Tampilkan postingan dengan label diabetes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label diabetes. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Oktober 2012

Penyakit diabetes dan cara mengobatinya

Diabetes mellitus atau lebih dikenal dengan sebutan “penyakit kencing manis” di masyarakat merupakan salah satu penyakit “abadi” yang terus bermunculan penderitanya dalam kehidupan sehari-hari. Penyakit ini memberikan dampak yang luas bagi pasiennya, tidak hanya karena mengganggu kesehatan semata akibat berbagai komplikasi yang ditimbulkan, namun juga mempengaruhi kehidupan sosial. Faktanya, prevalensi diabetes mellitus secara global terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 1995, prevalensi diabetes mellitus di dunia mencapai 4,0% dan diperkirakan akan meningkat menjadi 5,4% pada tahun 2025. Sedangkan di negara berkembang (termasuk Indonesia), penderita diabetes mellitus pada tahun 1995 telah mencapai 84 juta pasien dan diprediksi akan melonjak hingga 228 juta pasien pada tahun 2025 nanti.
 
Definisi dan Klasifikasi Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan hiperglikemia kronik sebagai kelainan utamanya akibat adanya insufisiensi kerja insulin.4
Berdasarkan etiologinya, American Diabetes Association (2005) mengklasifikasikan diabetes mellitus menjadi empat tipe, yaitu:1,2
I.  Diabetes Mellitus Tipe 1
(destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut)
A.  Melalui proses imunologik
B.  Idiopatik
II.  Diabetes Mellitus Tipe 2
(bervariasi mulai yang predominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai yang predominan gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin)
III.    Diabetes Mellitus Tipe Lain
  • Defek genetik fungsi sel beta
  • Defek genetik kerja insulin
  • Penyakit eksokrin pankreas
  • Endokrinopati
  • Karena obat/zat kimia
  • Infeksi
  • Imunologi (jarang)
  • Sindroma genetik lain
  • Diabetes Kehamilan (Gestasional)

Manifestasi Klinis Diabetes Mellitus
Keluhan klasik dari diabetes mellitus meliputi empat hal, yaitu: poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. Keluhan lain yang juga dapat ditemukan pada pasien diabetes mellitus antara lain pasien merasakan lemah, gatal, kesemutan, pandangan kabur, serta adanya disfungsi ereksi pada pria ataupun pruritus vulva pada wanita.1,2   

Diagnosis Diabetes Mellitus
Dalam menegakkan diagnosis diabetes mellitus, patokan yang dijadikan acuan tentu saja adalah pemeriksaan glukosa darah. Dalam hal ini dikenal adanya istilah pemeriksaan penyaring dan uji diagnostik diabetes mellitus.1,2
 
Pemeriksaan Penyaring

Pemeriksaan penyaring ditujukan untuk mengidentifikasi kelompok yang tidak menunjukkan gejala diabetes mellitus tetapi memiliki resiko diabetes mellitus, yaitu: 1) Umur > 45 tahun, 2) Berat badan lebih (dengan kriteria: BBR > 110% BB idaman atau IMT >23 kg/m2), 3) Hipertensi (≥ 140/90 mmHg), 4) Terdapat riwayat diabetes mellitus dalam garis keturunan, 5) terdapat riwayat abortus berulang, melahirkan bayi cacat, atau BB lahir bayi > 4000 gram, 6) Kadar kolesterol HDL ≤ 35 mg/dl dan atau trigliserida ≥ 250 mg/dl.
 
