang dapat mendidik adalah cerita yang alur ceritanya sederhana dan tidak berbelit-belit. Hal ini dimaksudkan agar anak kecil terlatih untuk berpikir sederhana dan tidak berprasangka yang macam-macam; mengingat usia mereka terlalu dini untuk berprasangka.
Kedua, cerita anak yang mendidik haruslah diluar konteks percintaan antar orang dewasa, laki-laki dan perempuan. Faktanya adalah, banyak cerita yang diklaim sebagai cerita anak, tapi menghadirkan kisah asmara antara anak laki-laki dan perempuan.
Orang tua dan pendidik yang baik harus menghindari membeli cerita-cerita semacam ini. Ketiga, cerita anak harus mengandung nilai-nilai moral yang dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Nilai nilai moral atau kebajikan, seperti kejujuran, kerja sama (dalam konteks yang baik), ketulusan, dan lain-lain adalah syarat utama dari sebuah cerita anak.
Apabila seorang orang tua memberi bacaan cerita anak yang memenuhi criteria seperti di atas, dia dapat dikatakan telah merawat anak dengan baik.
Pada dasarnya, memberikan mereka bacaan anak yang baik dan tepat, dengan pesan moral yang juga baik adalah salah satu usaha untuk menyayangi anak. Maka dari itu, para orang tua yang menyebut dirinya orang tua yang baik, harus memberikan bacaan seperti tersebut pada anak mereka.
pakarbayi.com
Mendidik Anak Nakal
Mendengar istilah anak nakal mungkin tidak semua orang akan berpikir negatif. Ada orang yang justru berpandangan bahwa anak nakal adalah anak yang kreatif dan lincah. Namun menurut psikologi anak, anak nakal adalah anak yang memiliki gangguan tingkah laku atau penyimpangan yang bisa merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Seorang anak mengalami perubahan perilaku tentunya mendapat pengaruh dari lingkungan tempat ia berada. Untuk itu mendidik anak khususnya anak nakal juga harus dimulai dari lingkungan terkecil tempat ia berada yaitu keluarga.
Jika anak anda belum sampai ke tahap tersebut, sebaiknya anda mulai mendidik anak dengan menerapkan aturan-aturan ringan di rumah untuk menunjang disiplin anak. Misalnya memberikan tugas-tugas ringan sesuai kemampuannya, akan mendidik anak untuk bertanggung jawab. menanamkan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya dan membereskan sendiri mainannya juga akan mendidik anak untuk bertanggung jawab.
Anda juga harus memperhatikan kesehariannya, ada baiknya anda juga mengatur waktu belajar anak sejak kecil tanpa harus mendidik anak dengan keras. Terbiasa dengan waktu belajar, akan sangat baik untuk kecerdasan anak. hal ini akan mendidik anak untuk sadar akan kewajibannya dan tidak terlalu sering berada di luar rumah untuk melakukan hal-hal yang tidak jelas.
Selain hal di atas, anda juga harus memperhatikan waktu tidur mereka. Biasakanlah agar anak anda tidak begadang dan tidur tepat waktu. Selain baik bagi kesehatan, anak anda juga akan terhindar dari pengaruh buruk yang mungkin saja datang dari tayangan televise pada malam hari.
Berbagai peraturan di rumah seperti di atas akan mendidik anak untuk hidup teratur dan disiplin sehingga terhindar dari perilaku yang menyimpang yang menyebabkan mereka dicap nakal.
Namun jika anak anda sudah cenderung nakal, cobalah metode mendidik anak dengan cara dekati dia sebagai teman, tidak sebagai orang tua yang mungkin bagi mereka hanya terkesan mengatur hidup mereka. Berikanlah mereka banyak kesempatan untuk berbicara dan menyampaikan pendapatnya tentang banyak hal.
Hal ini juga bisa mendidik anak bersikap terbuka terhadap orang tuanya. Sebaliknya jika mereka melakukan kesalahan, jangan gunakan cara keras namun nasihatilah mereka agar mereka menemukan kenyamanan dan mau mendengarkan anda.
pakarbayi.com
Seorang anak mengalami perubahan perilaku tentunya mendapat pengaruh dari lingkungan tempat ia berada. Untuk itu mendidik anak khususnya anak nakal juga harus dimulai dari lingkungan terkecil tempat ia berada yaitu keluarga.
Jika anak anda belum sampai ke tahap tersebut, sebaiknya anda mulai mendidik anak dengan menerapkan aturan-aturan ringan di rumah untuk menunjang disiplin anak. Misalnya memberikan tugas-tugas ringan sesuai kemampuannya, akan mendidik anak untuk bertanggung jawab. menanamkan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya dan membereskan sendiri mainannya juga akan mendidik anak untuk bertanggung jawab.
Anda juga harus memperhatikan kesehariannya, ada baiknya anda juga mengatur waktu belajar anak sejak kecil tanpa harus mendidik anak dengan keras. Terbiasa dengan waktu belajar, akan sangat baik untuk kecerdasan anak. hal ini akan mendidik anak untuk sadar akan kewajibannya dan tidak terlalu sering berada di luar rumah untuk melakukan hal-hal yang tidak jelas.
Selain hal di atas, anda juga harus memperhatikan waktu tidur mereka. Biasakanlah agar anak anda tidak begadang dan tidur tepat waktu. Selain baik bagi kesehatan, anak anda juga akan terhindar dari pengaruh buruk yang mungkin saja datang dari tayangan televise pada malam hari.
Berbagai peraturan di rumah seperti di atas akan mendidik anak untuk hidup teratur dan disiplin sehingga terhindar dari perilaku yang menyimpang yang menyebabkan mereka dicap nakal.
Namun jika anak anda sudah cenderung nakal, cobalah metode mendidik anak dengan cara dekati dia sebagai teman, tidak sebagai orang tua yang mungkin bagi mereka hanya terkesan mengatur hidup mereka. Berikanlah mereka banyak kesempatan untuk berbicara dan menyampaikan pendapatnya tentang banyak hal.
Hal ini juga bisa mendidik anak bersikap terbuka terhadap orang tuanya. Sebaliknya jika mereka melakukan kesalahan, jangan gunakan cara keras namun nasihatilah mereka agar mereka menemukan kenyamanan dan mau mendengarkan anda.
pakarbayi.com
Cara Mengenalkan Warna untuk Bayi Anda
Sekarang banyak metode dan alat bantu yang memudahkan orangtua untuk mendidik anak. Pada bayi cemerlang, Anda akan dapati bahwa organ tubuh yang paling awal berkembang adalah otak, telinga dan mata. Bantulah bayi cemerlang Anda untuk mengembangkan kemampuan pendengaran dan pengelihatannya.
Mendidik anak terutama yang masih bayi memang tidak mudah, mulailah mengenalkan bayi anda dengan hal-hal yang mudah ia terima. Misal dengan memperdengarkan suara khas ayah atau ibunya. Untuk membantu perkembangan pengelihatannya, kenalkan bayi anda dengan berbagai warna.
Lalu bagaimana cara mengenalkan warna pada bayi? Mendidik anak dengan mengenalkan warna pada bayi dimulai dengan warna-warna pastel seperti merah muda, biru muda kuning dan ungu. Anda dapat menggunakan warna-warna pastel sebagai warna cat dinding dan warna furnitur di kamar bayi.
Secara psikologis diyakini warna dapat memberi efek pada bayi. Warna pastel di kamar bayi membuat bayi menjadi lebih tenang dan tidur lebih nyenyak. Sehingga bayi bangun tidur dengan perasaan senang.
Berikan mainan-mainan dengan aneka warna yang menarik perhatian bayi,seperti bantal warna-warni dan buku bergambar dengan aneka warna. Sambil bercerita atau bermain, Anda dapat mendidik anak untuk mengenali perbedaan warna.
Contohnya dengan Anda memegang dua buah bantal berbentuk bola dengan warna merah dan hijau, gelindingkanlah bola berwarna merah dan biarkan bayi menangkapnya sembari anda mengucapkan kata “merah” berulang-ulang. Kemudian gantilah bola merah dengan bola hijau, dekatkan bola di depan bayi dan ucapkanlah kata “hijau” berulang-ulang.
Gunakanlah warna cerah, karena akan membuat bayi lebih bersemangat. Ahli terapi psikologi juga menggunakan warna untuk terapi anak bandel.
Beberapa warna digunakan untuk mempengaruhi psikologis anak bandel agar lebih tenang dan dapat mengikuti aturan. Mengenalkan warna pada bayi dapat membuat mereka tumbuh lebih baik setelah dewasa, yang ujungnya akan memudahkan Anda dalam mendidik anak.
Mendidik anak terutama yang masih bayi memang tidak mudah, mulailah mengenalkan bayi anda dengan hal-hal yang mudah ia terima. Misal dengan memperdengarkan suara khas ayah atau ibunya. Untuk membantu perkembangan pengelihatannya, kenalkan bayi anda dengan berbagai warna.
Lalu bagaimana cara mengenalkan warna pada bayi? Mendidik anak dengan mengenalkan warna pada bayi dimulai dengan warna-warna pastel seperti merah muda, biru muda kuning dan ungu. Anda dapat menggunakan warna-warna pastel sebagai warna cat dinding dan warna furnitur di kamar bayi.
Secara psikologis diyakini warna dapat memberi efek pada bayi. Warna pastel di kamar bayi membuat bayi menjadi lebih tenang dan tidur lebih nyenyak. Sehingga bayi bangun tidur dengan perasaan senang.
Berikan mainan-mainan dengan aneka warna yang menarik perhatian bayi,seperti bantal warna-warni dan buku bergambar dengan aneka warna. Sambil bercerita atau bermain, Anda dapat mendidik anak untuk mengenali perbedaan warna.
Contohnya dengan Anda memegang dua buah bantal berbentuk bola dengan warna merah dan hijau, gelindingkanlah bola berwarna merah dan biarkan bayi menangkapnya sembari anda mengucapkan kata “merah” berulang-ulang. Kemudian gantilah bola merah dengan bola hijau, dekatkan bola di depan bayi dan ucapkanlah kata “hijau” berulang-ulang.
Gunakanlah warna cerah, karena akan membuat bayi lebih bersemangat. Ahli terapi psikologi juga menggunakan warna untuk terapi anak bandel.
Beberapa warna digunakan untuk mempengaruhi psikologis anak bandel agar lebih tenang dan dapat mengikuti aturan. Mengenalkan warna pada bayi dapat membuat mereka tumbuh lebih baik setelah dewasa, yang ujungnya akan memudahkan Anda dalam mendidik anak.
Sabtu, 03 Desember 2011
Bahasa Isyarat Mempercepat Komunikasi Dini
Pernahkan Anda mendengar program bahasa isyarat bayi? Apabila merasa masih asing, maka tidak ada salahnya untuk mengenal metode pendidikan komunikasi yang menarik ini. Bahasa isyarat bayi diciptakan oleh Linda Acredolo dan Susan Goodwyn melalui penelitian mereka selama lebih dari 19 tahun. Dari hasil penelitian tersebut, diterbitkan sebuah buku berjudul Baby Sign: How To Talk With Your Baby Before Your Baby Can Talk. Melalui buku tersebut dijabarkan tentang kegunaan bahasa isyarat bagi bayi.
Beberapa manfaat yang bisa diperoleh orang tua ketika mengajarkan bayi mereka bahasa isyarat, yaitu:
pakarbayi.com
Beberapa manfaat yang bisa diperoleh orang tua ketika mengajarkan bayi mereka bahasa isyarat, yaitu:
- Membuat bayi di bawah 12 bulan mampu menyampaikan keinginannya walaupun belum mampu berkomunikasi secara verbal.