Pemeriksaan penyaring dilakukan dengan memeriksa kadar gula darah sewaktu (GDS) atau gula darah puasa (GDP), yang selanjutnya dapat dilanjutkan dengan tes toleransi glukosa oral (TTGO) standar. Dari pemeriksaan GDS, disebut diabetes mellitus apabila didapatkan kadar GDS ≥ 200 mg/dl dari sampel plasma vena ataupun darah kapiler. Sedangkan pada pemeriksaan GDP, dikatakan sebagai diabetes mellitus apabila didapatkan kadar GDP ≥ 126 mg/dl dari sampel plasma vena atau ≥ 110 mg/dl dari sampel darah kapiler.
Uji Diagnostik
Uji diagnostik dikerjakan pada kelompok yang menunjukkan gejala atau tanda diabetes mellitus. Bagi yang mengalami gejala khas diabetes mellitus, kadar GDS ≥ 200 mg/dl atau GDP ≥ 126 mg/dl sudah cukup untuk menegakkan diagnosis diabetes mellitus. Sedangkan pada pasien yang tidak memperlihatkan gejala khas diabetes mellitus, apabila ditemukan kadar GDS atau GDP yang abnormal maka harus dilakukan pemeriksaan ulang GDS/GDP atau bila perlu dikonfirmasi pula dengan TTGO untuk mendapatkan sekali lagi angka abnormal yang merupakan kriteria diagnosis diabetes mellitus (GDP ≥ 126 mg/dl, GDS ≥ 200 mg/dl pada hari yang lain, atau TTGO ≥ 200 mg/dl).  
Pengobatan Diabetes Mellitus
Pengobatan diabetes mellitus sangat penting dalam menjaga kestabilan kadar gula darah pasien guna mencegah terjadinya berbagai komplikasi akut dan kronik. Hal tersebut dilakukan melalui empat pilar utama pengelolaan diabetes mellitus, yaitu:2,3
  1. Edukasi
    Berupa pendidikan dan latihan tentang pengetahuan pengelolaan penyakit diabetes mellitus bagi pasien dan keluarganya.
  2. Perencanaan makan
    Bertujuan untuk mempertahankan kadar normal glukosa darah dan lipid, nutrisi yang optimal, serta mencapai/mempertahankan berat badan ideal. Adapun komposisi makanan yang dianjurkan bagi pasien adalah sebagai berikut: karbohidrat 60-70%, lemak 20-25%, dan protein 10-15%.
  3. Latihan jasmani
    Berupa kegiatan jasmani sehari-hari (berjalan kaki ke pasar, berkebun, dan lain-lain) dan latihan jasmani teratur (3-4x/minggu selama ± 30 menit).
  4. Intervensi farmakologis
    Diberikan apabila target kadar glukosa darah belum bisa dicapai dengan perencanaan makan dan latihan jasmani. Intervensi farmakologis dapat berupa  Obat hipoglikemik oral/OHO (insulin sensitizing, insulin secretagogue, penghambat alfa glukosidase) dan Insulin, diberikan pada kondisi berikut:
  • Penurunan berat badan yang cepat
  • Hiperglikemia berat disertai ketosis
  • Ketoasidosis diabetik
  • Hiperglikemia hiperosmolar non ketotik
  • Hiperglikemia dengan asidosis laktat
  • Gagal dengan kombinasi OHO dosis hampir maksimal
  • Stress berat (infeksi sistemik, operasi besar, AMI, stroke)
  • Diabetes mellitus gestasional yang tak terkendali dengan perencanaan makanan,
  • Gangguan fungsi ginjal/hati yang berat
  • Kontraindikasi atau alergi OHO          
Daftar Pustaka

  1. Gustaviani, R., 2006. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Mellitus. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 1879.   
  2. Kurniawan, A., 2005. Current Review of Diabetes Mellitus. Kumpulan Makalah One Day Symposium an Update on the Management of Diabetes Mellitus, Panitia Pelantikan Dokter Baru Periode 151 Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Solo, 5.
  3. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, 2005. Diabetes Melitus. Standar Pelayanan Medik, PB PAPDI, Jakarta, 7.
  4. Soegondo, S. 2011. Diagnosis, Klasifikasi, dan Patofisiologi Diabetes Mellitus. Kumpulan Makalah Update Comprehensive Management of Diabetes Mellitus, Panitia Seminar Ilmiah Nasional Continuing Medical Education Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 11.

------------------------------------
Oleh: dr. Dimas Satya Hendarta
Staff Edukatif Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia

Power By medicine.uii.ac.id

Selasa, 23 Oktober 2012

Mengapa Kurang Tidur Memicu Diabetes?

Orang yang selalu kurang tidur akan menghadapai konsekuensi yang lebih besar daripada kelelahan dan sulit berkosentrasi. Menurut penelitian, kebiasaan kurang tidur dalam jangka panjang meningkatkan risiko obesitas dan diabetes tipe 2.

Para ilmuwan menyelediki alasan di balik peningkatan risiko tersebut. Beberapa riset menunjukkan bahwa pola tidur kita berpengaruh pada kadar gula darah, hormon yang mengontrol nafsu makan, bahkan persepsi otak akan makanan berkalori tinggi.

Sebuah penelitian berskala kecil yang dimuat dalam jurnal The Annals of Internal Medicine menambahkan bukti, terutama pada level seluler. Kurang tidur ternyata mengurangi kemampuan sel lemak untuk merespon insulin, hormon yang mengatur metabolisme dan berperan besar pada diabetes.

Dalam penelitian para partisipan diminta tidur 8 malam di laboratorium tidur. Selama 4 malam pertama mereka tidur dengan jam normal, lalu 4 malam berikutnya jam tidur mereka hanya dibatasi 4,5 jam.

Ternyata, setelah 4 malam kurang tidur, sensitivitas insulin para responden turun 16 persen. Lebih lanjut, sensitivitas insulin sel lemak turun sampai 30 persen pada level yang biasa dialami oleh orang obesitas atau diabetes.

"Sel lemak memerlukan tidur, dan jika jam tidur kekurangan secara metabolik mereka akan terganggu," kata Matthew Brady, peneliti senior.

Bila resitensi insulin yang tadinya sementara ini menjadi sering terjadi, maka kelebihan gula darah dan kolesterol akan berakumulasi di aliran darah sehingga memicu diabetes dan penyakit jantung.

Brady mengatakan belum diketahui bagaimana sel lemak mengenali jika kita kurang tidur. Kemungkinan karena kurang tidur akan memberikan respon stres tubuh sehingga terjadi pelepasan stres hormon kortisol dan neropinehrine, yang berkaitan dengan resistensi insulin.

 Accurate Health Center merupakan pusat pengobatan akupunktur dan konsultasi psikologi di kota Medan dapat membantu anda melakukan konseling psikologi dan pengobatan akupunktur untuk menyembuhkan penyakit. Pengobatan Accurate Health Center tergolong lengkap dari segi pengobatan tradisional, seperti terapi tingkah laku, terapi traumalitas, konseling psikologi, konseling anak, terapi akupunktur, terapi pijat pengobatan, totok badan maupun wajah, terapi bekam, fisioterapi, refleksi terapi dan ramuan-ramuan obat tradisional yang cukup efektif. Alamiah dan tanpa efek samping.

Hipnoterapi untuk penyakit juga tersedia bagi pasien yang membutuhkan.

Hubungi Accurate Health Center Medan untuk penanganannya.

"Accurate" Health Center Medan
Jl. Tilak No. 76 (Simpang Demak)
Telp. (061) 7322480
Medan

Website : Http://www.accuratehealth.blogspot.com

Rabu, 01 Agustus 2012

Inidia Obat Mujarab Diabetes dari Kombinasi Buah Manggis dan Sawo


Tiga mahasiswa Universitas Diponegoro, Semarang, berhasil mengembangkan ekstrak kulit manggis dan sawo untuk menurunkan kadar gula darah pada tubuh penderita diabetes melitus. Ketiga mahasiswa dari program studi D3 Teknik Kimia itu adalah Isabel Triesty, Aprisal Setyo dan Novia Nurul.

Melalui penelitian tentang khasiat ekstrak kulit manggis dan sawo itu, mereka meraih juara harapan III dalam Lomba Karya Tulis Inovatif Mahasiswa (LKTIM). Acara lomba diadakan oleh Dinas Pendidikan Jawa Tengah.

Isabel Triesty mengatakan kombinasi ekstrak kulit manggis dan sawo dapat menurunkan kadar gula darah tubuh karena mengandung antioksidan tinggi. Antioksidan dapat digunakan untuk memperbaiki insulin dalam tubuh yang rusak.

Isabel berharap karya mereka itu dapat menjadi obat herbal yang dapat dijangkau masyarakat luas, terutama dari kalangan tidak mampu. Sebab, menurut dia, penyakit diabetes melitus juga menyerang masyarakat kurang mampu.

Dengan adanya ekstrak kulit manggis dan sawo, obat herbal untuk penderita diabetes melitus dapat dibuat dengan biaya yang murah tetapi memiliki khasiat yang tidak kalah dengan obat dari apotek.

Masyarakat biasanya mengonsumsi buah manggis hanya daging buahnya saja. Sementara, kulitnya dibuang. "Padahal, ternyata kulit manggis yang biasa dibuang itu memiliki khasiat tinggi," kata Isabel

sumber

Minggu, 17 Juni 2012

Gula Jagung Lebih Baik Daripada Madu Untuk Penderita Diabetes

Penderita diabetes dalam usaha untuk menurunkan kadar gula darahnya perlu mencari alternatif pemanis yang rendah kalori. Banyak masyarakat yang beranggapan bahwa madu merupakan pengganti gula yang baik untuk penderita diabetes, tetapi tahukan anda bahwa ternyata gula jagung jauh lebih baik daripada madu.

Hal ini disampaikan oleh dr. Dyah Purnamasari, Sp.PD, dari Divisi Metabolik dan Endokrin Departemen Penyakit Dalam FKUI, kepada media usai menjadi pembicara dalam media edukasi bertemakan penyakit kardiovaskular dan diabetes, di Jakarta, Kamis.
"Gula jagung memiliki kalori yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan madu," ujar Dyah menepis anggapan masyarakat bahwa madu adalah pemanis yang memiliki kalori rendah.
"Kalori yang terdapat dalam madu sama dengan kalori yang terdapat dalam gula tebu biasa, jadi sebenarnya sama saja," tandasnya.
Oleh sebab itu Dyah menganjurkan para penderita diabetes agar menggunakan gula jagung sebagai pemanis, karena kadar kalori yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan madu dan gula tebu.

antara

Kamis, 27 Oktober 2011

Macam - macam Tipe Diabetes

Istilah''diabetes'', tanpa kualifikasi, biasanya mengacu pada diabetes melitus, yang secara kasar diterjemahkan menjadi kencing manis berlebihan (dikenal sebagai "glikosuria") tapi ada beberapa kondisi langka juga bernama diabetes. Yang paling umum dari diabetes insipidus ini adalah di mana sejumlah besar urin diproduksi (poliuria), yang tidak manis (berarti insipidus "tanpa rasa" dalam bahasa Latin), bisa disebabkan baik oleh ginjal (nephrogenic DI) atau kelenjar pituitari (pusat DI) kerusakan. Ini adalah penyakit tidak menular.

Di antara sistem tubuh yang dipengaruhi oleh Diabetes mellitus adalah, saraf pencernaan, peredaran darah, sistem endokrin dan urin, tetapi semua sistem tubuh dalam beberapa cara terpengaruh.

Istilah "diabetes tipe 1" telah menggantikan istilah universal beberapa nama, termasuk onset diabetes, diabetes anak-anak, dan insulin-dependent diabetes mellitus (IDDM). Demikian juga, istilah "diabetes tipe 2" telah menggantikan istilah beberapa nama, termasuk diabetes onset dewasa, terkait obesitas diabetes, dan non-insulin-dependent diabetes mellitus (NIDDM). Di luar dua jenis, tidak ada yang telah disepakati tata-nama standar. Berbagai sumber telah menetapkan "tipe 3 diabetes", antara lain, gestational diabetes, insulin resisten diabetes tipe 1 (atau "diabetes ganda"), diabetes tipe 2 yang telah berkembang membutuhkan insulin disuntikkan, dan diabetes laten autoimun orang dewasa (atau LADA atau "tipe 1,5" diabetes.)