- Selama ini orang tua dituntut keras untuk memahami tangisan dan menduga-duga keinginan si bayi sehingga terkadang membuat orang tua menjadi bingung dan stress menghadapinya. Dengan menggunakan bahasa isyarat dalam berkomunikasi, orang tua dan bayi akan saling memahami maksud yang diinginkan walaupun bayi tidak berbicara secara langsung.
- Bahasa isyarat mempercepat anak bicara dari waktu yang biasanya. Karena melalui bahasa isyarat secara non verbal anak bayi telah dilatih untuk memahami dan mengenal banyak kata. Akibatnya, ketika memasuki fase verbal yaitu masa si bayi harus bicara, bayi telah memenuhi otaknya dengan pembendaraaan kata yang sangat memadai.
- Program bahasa isyarat bayi ternyata juga dapat memacu peningkatan IQ pada anak bayi. Penelitian yang dilakukan di Universitas California membuktikan bahwa bayi yang sejak dini dilatih bahasa isyarat memiliki nilai tes IQ yang tinggi dibandingkan anak bayi biasa. Penguasaan dan pemahaman kosa kata yang lebih baik dibandingkan bayi sebaya mereka membuat mereka mampu berpartisipasi dalam permainan kompleks yang disuguhkan peneliti.
pakarbayi.com
Melatih Bayi Mandiri
Sebenarnya memberikan kasih sayang terhadap bayi tidak akan membuat bayi menjadi manja, sehingga berkesan tidak bisa mandiri. Sebab kemandirian yang dituntut para ibu terhadap bayinya, baru bisa di dapat bila bayi dilatih ke arah itu. Berikut beberapa kiat agar bayi bisa mandiri.
- Biarkan bayi selama mungkin berada di tempat tidurnya Menangis adalah cara bayi berkomunikasi. Karena itu bila si mungil merengek, bukan berarti dia minta di gendong. Ada banyak kebutuhan lain yang juga dieskspresikan melalui tangisan tersebut. Misalnya, di saat ia lapar, popoknya basah, merasa tak nyaman atau butuh perhatian. Ibu dapat memberinya susu atau makan, mengganti popoknya, merubah posisinya atau mengajaknya bermain, tanpa harus menggendongnya.
- Biasakan bayi bermain sendiri Bila bayi sudah dapat bermain, pastikan ia memiliki mainan atau benda-benda di dekatnya untuk teman bermain. Mengingat daya pemusatan perhatiannya masih pendek, bantulah ia dengan menyediakan 2 atau 3 mainan dalam jangkauannya. Bila ia tampak bosan dan gelisah, sebelum berubah menjadi rengekan, ibu dapat mengganti dengan mainan lainnya.
- Sediakan botol yang sesuai Menginjak usia lima bulan, umumnya bayi telah memiliki kemampuan untuk memegang botolnya sendiri. Untuk itu ibu perlu menyediakan botol plastik yang ringan agar tangan mungilnya kuat menyangga serta tidak mudah pecah. Selain itu juga dilengkapi dengan dot yang tidak mudah tertekuk (bisa dipilih yang terbuat dari silikon) dan regulator. Regulator adalah alat untuk mengatur aliran susu sesuai irama isapan bayi sehingga bayi terhindar dari kemungkinan tersedak.
- Latihlah bayi untuk makan sendiri Mulai usia tujuh bulan, umumnya bayi sudah mampu memegang sendiri makanannya. Mengingat belajar memegang makanan ini merupakan langkah pertama menuju meja makannya sendiri, untuk itu ibu harus melakukannya dengan sabar. Pada tahap awal biarkan makanan yang dipegangnya hanya merupakan tambahan dalam diet bayi. Setelah kemampuannya berkembang, biarkan ia memegang sendok sendiri dan ibu yang mengarahkannya. Pada pertengahan tahun kedua, ia sudah dapat makan di meja makannya sendiri.
- Latihlah bayi untuk minum dari cangkirnya sendiri Melatih bayi untuk minum dari cangkir sendiri sangat berguna agar bayi sedini mungkin menyadari bahwa ada cairan lain selain dari botol maupun payudara. Sehingga untuk proses penyapihan, bayi akan lebih mudah menerimannya.
- Biarkan ia belajar menggosok giginya sendiri Gigi bayi umumnya tumbuh di awal bulan ke tujuh. Pada masa ini sangat bijaksana jika ia mulai diperkenalkan dengan sikat gigi. Carilah satu set sikat gigi yang tepat bagi bayi. Sikat gigi step 1 yang terbuat dari karet, selain berfungsi membersihkan gigi, sikat ini juga dapat dimanfaatkan bayi untuk mengurangi rasa gatal pada gusinya. Sikat gigi ini dilengkapi dengan pengaman sehingga terhindar dari kemungkinan sikat menyodok kedalam. Lalu step 2 dan step 3 yang dirancang sesuai dengan pertumbuhan gigi selanjutnya.
- Latihlah ia menggunakan toilet Latihan ini akan lebih berhasil, bila sudah ada tanda-tanda kesiapan pada si mungil. Antara lain, ia sudah mengetahui tentang sistem pembuangan, ia sudah dapat melepaskan dan memakai baju sendiri, dan ia sudah dapat mengerti dan mengikuti petunjuk. Latihlah ia dengan cara membiarkan ia melihat apa yang Anda lakukan dan buatlah ia merasa bangga akan produk buangan yang dikeluarkannya.
Ketujuh latihan di atas membutuhkan kesabaran penuh dari para ibu. Ibu perlu menyediakan waktu untuk melatihnya dengan penuh kasih sayang. Sehingga latihan yang dilakukan tidak berubah menjadi ajang perang, tetapi menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi ibu maupun bagi si mungil. Repot? Tentu saja. Tetapi bila ini tidak dilakukan, maka kerepotan yang lebih besar akan menunggu. Si mungil Anda akan semakin sulit untuk bisa mandiri.
melindahospital.com
Jumat, 02 Desember 2011
Mengajarkan Anak untuk Berbagi
Pada saat berbagai bencana melanda negeri kita seperti sekarang, semua orang terketuk hatinya untuk menyumbang, atau berbagi, kepada para korban bencana. Berbagai institusi, maupun orang secara pribadi, turut menggalang dana maupun materi dalam bentuk lain, untuk membantu para korban.
Tetapi, ketika kita kembali ke kehidupan kita sehari-hari, masih ingatkah kita untuk berbagi? Bukankah masyarakat yang kekurangan tidak hanya muncul saat bencana melanda saja? Tidakkah di sekitar kita pun masih banyak keluarga yang tidak dapat menikmati kehidupan yang layak? Berbagi juga bisa kita lakukan pada mereka, yang sehari-hari masih belum mampu memenuhi kebutuhan gizinya, misalnya.
"Berbagi itu juga tidak hanya bermanfaat untuk orang lain, tetapi juga untuk diri sendiri. Apa yang kita berikan mungkin kecil bagi kita, tapi besar artinya untuk mereka. Ketika kita melihat orang yang kita bantu itu merasa senang dengan bantuan kita, ada kebahagiaan yang sempurna yang kita rasakan," tutur Yuna Eka Kristina, Public Relations Manager Orangtua Group, saat talk show "Through Mom, We Can See the Miracle of Giving", yang diadakan oleh Tango di Kidzania, Pacific Place, Sabtu (27/11/2010).
Banyak manfaat lain yang kita dapatkan dengan kebiasaan berbagi, antara lain, kita jadi pandai bersosialisasi dengan orang lain, mendapatkan rasa aman, damai, memiliki rasa cinta yang besar, dan berdaya. Menurut hasil penelitian, orang yang senang berbagi juga akan menghasilkan hormon endorfin.
"Hormon inilah yang berperan memberikan imunitas pada tubuh, sehingga tubuh memulihkan diri lebih cepat setelah operasi, dan mampu istirahat lebih optimal," lanjut Dra Rustika Thamrin, Psi, CBA, CHT, CI, MTLT, pada acara yang sama.
Untuk menciptakan kebiasaan untuk berbagi, Anda perlu mengajarkan kebiasaan ini pada anak sejak dini. Peran Anda sebagai ibu sangat besar dalam menularkan kebiasaan untuk berbagi. Sebab sebagai ibu, Anda punya kedekatan emosi yang lebih besar dengan anak. Umumnya, ibu juga mempunyai waktu lebih banyak bersama anak. Sebagai perempuan, Anda juga dikaruniai kemampuan untuk mencurahkan kasih sayang, lembut, dan detail.
"Yang perlu Anda lakukan adalah memberi contoh pada anak, karena sampai usia 5 tahun, anak adalah peniru yang ulung. Ketika perilaku ini dilakukan secara terus-menerus, lama-lama akan menjadi kebiasaan, dan akhirnya menjadi karakter," ujar psikolog yang berpraktik di Brawijaya Women and Children Hospital ini.
Rustika juga mengingatkan, memberi tidak harus berupa materi. Berbagi juga bisa diberikan dalam bentuk perhatian, senyuman, waktu, ketrampilan, sentuhan, harapan, saran, pengetahuan, dan lain sebagainya.
Menurutnya, waktu yang tepat untuk mengajarkan anak untuk berbagi adalah saat usianya 3 tahun. Sebelum usia itu, anak masih egosentris, sehingga belum memiliki konsep untuk berbagi. "Jangan memaksanya untuk berbagi, karena bila terpaksa, imej berbagi itu menjadi negatif," katanya.
Orangtua hanya perlu memberi contoh dan saran, bukan mengambil alih keputusan anak untuk berbagi. Biarkan anak menentukan sendiri bagaimana ia harus berbagi, karena bagaimanapun ia masih dalam proses belajar untuk itu. Bahkan, beri juga kesempatan pada anak untuk tidak berbagi. Jangan lupa memberikan penghargaan saat anak mau berbagi, misalnya dengan memberi pujian, senyuman, pelukan, atau ciuman.
Akan lebih baik bila Anda membuat program bersama keluarga dengan berbagi. Contohnya, dengan menjadwalkan waktu tertentu untuk berkunjung ke panti asuhan, atau memberikan susu kotak, atau cemilan bergizi lain di Posyandu. Karena dilakukan secara ajeg, berbagi pun akhirnya menjadi kebiasaan.
kompas.com
Tetapi, ketika kita kembali ke kehidupan kita sehari-hari, masih ingatkah kita untuk berbagi? Bukankah masyarakat yang kekurangan tidak hanya muncul saat bencana melanda saja? Tidakkah di sekitar kita pun masih banyak keluarga yang tidak dapat menikmati kehidupan yang layak? Berbagi juga bisa kita lakukan pada mereka, yang sehari-hari masih belum mampu memenuhi kebutuhan gizinya, misalnya.
"Berbagi itu juga tidak hanya bermanfaat untuk orang lain, tetapi juga untuk diri sendiri. Apa yang kita berikan mungkin kecil bagi kita, tapi besar artinya untuk mereka. Ketika kita melihat orang yang kita bantu itu merasa senang dengan bantuan kita, ada kebahagiaan yang sempurna yang kita rasakan," tutur Yuna Eka Kristina, Public Relations Manager Orangtua Group, saat talk show "Through Mom, We Can See the Miracle of Giving", yang diadakan oleh Tango di Kidzania, Pacific Place, Sabtu (27/11/2010).
Banyak manfaat lain yang kita dapatkan dengan kebiasaan berbagi, antara lain, kita jadi pandai bersosialisasi dengan orang lain, mendapatkan rasa aman, damai, memiliki rasa cinta yang besar, dan berdaya. Menurut hasil penelitian, orang yang senang berbagi juga akan menghasilkan hormon endorfin.
"Hormon inilah yang berperan memberikan imunitas pada tubuh, sehingga tubuh memulihkan diri lebih cepat setelah operasi, dan mampu istirahat lebih optimal," lanjut Dra Rustika Thamrin, Psi, CBA, CHT, CI, MTLT, pada acara yang sama.