Diabetes tipe 1
Diabetes mellitus tipe 1 ditandai dengan hilangnya sel yang memproduksi insulin. Beta Langerhans di pankreas menyebabkan kekurangan insulin. Diabetes tipe ini dapat lebih diklasifikasikan sebagai kekebalan yang dimediasi atau idiopatik. Mayoritas diabetes tipe 1 adalah sifat kekebalan-mediated, di mana hilangnya sel beta adalah serangan T-sel autoimun dimediasi. Tidak ada tindakan pencegahan yang diketahui yang dapat diambil terhadap diabetes tipe 1, yang mengandung sekitar 10% dari kasus diabetes mellitus di Amerika Utara dan Eropa (meskipun angka ini bervariasi berdasarkan lokasi geografis). Kebanyakan orang yang terkena dampak sehat dan berat badan yang sehat ketika awal terjadi. Kepekaan dan tanggap terhadap insulin biasanya normal, terutama pada tahap awal. Tipe 1 diabetes dapat mempengaruhi anak-anak atau orang dewasa, tetapi secara tradisional disebut "diabetes anak-anak" karena itu merupakan sebagian besar kasus diabetes pada anak-anak.

Pengobatan utama diabetes tipe 1, bahkan pada tahap awal, adalah pengiriman insulin buatan melalui injeksi dikombinasikan dengan pemantauan yang cermat kadar glukosa darah menggunakan monitor pengujian darah. Tanpa insulin, ketoasidosis diabetes sering berkembang yang dapat mengakibatkan koma atau kematian. Pengobatan penekanan sekarang juga ditempatkan pada penyesuaian gaya hidup (diet dan olahraga) meskipun ini tidak dapat membalikkan kemajuan penyakit. Terlepas dari suntikan subkutan umum, juga memungkinkan untuk memberikan insulin oleh pompa, yang memungkinkan infus kontinyu insulin 24 jam sehari pada tingkat preset, dan kemampuan untuk Program dosis (a bolus) dari insulin yang dibutuhkan pada saat makan. Suatu bentuk inhalasi insulin telah disetujui oleh FDA pada bulan Januari 2006, meskipun dihentikan untuk alasan bisnis pada bulan Oktober 2007. Non-insulin pengobatan, seperti antibodi monoklonal dan terapi sel induk berbasis, efektif dilakukan percobaan pada hewan tetapi belum selesai uji klinis pada manusia.

Diabetes tipe 2
Diabetes mellitus tipe 2 ditandai berbeda dan disebabkan oleh resistensi insulin atau berkurangnya sensitifitas terhadap insulin, dikombinasikan dengan sekresi insulin relatif berkurang yang dalam beberapa kasus menjadi mutlak. Respon yang rusak dari jaringan tubuh terhadap insulin hampir pasti melibatkan reseptor insulin di membran sel. Namun, cacat spesifik tidak diketahui. Diabetes mellitus akibat cacat tertentu yang dikenal diklasifikasikan secara terpisah. Diabetes tipe 2 adalah jenis yang paling umum.

Pada tahap awal diabetes tipe 2, kelainan dominan sensitivitas insulin berkurang, ditandai dengan peningkatan kadar insulin dalam darah. Pada tahap ini hiperglikemia dapat dibalik oleh berbagai tindakan dan obat-obatan yang meningkatkan sensitivitas insulin atau mengurangi produksi glukosa oleh hati. Sebagai penyakit berlangsung, penurunan sekresi insulin memburuk, dan penggantian terapi insulin sering menjadi perlu.

Ada banyak teori mengenai penyebab pasti dan mekanisme pada diabetes tipe 2. Central obesitas (lemak terkonsentrasi di sekitar pinggang dalam hubungannya dengan organ perut, tetapi tidak lemak subkutan) diketahui mempengaruhi individu untuk resistensi insulin. Lemak perut terutama aktif hormon, mensekresi kelompok hormon yang disebut adipokines yang mungkin dapat merusak toleransi glukosa. Obesitas ditemukan pada sekitar 55% dari pasien yang didiagnosis dengan diabetes tipe 2. Faktor-faktor lain termasuk penuaan (sekitar 20% dari pasien usia lanjut di Amerika Utara mengidap diabetes) dan sejarah keluarga (tipe 2 adalah jauh lebih umum pada mereka dengan kerabat dekat yang memiliki itu). Dalam dekade terakhir, diabetes tipe 2 telah semakin mulai mempengaruhi anak-anak dan remaja, mungkin sehubungan dengan peningkatan prevalensi obesitas terlihat dalam beberapa dekade terakhir di beberapa tempat. Paparan lingkungan dapat berkontribusi untuk meningkatkan terbaru dalam tingkat diabetes tipe 2. Sebuah korelasi positif telah ditemukan antara konsentrasi dalam urin bisphenol A, merupakan konstituen dari plastik polikarbonat dari beberapa produsen, dan kejadian diabetes tipe 2.