Untuk menciptakan kebiasaan untuk berbagi, Anda perlu mengajarkan kebiasaan ini pada anak sejak dini. Peran Anda sebagai ibu sangat besar dalam menularkan kebiasaan untuk berbagi. Sebab sebagai ibu, Anda punya kedekatan emosi yang lebih besar dengan anak. Umumnya, ibu juga mempunyai waktu lebih banyak bersama anak. Sebagai perempuan, Anda juga dikaruniai kemampuan untuk mencurahkan kasih sayang, lembut, dan detail.
"Yang perlu Anda lakukan adalah memberi contoh pada anak, karena sampai usia 5 tahun, anak adalah peniru yang ulung. Ketika perilaku ini dilakukan secara terus-menerus, lama-lama akan menjadi kebiasaan, dan akhirnya menjadi karakter," ujar psikolog yang berpraktik di Brawijaya Women and Children Hospital ini.
Rustika juga mengingatkan, memberi tidak harus berupa materi. Berbagi juga bisa diberikan dalam bentuk perhatian, senyuman, waktu, ketrampilan, sentuhan, harapan, saran, pengetahuan, dan lain sebagainya.
Menurutnya, waktu yang tepat untuk mengajarkan anak untuk berbagi adalah saat usianya 3 tahun. Sebelum usia itu, anak masih egosentris, sehingga belum memiliki konsep untuk berbagi. "Jangan memaksanya untuk berbagi, karena bila terpaksa, imej berbagi itu menjadi negatif," katanya.
Orangtua hanya perlu memberi contoh dan saran, bukan mengambil alih keputusan anak untuk berbagi. Biarkan anak menentukan sendiri bagaimana ia harus berbagi, karena bagaimanapun ia masih dalam proses belajar untuk itu. Bahkan, beri juga kesempatan pada anak untuk tidak berbagi. Jangan lupa memberikan penghargaan saat anak mau berbagi, misalnya dengan memberi pujian, senyuman, pelukan, atau ciuman.
Akan lebih baik bila Anda membuat program bersama keluarga dengan berbagi. Contohnya, dengan menjadwalkan waktu tertentu untuk berkunjung ke panti asuhan, atau memberikan susu kotak, atau cemilan bergizi lain di Posyandu. Karena dilakukan secara ajeg, berbagi pun akhirnya menjadi kebiasaan.
kompas.com
Kebiasaan Berbagi Melatih Kecerdasan Emosi Anak
Tak butuh rumus yang rumit untuk mencetak anak cerdas secara emosi. Melatih anak untuk membangun kebiasaan berbagi atau menolong orang lain yang membutuhkan bisa membantunya mengembangkan empati dan kecerdasan emosi. Kecerdasan emosi inilah yang menjadi penyumbang terbesar untuk mencetak anak yang sukses, bahagia, termasuk membentuk karakter kepemimpinan dalam dirinya.
Psikolog Rustika Thamrin, SPsi, CHt, MTLT, menjelaskan, kecerdasan emosi memberikan kontribusi 80 persen atas kesuksesan dan kebahagiaan seseorang dalam hidupnya.
"Saat anak mengembangkan empati, dengan membangun kebiasaan berbagi, ia sedang mengembangkan kercerdasan emosinya," kata pakar parenting yang akrab disapa Tika ini, setelah talkshow "Habit of Giving = Determination to Start + Consistency", yang diadakan oleh Tango bekerja sama dengan KidZania, di KidZania, Jakarta, Kamis (20/1/2011).
Manfaat berbagi
Kecerdasan emosi yang dikembangkan dalam diri anak, dengan melatih kepekaan dari kebiasaan berbagi, memberi manfaat positif dalam tumbuh kembang anak. Tika menyebutkan, anak yang terbiasa berbagi dan peduli kepada orang lain memiliki kemampuan komunikasi yang lebih bagus, baik verbal maupun nonverbal. Dengan begitu, anak memiliki kemampuan kepemimpinan yang jauh lebih baik lagi.
Ketika anak memberi, kata Tika, ia sedang belajar berempati, melatih kepekaan sosial. "Saat memberi ia menempatkan dirinya pada posisi orang yang dibantu," lanjutnya. Jika karakter seperti ini sudah menjadi kebiasaan, anak akan tumbuh dengan kecerdasan emosi yang lebih matang.
Kepedulian dan kepekaan anak seperti ini bisa dilatih melalui berbagai kebiasaan kecil di keluarga. Seperti yang diterapkan oleh Yeffi Rahmawati, pekerja media, bersama anaknya, Rakha. Melalui program "Toples Perubahan", Yeffi, juara kedua lomba "Sahabat Tango Spread Miracle", mengajak anaknya menabung sisa uang jajan dalam toples. Jika toples kaca sudah penuh, mereka mencari orang lain yang membutuhkan bantuan. Langkah sederhana ini terbukti memberikan dampak positif pada diri Rakha. Yeffi menceritakan, Rakha kini justru lebih sering mengingatkan orangtuanya untuk lebih sering lagi berbagi bersama orang lain yang membutuhkan.
Ibu, terutamanya, memegang peran penting dalam membangun kebiasaan dan karakter ini, kata Tika. Selain itu, dibutuhkan juga kerja sama yang kompak antara ayah dan ibu sehingga anak bisa mendapatkan teladan yang baik. Bagaimanapun anak membutuhkan role model untuk menumbuhkan kepedulian dalam dirinya.
kompas.com
Psikolog Rustika Thamrin, SPsi, CHt, MTLT, menjelaskan, kecerdasan emosi memberikan kontribusi 80 persen atas kesuksesan dan kebahagiaan seseorang dalam hidupnya.
"Saat anak mengembangkan empati, dengan membangun kebiasaan berbagi, ia sedang mengembangkan kercerdasan emosinya," kata pakar parenting yang akrab disapa Tika ini, setelah talkshow "Habit of Giving = Determination to Start + Consistency", yang diadakan oleh Tango bekerja sama dengan KidZania, di KidZania, Jakarta, Kamis (20/1/2011).