Diabetes tipe 2 boleh pergi tak ketahuan selama bertahun-tahun karena gejala yang terlihat biasanya ringan, tidak ada atau sporadis, dan biasanya tidak ada episode ketoacidotic. Namun, yang parah komplikasi jangka panjang dapat hasil dari diabetes tipe 2 tanpa disadari, termasuk gagal ginjal akibat diabetes nefropati, penyakit vaskular (termasuk penyakit arteri koroner), kerusakan penglihatan akibat retinopati diabetes, hilangnya sensasi atau nyeri akibat neuropati diabetes, kerusakan hati dari steatohepatitis non-alkohol dan gagal jantung dari kardiomiopati diabetes.

Studi telah menyarankan menunjukkan bahwa hormon seperti kortisol dan mungkin testosteron memainkan peran penting dalam penyerapan gula dan dalam resistensi insulin. Ia telah mengemukakan bahwa sindrom Cushing subklinis ini (kelebihan kortisol) dikaitkan dengan diabetes mellitus tipe 2. Persentase sindrom Cushing subklinis pada populasi diabetes tampaknya menjadi sekitar 9%, tetapi juga tampaknya bahwa persentase sebenarnya adalah lebih tinggi dari sebelumnya diyakini. Pasien diabetes dengan microadenoma pituitari secara signifikan dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan toleransi glukosa dengan operasi transsphenoidal, karena remotion dari mikroadenoma dapat menurunkan kadar ACTH dan kortisol.

Hipogonadisme sering dikaitkan dengan kelebihan kortisol, dan defisiensi testosteron juga terkait dengan penyakit diabetes mellitus tipe 2, bahkan jika mekanisme yang tepat di mana testosteron meningkatkan resistensi insulin masih belum diketahui.

Gestational diabetes
Gestational diabetes mellitus (GDM) mirip diabetes tipe 2 dalam beberapa hal, yang melibatkan kombinasi dari sekresi insulin relatif memadai dan responsif. Ini terjadi pada sekitar 2% -5% dari seluruh kehamilan dan dapat meningkatkan atau menghilang setelah melahirkan. Gestational diabetes sepenuhnya dapat disembuhkan tetapi membutuhkan pengawasan medis berhati-hati selama kehamilan. Sekitar 20% -50% dari wanita yang terkena diabetes tipe 2 di kemudian hari.

Bahkan meskipun mungkin bersifat sementara, gestational diabetes yang tidak diobati bisa merusak kesehatan janin atau ibu. Risiko untuk bayi makrosomia termasuk (berat lahir tinggi), kongenital jantung dan sistem saraf pusat anomali, dan malformasi otot rangka. Peningkatan insulin janin dapat menghambat produksi surfaktan janin dan menyebabkan sindrom gangguan pernapasan. Hiperbilirubinemia mungkin hasil dari penghancuran sel darah merah. Pada kasus yang parah, kematian perinatal dapat terjadi, paling umum sebagai hasil dari perfusi plasenta yang buruk akibat gangguan pembuluh darah. Induksi dapat diindikasikan dengan fungsi plasenta menurun. Sebuah operasi caesar dapat dilakukan jika ada gawat janin atau ditandai peningkatan risiko cedera yang berhubungan dengan makrosomia, seperti distosia bahu.

Sebuah penelitian di tahun 2008 diselesaikan di AS menemukan bahwa lebih banyak perempuan Amerika memasuki kehamilan dengan diabetes yang sudah ada sebelumnya. Bahkan tingkat diabetes pada ibu hamil memiliki lebih dari dua kali lipat dalam 6 tahun terakhir. Hal ini terutama bermasalah seperti diabetes meningkatkan risiko komplikasi selama kehamilan, serta meningkatkan potensi bahwa anak-anak dari ibu diabetes juga akan menjadi diabetes di masa depan.

Jenis lainnya
Sebagian besar kasus diabetes melitus jatuh ke dalam dua kategori etiologi luas tipe 1 atau diabetes tipe 2. Namun, banyak jenis diabetes mellitus memiliki penyebab yang diketahui lebih spesifik, dan dengan demikian jatuh ke dalam kategori yang lebih spesifik. Sebagai penelitian lebih banyak dilakukan dalam diabetes, banyak pasien yang sebelumnya didiagnosis sebagai tipe 1 atau tipe 2 diabetes akan memiliki kondisi mereka direklasifikasi.

Beberapa kasus diabetes yang disebabkan oleh reseptor jaringan tubuh tidak menanggapi insulin (bahkan ketika kadar insulin normal, yang adalah apa yang memisahkannya dari diabetes tipe 2), formulir ini sangat jarang. Mutasi genetik (autosomal atau mitokondria) dapat menyebabkan cacat pada fungsi sel beta. Aksi insulin abnormal juga mungkin telah ditentukan secara genetis dalam beberapa kasus. Setiap penyakit yang menyebabkan kerusakan yang luas untuk pankreas dapat menyebabkan diabetes (misalnya, pankreatitis kronis dan cystic fibrosis). Penyakit yang berhubungan dengan sekresi berlebihan hormon antagonis insulin dapat menyebabkan diabetes (yang biasanya diselesaikan setelah kelebihan hormon dihapus). Banyak obat mengganggu sekresi insulin dan beberapa sel pankreas racun merusak beta. Entitas ICD-10 (1992) diagnostik,''malnutrisi terkait diabetes mellitus''(MRDM atau MMDM, ICD-10 kode E12), adalah usang oleh Organisasi Kesehatan Dunia ketika taksonomi saat ini diperkenalkan pada tahun 1999.

Selasa, 18 Oktober 2011

Ayo Kenali Gejala Diabetes

Gejala klasik dari diabetes adalah poliuria dan polidipsia, sering kencing dan rasa haus yang meningkat serta asupan cairan konsekuen meningkat. Gejala dapat berkembang cukup cepat (beberapa minggu atau bulan) itu terjadi pada diabetes tipe 1, terutama pada anak. Namun, dalam gejala diabetes tipe 2 biasanya perkembangannya jauh lebih lambat dan mungkin benar-benar tidak ada.

Tipe 1 diabetes juga dapat menyebabkan penurunan berat badan yang cepat dan cukup signifikan (meskipun makan normal atau bahkan meningkat) dan kelelahan mental tereduksi. Semua gejala ini kecuali penurunan berat badan juga dapat terwujud dalam diabetes tipe 2 pada pasien yang diabetesnya tidak terkontrol, meskipun penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan mungkin dialami pada awal penyakit. Diagnosis akhir dibuat dengan mengukur konsentrasi glukosa darah.

Ketika konsentrasi glukosa dalam darah dinaikkan melebihi ambang ginjal (sekitar 10 mmol / L, meskipun hal ini dapat diubah dalam kondisi tertentu, seperti kehamilan), reabsorpsi glukosa dalam tubuli proksimal ginjal tidak lengkap, dan bagian dari glukosa tetap dalam urin (glikosuria). Hal ini meningkatkan tekanan osmotik urin dan menghambat reabsorpsi air oleh ginjal, sehingga produksi urin meningkat (poliuria) dan peningkatan kehilangan cairan. Volume darah yang hilang akan diganti osmotik dari air yang diadakan di sel-sel tubuh dan kompartemen tubuh lainnya, menyebabkan dehidrasi dan haus yang meningkat.

Tingkat tinggi dari glukosa darah yang berkepanjangan akan menyebabkan penyerapan glukosa, yang mengarah ke perubahan bentuk lensa mata, sehingga perubahan visi, kontrol glukosa berkelanjutan yang masuk biasanya mengembalikan lensa ke bentuk aslinya. Penglihatan kabur adalah keluhan umum yang mengarah ke diagnosis diabetes, tipe 1 harus selalu dicurigai dalam kasus-kasus perubahan visi cepat, sedangkan dengan tipe 2 perubahan umumnya lebih bertahap, namun tetap harus diperhatikan.

Pasien (biasanya dengan tipe 1 diabetes) dapat juga awalnya hadir dengan diabetic ketoacidosis (DKA), sebuah negara ekstrim disregulasi metabolik ditandai oleh bau aseton pada nafas pasien, ini dikenal sebagai bernapas Kussmaul, poliuria, mual; muntah dan nyeri perut, dan setiap negara banyak mengalami perubahan kesadaran atau hasrat/gairah (seperti permusuhan atau kebingungan dan kelesuan). Dalam DKA parah, dapat diikuti dengan koma, terus berkembang sampai meninggal. Diabetic ketoacidosis adalah keadaan darurat medis dan memerlukan penanganan rawat inap segera.

Selain diatas inilah yang sebenarnya jarang tetapi juga parah yaitu kemungkinan nonketotic hiperosmolar, yang lebih umum pada diabetes tipe 2 dan terutama hasil dari dehidrasi karena kehilangan air di tubuh. Seringkali, pasien telah banyak minum dalam jumlah besar tetapi minuman yang mengandung gula, Justru itulah yang akan memicu terjadinya diabetes tipe 2.

Minggu, 16 Oktober 2011

Apa Itu Penyakit Diabetes ?

Dari sekian banyak penyakit di dunia ini, Diabetes adalah salah satu penyakit yang paling banyak di derita oleh manusia, selain karena kurangnya kesadaran terhadap penyakit tersebut, diabetes juga tidak memiliki tanda-tanda yang terlihat dalam jangka waktu yang dekat, itulah sebabnya banyak dari kita yang tidak menyadarinya. Oleh karena itu untuk lebih jelasnya marilah kita simak penjelasan tentang diabetes dibawah ini :

1. Apakah sebenarnya Diabetes Melitus atau kencing manis itu ?
Diabetes adalah suatu penyakit dimana tubuh tidak dapat menghasilkan insulin (hormon pengatur gula darah) atau insulin yang dihasilkan tidak mencukupi atau insulin tidak bekerja dengan baik. Oleh karena itu akan menyebabkan gula darah meningkat saat diperiksa.

Ada 2 jenis tipe utama dalam Diabetes yaitu:

Diabetes tipe 1
Suatu keadaan dimana tubuh sudah sama sekali tidak dapat memproduksi hormon insulin. Sehingga penderita harus menggunakan suntikan insulin dalam mengatur gula darahnya. Sebagian besar penderitanya adalah anak-anak & remaja.