Manfaat berbagi
Kecerdasan emosi yang dikembangkan dalam diri anak, dengan melatih kepekaan dari kebiasaan berbagi, memberi manfaat positif dalam tumbuh kembang anak. Tika menyebutkan, anak yang terbiasa berbagi dan peduli kepada orang lain memiliki kemampuan komunikasi yang lebih bagus, baik verbal maupun nonverbal. Dengan begitu, anak memiliki kemampuan kepemimpinan yang jauh lebih baik lagi.
Ketika anak memberi, kata Tika, ia sedang belajar berempati, melatih kepekaan sosial. "Saat memberi ia menempatkan dirinya pada posisi orang yang dibantu," lanjutnya. Jika karakter seperti ini sudah menjadi kebiasaan, anak akan tumbuh dengan kecerdasan emosi yang lebih matang.
Kepedulian dan kepekaan anak seperti ini bisa dilatih melalui berbagai kebiasaan kecil di keluarga. Seperti yang diterapkan oleh Yeffi Rahmawati, pekerja media, bersama anaknya, Rakha. Melalui program "Toples Perubahan", Yeffi, juara kedua lomba "Sahabat Tango Spread Miracle", mengajak anaknya menabung sisa uang jajan dalam toples. Jika toples kaca sudah penuh, mereka mencari orang lain yang membutuhkan bantuan. Langkah sederhana ini terbukti memberikan dampak positif pada diri Rakha. Yeffi menceritakan, Rakha kini justru lebih sering mengingatkan orangtuanya untuk lebih sering lagi berbagi bersama orang lain yang membutuhkan.
Ibu, terutamanya, memegang peran penting dalam membangun kebiasaan dan karakter ini, kata Tika. Selain itu, dibutuhkan juga kerja sama yang kompak antara ayah dan ibu sehingga anak bisa mendapatkan teladan yang baik. Bagaimanapun anak membutuhkan role model untuk menumbuhkan kepedulian dalam dirinya.
kompas.com
4 Tahapan Atasi Masalah Emosi Anak
Emosi negatif yang banyak dipendam anak, lambat laun dapat menimbulkan penyakit fisik. Emosi negatif yang timbul dalam diri anak dipengaruhi banyak faktor. Seperti kondisi emosi yang tak stabil, terutama pada anak-anak menjelang usia peralihan remaja, sekitar 10-12 tahun. Selain itu, faktor lingkungan seperti hubungan orangtua yang tidak harmonis, adanya tekanan sosial dari lingkungan sekolah semisal kasus bullying, tuntutan orangtua dan pola asuhnya yang kurang mendukung juga menjadi sumber munculnya emosi negatif pada anak.
Bimbingan orangtua sangat penting agar anak dapat mengungkapkan emosinya secara tepat. Terutama saat anak mengalami masalah emosi negatif seperti kekesalan, kemarahan, kesedihan atau kekecewaan. Berikut empat tahapan dalam mengatasi masalah emosi.
1. Memersepsikan.
Anak harus dapat mengenali suatu peristiwa, kejadian atau sumber yang membuat emosi negatifnya muncul.
2. Mengenali.
Orangtua harus memberikan contoh kepada anak bagaimana caranya agar anak dapat mengenali emosi yang dialaminya. Misal, ketika ibu tengah mengalami emosi marah atau sedih, ibu bisa mengatakan, "Mama sedang marah." Nantinya anak akan mengenali beragam emosi tersebut dan meniru bagaimana mengekspresikan emosinya.
3. Mengungkapkan.
Tujuan mengungkapkan emosi adalah menyelesaikan suatu masalah. Agar anak dapat mengungkapkan emosi yang dialaminya, diperlukan saluran emosi, baik secara verbal maupun nonverbal. Contoh, secara verbal dengan mengatakan, "Aku kesal," atau, "Aku kecewa," dan lainnya. Untuk nonverbal bisa dengan menulis di buku harian, membuat lukisan, atau melakukan kegiatan lainnya.
4. Mengendalikan emosi.
Intinya adalah bersikap asertif, yaitu bagaimana anak bisa menyatakan dan mengungkapkannya secara tepat pada situasi tertentu, atau mengekspresikan perasaannya tanpa menyinggung, menyakiti diri sendiri dan orang lain.
kompas.com
Bimbingan orangtua sangat penting agar anak dapat mengungkapkan emosinya secara tepat. Terutama saat anak mengalami masalah emosi negatif seperti kekesalan, kemarahan, kesedihan atau kekecewaan. Berikut empat tahapan dalam mengatasi masalah emosi.
1. Memersepsikan.
Anak harus dapat mengenali suatu peristiwa, kejadian atau sumber yang membuat emosi negatifnya muncul.
2. Mengenali.
Orangtua harus memberikan contoh kepada anak bagaimana caranya agar anak dapat mengenali emosi yang dialaminya. Misal, ketika ibu tengah mengalami emosi marah atau sedih, ibu bisa mengatakan, "Mama sedang marah." Nantinya anak akan mengenali beragam emosi tersebut dan meniru bagaimana mengekspresikan emosinya.
3. Mengungkapkan.
Tujuan mengungkapkan emosi adalah menyelesaikan suatu masalah. Agar anak dapat mengungkapkan emosi yang dialaminya, diperlukan saluran emosi, baik secara verbal maupun nonverbal. Contoh, secara verbal dengan mengatakan, "Aku kesal," atau, "Aku kecewa," dan lainnya. Untuk nonverbal bisa dengan menulis di buku harian, membuat lukisan, atau melakukan kegiatan lainnya.
4. Mengendalikan emosi.
Intinya adalah bersikap asertif, yaitu bagaimana anak bisa menyatakan dan mengungkapkannya secara tepat pada situasi tertentu, atau mengekspresikan perasaannya tanpa menyinggung, menyakiti diri sendiri dan orang lain.
kompas.com
4 Cara Merespons Emosi Negatif Anak
Jika pola asuh tak sesuai dengan usia anak, kelewat mendikte, terlalu menuntut lebih, anak harus pintar dan sempurna, serta lainnya sejenis itu, akan membuat anak merasa tak nyaman dan emosi negatifnya semakin menjadi. Orangtua perlu mempraktikkan enam pilar pola asuh positif, salah satunya memahami emosi negatif anak.