Diabetes tipe 2
Terjadi karena tubuh tidak memproduksi hormon insulin yang mencukupi atau karena insulin tidak dapat digunakan dengan baik (resistensi insulin). Tipe ini merupakan yang terbanyak diderita saat ini (90% lebih), sering terjadi pada mereka yang berusia lebih dari 40 tahun, gemuk dan mempunyai riwayat diabetes dalam keluarga.

2. Bagaimana mengetahui apakah kita menderita Diabetes atau tidak ?
Mereka yang menderita Diabetes sering menunjukkan gejala sebagai berikut :
· Haus dan banyak minum
· Lapar dan banyak makan
· Sering kencing
· Berat badan menurun
· Mata kabur
· Luka lama susah sembuh
· Mudah terjadi infeksi pada kulit (gatal-gatal), saluran kencing dan gusi
· Nyeri atau baal pada tangan atau kaki
· Badan terasa lemah
· Mudah mengantuk

Gejala-gejala di atas sering dijumpai, tapi pada beberapa orang sering tidak dijumpai gejala sama sekali. Untuk memastikannya, diperlukan pemeriksaaan darah di laboratorium.

3. Siapa saja yang dapat menderita Diabetes ?
Diabetes dapat terjadi pada semua orang. Tapi bagi mereka yang mempunyai riwayat keluarga Diabetes, lebih besar kemungkinannya untuk menderita Diabetes. Selain riwayat keluarga, faktor resiko lainnya adalah mereka yang mempunyai berat badan berlebih (gemuk), kolesterol tinggi (pola makan yang tidak baik), Hipertensi dan kurang aktifitas fisik. Mereka yang berusia lebih dari 40 tahun disertai dengan kegemukan akan semakin meningkatkan resiko untuk menderita diabetes.

4. Bagaimana memastikan menderita Diabetes atau tidak ?
Diagnosa Diabetes didapatkan bila ditemukan hasil pemeriksaan sebagai berikut :
· Gula darah puasa lebih besar atau sama dengan 126 mg/dl
· Gula darah sewaktu lebih besar atau sama dengan 200 mg/dl
· Gula darah 2 jam setelah pemberian larutan glukosa 75 gram (pada tes toleransi glukosa oral) memberikan hasil lebih besar atau sama dengan 200 mg/dl

Bila seseorang mempunyai gejala khas Diabetes (banyak kencing, banyak minum, banyak makan, berat badan menurun cepat dan badan lemas), maka hasil pemeriksaan sekali saja di atas sudah menentukan orang tersebut menderita diabetes.

Tapi bila gejala khas tidak ada, diperlukan dua kali pemeriksaan di atas untuk memastikan diagnosa Diabetes.

5. Apakah yang dimaksud dengan Pre Diabetes itu ?
Pre Diabetes adalah suatu keadaan dimana gula darah lebih tinggi daripada normal tapi belum cukup tinggi untuk dimasukkan dalam kategori Diabetes.

Mereka yang termasuk dalam kategori Pre Diabetes, beresiko tinggi untuk menderita Diabetes tipe 2 di kemudian hari, kecuali mereka melakukan pola hidup sehat dengan menurunkan berat badan yang berlebih dan aktif berolahraga.

Seseorang dimasukkan dalam kategori Pre Diabetes bila gula darah puasa berkisar antara 100-125 mg/dl. Gula darah 2 jam setelah pemberian larutan glukosa 75 gram (pada tes toleransi glukosa oral) berkisar antara 140-199 mg/dl

6. Bagaimana mengatasi Diabetes ?
Baik penyandang Diabetes tipe 1 maupun tipe 2, sangat penting untuk melakukan perencanaan makan dan berolahraga. Untuk Diabetes tipe 1 dan beberapa Diabetes tipe 2, diperlukan juga suntikan insulin. Untuk sebagian penyandang Diabetes tipe 2, diperlukan obat oral (obat minum) agar membantu tubuh untuk membuat insulin lebih banyak dan atau membantu membuat insulin bekerja dengan lebih baik.

Kadang penyandang Diabetes tipe 2 dapat mengontrol gula darahnya tanpa obat, hanya dengan pengaturan pola makan dan berolah raga secara teratur.

Penyandang Diabetes dianjurkan untuk kontrol teratur ke dokter. Dokter akan memberikan penjelasan tentang Diabetes dan pengendaliannya, pengaturan pola makan, olahraga, komplikasi yang dapat terjadi dan obat-obatan atau insulin yang perlu digunakan.

Pasien juga perlu melakukan pemeriksaan kadar gula darah secara rutin dan melalukan pemeriksaan darah dan air seni berkala yang meliputi HbA1c (gambaran gula darah dalam 3 bulan terakhir), mikroalbumin urin (kebocoran protein dalam air seni), profil kolesterol, fungsi ginjal, hati, dan sebagainya.

Pasien juga perlu memeriksakan matanya secara teratur minimal 1 kali dalam setahun untuk memastikan tidak adanya komplikasi Diabetes pada mata (retinopati).