Kunci memahami emosi negatif anak adalah mendengarkan keinginan anak, karena kebutuhan anak adalah keinginan didengar, dipahami, dihargai, dilindungi, dan lain-lain. Saat anak sedang marah atau mengalami emosi negatif, orangtua sebaiknya melakukan tip di bawah ini:
1. Validasi atau pahami perasaan atau emosi negatif anak. Misal, "Ayah paham perasaanmu yang sedang sedih, coba ceritakan kepada Ayah supaya kamu lega." Dengan cara ini, anak merasa didengarkan.
2. Hindari memperbaiki perasaan anak. "Ayah tidak suka wajah kamu yang merengut. Coba lihat di cermin." Tanggapan seperti ini hanya akan memblok perkembangan emosional intellegence anak. Biarkan anak mengekspresikan emosi negatifnya, tentu dengan cara yang tidak berlebihan.
3. Berikan batasan, seperti, "Ayah paham, kamu marah. Tapi kamu harus tetap menjaga diri dengan baik. Ayah sayang kamu, Nak." Tujuannya, supaya anak tidak melakukan aksi fisik, ngamuk, melempar barang, dan sebagainya.
4. Berikan pilihan dan dukungan saat anak sudah tenang. Hindari pertanyaan, "Kenapa kamu marah?" Sebaiknya, "Ayah perhatikan, kamu sedang kesal. Ada apa, Sayang?" Pun hindari menyalahkan anak saat ia mengungkapkan kekesalannya, tapi berikan dia waktu untuk menyampaikan perasaan dan pikirannya. Setelah itu, berikan dukungan kepadanya.
(Tabloid Nakita/Irfan Hasuki/Gazali Solahuddin/Hilman Hilmansyah)
Kunci memahami emosi negatif anak adalah mendengarkan keinginan anak, karena kebutuhan anak adalah keinginan didengar, dipahami, dihargai, dilindungi, dan lain-lain. Saat anak sedang marah atau mengalami emosi negatif, orangtua sebaiknya melakukan tip di bawah ini:
1. Validasi atau pahami perasaan atau emosi negatif anak. Misal, "Ayah paham perasaanmu yang sedang sedih, coba ceritakan kepada Ayah supaya kamu lega." Dengan cara ini, anak merasa didengarkan.
2. Hindari memperbaiki perasaan anak. "Ayah tidak suka wajah kamu yang merengut. Coba lihat di cermin." Tanggapan seperti ini hanya akan memblok perkembangan emosional intellegence anak. Biarkan anak mengekspresikan emosi negatifnya, tentu dengan cara yang tidak berlebihan.
3. Berikan batasan, seperti, "Ayah paham, kamu marah. Tapi kamu harus tetap menjaga diri dengan baik. Ayah sayang kamu, Nak." Tujuannya, supaya anak tidak melakukan aksi fisik, ngamuk, melempar barang, dan sebagainya.
4. Berikan pilihan dan dukungan saat anak sudah tenang. Hindari pertanyaan, "Kenapa kamu marah?" Sebaiknya, "Ayah perhatikan, kamu sedang kesal. Ada apa, Sayang?" Pun hindari menyalahkan anak saat ia mengungkapkan kekesalannya, tapi berikan dia waktu untuk menyampaikan perasaan dan pikirannya. Setelah itu, berikan dukungan kepadanya.
(Tabloid Nakita/Irfan Hasuki/Gazali Solahuddin/Hilman Hilmansyah)
Manfaat Musik pada Anak
Musik merupakan salah satu hal yang mempunyai pengaruh pada perkembangan anak, mulai dari bayi hingga seseorang menjadi dewasa. Hal ini telah diteliti oleh para ilmuwan. Penelitian membuktikan bahwa musik, terutama musik klasik sangat mempengaruhi perkembangan IQ (Intelegent Quotien) dan EQ (Emotional Quotien). Seorang anak yang sejak kecil terbiasa mendengarkan musik akan lebih berkembang kecerdasan emosional dan intelegensinya dibandingkan dengan anak yang jarang mendengarkan musik. Yang dimaksud musik di sini adalah musik yang memiliki irama teratur dan nada-nada yang teratur, bukan nada-nada “miring”. Tingkat kedisiplinan anak yang sering mendengarkan musik juga lebih baik dibanding dengan anak yang jarang mendengarkan musik.
Grace Sudargo, seorang musisi dan pendidik mengatakan, “Dasar-dasar musik klasik secara umum berasal dari ritme denyut nadi manusia sehingga ia berperan besar dalam perkembangan otak, pembentukan jiwa, karakter, bahkan raga manusia”. Penelitian menunjukkan, musik klasik yang mengandung komposisi nada berfluktuasi antara nada tinggi dan nada rendah akan merangsang kuadran C pada otak. Sampai usia 4 tahun, kuadran B dan C pada otak anak-anak akan berkembang hingga 80 % dengan musik.
“Musik sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Musik memiliki 3 bagian penting yaitu beat, ritme, dan harmony”, demikian kata Ev. Andreas Christanday dalam suatu ceramah musik. “Beat mempengaruhi tubuh, ritme mempengaruhi jiwa, sedangkan harmony mempengaruhi roh”. Contoh paling nyata bahwa beat sangat mempengaruhi tubuh adalah dalam konser musik rock. Bisa dipastikan tidak ada penonton maupun pemain dalam konser musik rock yang tubuhnya tidak bergerak. Semuanya bergoyang dengan dahsyat, bahkan cenderung lepas kontrol. Ada suatu istilah yang disebut “head banger”, yaitu suatu gerakan memutar-mutar kepala mengikuti irama music rock yang kencang. Dan tubuh itu mengikutinya seakan tanpa rasa lelah. Jika hati kita sedang susah, cobalah mendengarkan musik yang indah, yang memiliki irama (ritme) yang teratur. Perasaan kita akan lebih enak dan enteng.