7. Apa saja komplikasi Diabetes yang dapat terjadi ?
Inilah salah satu alasan yang penting mengapa pasien perlu mengontrol gula darahnya. Karena dengan kontrol gula darah yang buruk, pasien akan mengalami komplikasi jangka panjang, seperti stroke, kebutaan, penyakit jantung, gagal ginjal, penyakit pada pembuluh darah dan kerusakan syaraf sehingga dapat menyebabkan amputasi pada anggota tubuh dan pada pria dapat terjadi gangguan ereksi.

Dari penelitian selama 10 tahun yang telah selesai dilakukan, menunjukkan bahwa pasien yang menjaga gula darahnya tetap terkontrol, akan menurunkan resiko komplikasi-komplikasi tersebut hingga 50% lebih.

8. Berapakah target gula darah yang harus dicapai oleh penyandang Diabetes ?
Target dari gula darah adalah individual, jadi bisa saja satu pasien dengan pasien lain berbeda untuk target yang harus dicapai. Tapi secara umum target yang harus dicapai adalah :
· Gula darah sebelum makan : 90-130 mg/dl
· Gula darah 2 jam setelah makan : dibawah 160 mg/dl
· Gula darah sebelum tidur : 110-150 mg/dl
· Target untuk HbA1c (gambaran gula darah dalam 3 bulan terakhir) yaitu kurang dari 7%

9. Apakah Diabetes dapat disembuhkan ?
Hingga saat ini belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan Diabetes. Tapi dengan menurunkan berat badan yang berlebih, diet yang baik, dan berolahraga secara teratur, dapat membuat gula darah kembali normal. Tapi ini tidak berarti telah sembuh dari Diabetes. Karena bila pasien kembali gemuk, diet buruk dan tidak berolahraga, maka gula darah akan meningkat kembali. Jadi Diabetes tidak dapat sembuh, tapi gula darah dapat dikontrol dalam batas normal.

Itulah beberapa penjelasan tentang penyakit diabetes atau kencing manis, kesimpulan yang dapat kita ambil adalah bahwa kita diharapkan untuk dapat mengatur dan selalu mengkontrol kadar gula di dalam darah kita seperti yang sudah dijelaskan di point 9 agar kita dapat terhindar dari diabetes, karena belum ada obat yang benar-benar mampu menyembuhkan diabetes selain dari pola hidup kita sendiri., semoga bermanfaat.

Gambar : sumber

Senin, 11 April 2011

Vegetarian Mengurangi Resiko Penyakit Jantung dan Diabetes

Jika Anda seorang vegetarian maka Anda harus bersyukur karena sebuah studi menunjukkan bahwa vegetarian memiliki risiko lebih rendah menderita diabetes dan penyakit jantung.

Penelitian ini melibatkan 700 orang, dengan mengambil sampel gula darah, lemak darah, tekanan darah, lingkar pinggang, dan berat badan. Semua faktor tersebut mempengaruhi terjadinya sindrom metabolik yang dapat memicu penyakit diabetes dan jantung. Peserta yang terlibat dalam penelitian juga ditanyakan tentang pola makannya dengan menggunakan kuesioner diet, kemudian dikelompokkan menjadi vegetarian, non-vegetarian, dan semi-vegetarian. Para peneliti juga mengukur mereka Body Mass Index (BMI).

Setelah dilakukan analisa terhadap hasil penelitian didapatkan bahwa pola makan vegetarian memiliki kecenderungan yang lebih rendah menderita diabetes dan penyakit jantung. Sindrom metabolik yang merupakan faktor resiko penyakit jantung dan diabetes ditemukan pada 23 orang dari 100 orang vegetarian, 39 orang dari 100 orang non-vegetarian dan 37 orang dari 100 orang semi-Vegetarian.

Selain itu, BMI rata-rata orang vegetarian adalah 25,7 sedangkan pada orang non-vegetarian lebih tinggi 4 (empat) poin. Sebagai pengetahuan, BMI diatas 25 dianggap kelebihan berat badan, dan lebih dari 30 dianggap obesitas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa orang yang vegetarian cenderung mempunyai berat badan yang lebih ideal.

Melihat hasil penelitian ini, maka tidak ada salahnya jika kita mulai mengurangi konsumsi daging dan memperbanyak konsumsi buah dan sayuran, dan kalau sudah siap mengapa tidak mencoba untuk mengikuti pola makan vegetarian

sumber :medicmagic.net

Senin, 07 Maret 2011

Kopi Mencegah Diabetes Melitus

Kopi tidak hanya memiliki rasa yang enak dan bisa menghilangkan kantuk. Sebuah penelitian terakhir menunjukkan bahwa minuman yang terbuat dari biji kopi (Coffea arabica dan Coffea canephora) dapat mencegah diabetes tipe 2.

Para ilmuwan di University of California Los Angeles, Amerika Serikat memeriksa kadar SHBG (sex hormone-binding globulin), yaitu hormon yang mengatur aktivitas testosteron dan estrogen. SHBG juga berperan dalam meningkatkan kekebalan terhadap diabetes. Dari penelitian diketahui bahwa konsumsi kopi meningkatkan kadar SHBG

Dari penelitian terhadap 40 ribu perempuan, diketahui bahwa orang yang minum empat cangkir kopi per hari memiliki kadar SHBG lebih tinggi dari yang bukan peminum kopi. Dan peminum kopi memiliki resiko 56 persen lebih rendah untuk menmderita diabetes.