Di luar negeri, sebagian rumah sakit memperdengarkan lagu-lagu indah untuk membantu penyembuhan para pasiennya. Itu suatu bukti, bahwa ritme sangat mempengaruhi jiwa manusia. Sedangkan harmony sangat mempengaruhi roh. Jika kita menonton film horor, selalu terdengar harmony (melodi) yang menyayat hati, yang membuat bulu kuduk kita berdiri. Dalam ritual-ritual keagamaan juga banyak digunakan harmony yang membawa roh manusia masuk ke dalam alam penyembahan. Di dalam meditasi, manusia mendengar harmony dari suara-suara alam disekelilingnya. “Musik yang baik bagi kehidupan manusia adalah musik yang seimbang antara beat, ritme, dan harmony”, ujar Ev. Andreas Christanday.
Seorang ahli biofisika telah melakukan suatu percobaan tentang pengaruh musik bagi kehidupan makhluk hidup. Dua tanaman dari jenis dan umur yang sama diletakkan pada tempat yang berbeda. Yang satu diletakkan dekat dengan pengeras suara (speaker) yang menyajikan lagu-lagu slow rock dan heavy rock, sedangkan tanaman yang lain diletakkan dekat dengan speaker yang memperdengarkan lagu-lagu yang indah dan berirama teratur. Dalam beberapa hari terjadi perbedaan yang sangat mencolok. Tanaman yang berada di dekat speaker lagu-lagu rock menjadi layu dan mati, sedangkan tanaman yang berada di dekat speaker lagu-lagu indah tumbuh segar dan berbunga. Suatu bukti nyata bahwa musik sangat mempengaruhi kehidupan makhluk hidup.
Alam semesta tercipta dengan musik alam yang sangat indah. Gemuruh ombak di laut, deru angin di gunung, dan rintik hujan merupakan musik alam yang sangat indah. Dan sudah terbukti, bagaimana pengaruh musik alam itu bagi kehidupan manusia. Jikalau kita merasa hari ini begitu berat, coba periksa lagi hidup Anda pada hari ini. Jangan-jangan kita belum mendengarkan musik dan bernyanyi”.
kesehatananak.info
Grace Sudargo, seorang musisi dan pendidik mengatakan, “Dasar-dasar musik klasik secara umum berasal dari ritme denyut nadi manusia sehingga ia berperan besar dalam perkembangan otak, pembentukan jiwa, karakter, bahkan raga manusia”. Penelitian menunjukkan, musik klasik yang mengandung komposisi nada berfluktuasi antara nada tinggi dan nada rendah akan merangsang kuadran C pada otak. Sampai usia 4 tahun, kuadran B dan C pada otak anak-anak akan berkembang hingga 80 % dengan musik.
“Musik sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Musik memiliki 3 bagian penting yaitu beat, ritme, dan harmony”, demikian kata Ev. Andreas Christanday dalam suatu ceramah musik. “Beat mempengaruhi tubuh, ritme mempengaruhi jiwa, sedangkan harmony mempengaruhi roh”. Contoh paling nyata bahwa beat sangat mempengaruhi tubuh adalah dalam konser musik rock. Bisa dipastikan tidak ada penonton maupun pemain dalam konser musik rock yang tubuhnya tidak bergerak. Semuanya bergoyang dengan dahsyat, bahkan cenderung lepas kontrol. Ada suatu istilah yang disebut “head banger”, yaitu suatu gerakan memutar-mutar kepala mengikuti irama music rock yang kencang. Dan tubuh itu mengikutinya seakan tanpa rasa lelah. Jika hati kita sedang susah, cobalah mendengarkan musik yang indah, yang memiliki irama (ritme) yang teratur. Perasaan kita akan lebih enak dan enteng.
Di luar negeri, sebagian rumah sakit memperdengarkan lagu-lagu indah untuk membantu penyembuhan para pasiennya. Itu suatu bukti, bahwa ritme sangat mempengaruhi jiwa manusia. Sedangkan harmony sangat mempengaruhi roh. Jika kita menonton film horor, selalu terdengar harmony (melodi) yang menyayat hati, yang membuat bulu kuduk kita berdiri. Dalam ritual-ritual keagamaan juga banyak digunakan harmony yang membawa roh manusia masuk ke dalam alam penyembahan. Di dalam meditasi, manusia mendengar harmony dari suara-suara alam disekelilingnya. “Musik yang baik bagi kehidupan manusia adalah musik yang seimbang antara beat, ritme, dan harmony”, ujar Ev. Andreas Christanday.
Seorang ahli biofisika telah melakukan suatu percobaan tentang pengaruh musik bagi kehidupan makhluk hidup. Dua tanaman dari jenis dan umur yang sama diletakkan pada tempat yang berbeda. Yang satu diletakkan dekat dengan pengeras suara (speaker) yang menyajikan lagu-lagu slow rock dan heavy rock, sedangkan tanaman yang lain diletakkan dekat dengan speaker yang memperdengarkan lagu-lagu yang indah dan berirama teratur. Dalam beberapa hari terjadi perbedaan yang sangat mencolok. Tanaman yang berada di dekat speaker lagu-lagu rock menjadi layu dan mati, sedangkan tanaman yang berada di dekat speaker lagu-lagu indah tumbuh segar dan berbunga. Suatu bukti nyata bahwa musik sangat mempengaruhi kehidupan makhluk hidup.
Alam semesta tercipta dengan musik alam yang sangat indah. Gemuruh ombak di laut, deru angin di gunung, dan rintik hujan merupakan musik alam yang sangat indah. Dan sudah terbukti, bagaimana pengaruh musik alam itu bagi kehidupan manusia. Jikalau kita merasa hari ini begitu berat, coba periksa lagi hidup Anda pada hari ini. Jangan-jangan kita belum mendengarkan musik dan bernyanyi”.
kesehatananak.info
Langganan:
Postingan (Atom)